Tendang, Terjang, Hadang

Jumat, 18 Januari 2013

Persoalan Tