Siang ini saya bangun dengan terlambat. Kepala terasa sangat berat laiknya sopir angkot yagn penat dengan macetnya Ciputat. Sukar untuk diajak bangun dan berpikir secara normal.
Bisa jadi ini efek kepulangan saya dari Bekasi Timur semalam—dan kami yang nyasar dan salah menaiki bus sehingga membawa ke Merak—bahkan saya pun lupa menelpon kekasih saya yang minta dibangunkan pukul lima pagi, mungkin dia terlambat, bisa jadi ia telat berangkat kuliah atau tiba-tiba saja ngambek dan tidak berangkat kuliah. Ah, sudahlah.
Saya merasa kepala saya masih sangat berat. Kliyengan. Lalu dengan agak gontai saya menuju kamar mandi. Sial. Ada yang sedang mandi dan saya harus menunggu beberapa menit lagi sembari sesekali berteriak-teriak meminta kawan saya yang di dalam untuk mempercepat kegiatannya di kamar mandi. Pikiran saya meracau. Bahkan saya tidak tahu apa yang hendak saya lakukan, tapi tiba-tiba saya ingin pulang.
Pulang kemana? Bukankah kamu sudah pulang ke rumah beberapa bulan lalu? Ke Jogja? Ah, nanti dulu masih banyak yang harus kamu kerjakan di Jakarta; perihal deadline yang kian memburu dan invoice yang belum juga turun, serta dompet yang kian menipis.
Entah kenapa saya sangat ingin pulang. Entah pulang kemana saja. Ke toko buku? Ah, selepas hilangnya toko buku Gerak-gerik saya tidak punya rumah lagi untuk sekadar berteduh dan toko-toko besar seperti Gramedia atau yang lain belum mampu menjadi rumah bagi kegelisahan saya.
Lalu pulang kemana? Ke dunia maya.
Ngeblog lagi. What’s stranger life, isn’t it?
Pilihan yang bagus. Lagipula akhir-akhir ini microblogging Twitter sudah tidak terlalu menarik; snob dan terkadang ahistoris. Maka saya memang agak sedikit membatasi, kecuali ada pertandingan bola. Sebab berteriak-teriak dalam sebuah pertandingan adalah sebuah kewajiban, dan umpatan merupa sabda suci yang harus dirapal bagi mereka yang menikmati ibadah bola yang dipermainkan oleh 22 orang lelaki di lapangan.
Bukankah kamu juga punya catatan harian—dan tiap hari kamu bawa di ranselmu?
Benar itu. tapi lebih bersifat pribadi dan belum boleh dibagi. Tentu saja ada beberapa yang merupakan kilas balik terhadap banyak hal—termasuk urusan cinta. Tapi tunggu dulu, bukankah kita hidup harus punya privasi dan kesendirian yang tidak boleh diganggu gugat.
Soal kesendirian ini, beberapa hari lalu saya mendapat cerita dari seorang kawan. Ia begitu risih dengan seseorang yang begitu dekat dengannya, tapi akhir-akhir ini ia merasa sudah tidak nyaman dengan perempuan yang konon dicintainya yang sudah mulai melihat BBM dan isi inbox dalam Facebook. “Kita harus punya kesendirian yang itu tidak boleh dilihat manusia lain. Termasuk nanti misalnya kalau sudah menikah. Ada hal-hal tertentu yang harus kita jaga dan nikmati sendiri,” ujarnya suatu sore di sebuah cafe kepada saya.
Saya juga yakin, jika kita membaca catatan harian orang-orang terkenal, pasti ada hal-hal yang tidak boleh mereka cuapkan kepada semesta. Coba tanya kepada Soe Hok-gie, Ahmad Wahid dan mungkin Hellen Keller, pasti mereka tidak mau catatan harian mereka diterbitkan seutuhnya. Pasti akan ada moderasi dan penyuntingan-penyuntingan.
Walaupun toh akhirnya mereka bertiga mampu mengubah keadaan—atau memberi kesadaran. Wahib mampu menera sifat delusional manusia terhadap agama dan Tuhan lewat catatan hariannya, Gie sanggup menjadi teman anak-anak muda yang resah dan kebimbangan dalam cawan perlawanan yang ia suguhkan dan Keller menjadi piranti bagi kekejaman Nazi dan kejinya perang dunia yang dehumanistik.
***
Kawan saya sudah usai mandi, dan saya harus mengguyur kepala saya yang keriting. Semalam saya mungkin tidur jam 4an, saya masih ingat denting suara murottal yang bergema di masjid sebelah dan biasanya dimulai kisar jam 4, setelah itu saya tidak ingat lagi. Termasuk soal niat untuk membangunkan kekasih saya yang tinggal di Jogja itu pada pukul lima pagi (entah siapa yang memasukkan kembali kalimat ini di catatan ini?)
Terkecuali satu kisah tentang Ajip Rosidi dan Iwan Simatupang yang menolak menjadi kelompok Lekra ataupun generasi Manikebu dengan Humanisme Universal.
Saya ingat, karena saya bangun di samping saya ada buku Ajip Rosidi bertajuk Sastra dan Budaja (1995) terbitan Pustaka Jaya. Lamat-lamat, otak saya membayangkan pertemuan antara Ajip dan Iwan di sebuah kafe di bilangan Bandung itu; pasti pertemuan itu terjadi dengan muka saling murung dan saling berdebat soal humanisme universal dan sastra sebagai bagian dalam politik. Lalu mereka berdua memaku diri dan Ajip yang lebih memilih meninggalkan Iwan yang sedang sendu.
Tapi mereka berdua memilih untuk berkarya dan tidak menyikapi polemik yang menjadi penanda kesusasteraan ’66 itu. Bahkan menurut keterangan Ajip, testamen yang dilakukan Arief Budiman dkk itu hanyalah testamen politik, bukan kebudayaan makanya ia menolak dan Iwan yang lebih memilih bertapa dan melahirkan karya monumentalnya Ziarah dan Merahnya Merah serta beberapa karya lain dibanding harus berpolemik politik.
“Hai, katanya mau mandi! Gua udah percepat dari tadi, elu masih ngelamun!”
Saya tertegun dan memandanginya yang sudah rapi.
“Asu, cepetan lu, pinjemin duit nih. Mumpun belum ujan nih. Gua langsung mau berangkat.”
Lalu saya mengambil dompet dan merogoh beberapa lembar sepuluh ribuan. Pinjam meminjam adalah kebiasaan yang sangat dirindukan orang-orang kontrakan seperti saya dan barangkali kawan saya belum gajian.
Saya memandangi langkahnya keluar dari kontrakan. Di luar masih mendung, saya yakin sebentar lagi akan turun hujan.
Tik... tik.. tik...
Saya harus segera pulang ke rumah maya saya, sore ini.
Ciputat, 01 April 13
@DedikPriyanto
Tampilkan postingan dengan label Catatan harian si boy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan harian si boy. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 April 2013
Minggu, 27 Januari 2013
Catatan Pendek Perihal Film Catatan Harian yang Tak Berumur Pendek
Saya bukanlah generasi 80-an yang akrab dengan Film Catatan Si Boy yang menyuguhkan roman Onky Olexander, Dide Petet, Meriam Bellina dll. Walaupun, harus saya akui, saya suka segalayang berbau jadul hingga saya beberapa kali nonton film ini. Baik kala kisahnya di Indonesia maupun kala berpetualang ke Amerika.
Saya pun mengakrabi jalinan cinta antara Nuke, Boi dan juga kisah kocak Emon. Sama halnya saya menyukai film Lupus atau yang lebih klasik lagi macam Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Taxi atau segala jenis film dari Rano Karno dan Yessy Gusman.
Baiklah, saya tidak ingin berpanjang-panjang dengan kebanalan saya ihwal jadul dan sanak saudaranya itu. Saya hanya ingin berkomentar pendek perihal sebuah film yang mengingatkan saya perihal film Catatan Si Boy yang legendaris itu.
Tidak usah ditanya, kamu pasti sudah menonton film Catatan Harian Si Boy (2011) dan sekali lagi, saya selalu telat dengan film jaman sekarang. Tolong jika kamu (siapapun itu) jangan mengejek saya perihal ini.
Bagi saya, film ini cukup menarik sebagai daya antar ingatan dan menyimaknya sebagai sebuah film. Sekali lagi sebagai sebuah film. Bukan sebagai romansa menziarahi masa silam atau sekadar melankolia yang mengingatkan pada Boy. Film adalah cerita.
Jika toh itu benar, maka saya perlu mengacungkan dua jempol film ini dan akan memasukkannya dalam salah satu folder film Indonesia yang bagus dan layak diapresiasi seperti halnya film pop Indonesia kontemporer berjenre serupa macam AADC (2002), Ungu Violet (2005), Catatan Akhir Sekolah (2007) dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2011).
Gaya bertutur film ini saya rasa cukup bagus. Tidak salah, saya melihat ada Salman Aristo, Joko Anwar dan sederet nama populer lain. Apakah ini jaminan mutu?
Saya kira dengan reputasi yang ada, mereka akan membuat film dengan teknik bercerita yang tidak hanya unggul dalam bertutur, tapi kerap jenaka dan tidak terkesan sedikitpuun untuk berjumawa.
Sama halnya dengan karya sastra unggul dalam cerita semisal Tortilla Flat (John Steinbeck) The Adventure of Huckleberry Finn (Mark Twain) atau RDP (Ahmad Tohari). Karya yang bagus tidak pernah menggurui, ia akan menceritakan dirinya sendiri dan pembaca akan terhanyut di dalamnya.
Film ini berkisah soal catatan harian yang ditinggalkan Boy—jika kamu menonton filmnya, pasti tahu bahwa Boy suka mendaraskan mengisi catatan harian—dan kala Nuke sekarat, catatan harian itu bisa saja menyelematkan nyawa Nuke.
Maka Tasya, anak dari Nuke berkeinginan untuk mewujudkannya. Hingga ia bertemu tidak sengaja dengan Satrio di kantor polisi.
Mereka berdua mencari dan cerita dimulai dari sosok Boy dari jejak yang ditinggalkannya di catatan harian. Termasuk menemui Nadia dan Emon.
Yang paling kental di sini adalah kisah persahabatan, dan tentu saja cinta. Coba simak kutipan si Boy ini.
“Gua selalu percaya bahwa teman adalah anggota keluarga yang kita pilih dan keluarga adalah nasib yang harus kita terima.”
Saya kira dengan kutipan ini, jelas bahwa cerita dalam film ini sebenarnya bukanlah persoalan cinta semata.
Lebih dari itu adalah jalinan perkawanan yang terkadang subtil, penuh guyon dan terkadang nyinyir.
Lagi-lagi perlu saya terakan, film ini bagus dalam segi penceritaan dan sekali lagi mengingatkan saya—dan bisa jadi kamu juga—bahwa kita harus keluar dari zona nyaman dan sebisa mungkin mempercayai persahabatan laiknya kita mempercaya diri sendiri.
Sekali lagi dan ini yang penting: jangan pernah meninggalkan catatan harian kepada kekasih kamu, jika tidak mau 20 tahun mendatang ada yang menyelidiki dan mencari tahu siapa jati diri lawasmu. Salut!
Ciputat 27/1/13
@DedikPriyanto
Saya pun mengakrabi jalinan cinta antara Nuke, Boi dan juga kisah kocak Emon. Sama halnya saya menyukai film Lupus atau yang lebih klasik lagi macam Gita Cinta dari SMA, Puspa Indah Taman Hati, Taxi atau segala jenis film dari Rano Karno dan Yessy Gusman.
Baiklah, saya tidak ingin berpanjang-panjang dengan kebanalan saya ihwal jadul dan sanak saudaranya itu. Saya hanya ingin berkomentar pendek perihal sebuah film yang mengingatkan saya perihal film Catatan Si Boy yang legendaris itu.
Tidak usah ditanya, kamu pasti sudah menonton film Catatan Harian Si Boy (2011) dan sekali lagi, saya selalu telat dengan film jaman sekarang. Tolong jika kamu (siapapun itu) jangan mengejek saya perihal ini.
Bagi saya, film ini cukup menarik sebagai daya antar ingatan dan menyimaknya sebagai sebuah film. Sekali lagi sebagai sebuah film. Bukan sebagai romansa menziarahi masa silam atau sekadar melankolia yang mengingatkan pada Boy. Film adalah cerita.
Jika toh itu benar, maka saya perlu mengacungkan dua jempol film ini dan akan memasukkannya dalam salah satu folder film Indonesia yang bagus dan layak diapresiasi seperti halnya film pop Indonesia kontemporer berjenre serupa macam AADC (2002), Ungu Violet (2005), Catatan Akhir Sekolah (2007) dan 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2011).
Gaya bertutur film ini saya rasa cukup bagus. Tidak salah, saya melihat ada Salman Aristo, Joko Anwar dan sederet nama populer lain. Apakah ini jaminan mutu?
Saya kira dengan reputasi yang ada, mereka akan membuat film dengan teknik bercerita yang tidak hanya unggul dalam bertutur, tapi kerap jenaka dan tidak terkesan sedikitpuun untuk berjumawa.
Sama halnya dengan karya sastra unggul dalam cerita semisal Tortilla Flat (John Steinbeck) The Adventure of Huckleberry Finn (Mark Twain) atau RDP (Ahmad Tohari). Karya yang bagus tidak pernah menggurui, ia akan menceritakan dirinya sendiri dan pembaca akan terhanyut di dalamnya.
Film ini berkisah soal catatan harian yang ditinggalkan Boy—jika kamu menonton filmnya, pasti tahu bahwa Boy suka mendaraskan mengisi catatan harian—dan kala Nuke sekarat, catatan harian itu bisa saja menyelematkan nyawa Nuke. Maka Tasya, anak dari Nuke berkeinginan untuk mewujudkannya. Hingga ia bertemu tidak sengaja dengan Satrio di kantor polisi.
Mereka berdua mencari dan cerita dimulai dari sosok Boy dari jejak yang ditinggalkannya di catatan harian. Termasuk menemui Nadia dan Emon.
Yang paling kental di sini adalah kisah persahabatan, dan tentu saja cinta. Coba simak kutipan si Boy ini.
“Gua selalu percaya bahwa teman adalah anggota keluarga yang kita pilih dan keluarga adalah nasib yang harus kita terima.”
Saya kira dengan kutipan ini, jelas bahwa cerita dalam film ini sebenarnya bukanlah persoalan cinta semata.
Lebih dari itu adalah jalinan perkawanan yang terkadang subtil, penuh guyon dan terkadang nyinyir.
Lagi-lagi perlu saya terakan, film ini bagus dalam segi penceritaan dan sekali lagi mengingatkan saya—dan bisa jadi kamu juga—bahwa kita harus keluar dari zona nyaman dan sebisa mungkin mempercayai persahabatan laiknya kita mempercaya diri sendiri.
Sekali lagi dan ini yang penting: jangan pernah meninggalkan catatan harian kepada kekasih kamu, jika tidak mau 20 tahun mendatang ada yang menyelidiki dan mencari tahu siapa jati diri lawasmu. Salut!
Ciputat 27/1/13
@DedikPriyanto
Label:
boy,
Catatan harian si boy,
Cinta,
emon,
review film
Langganan:
Postingan (Atom)
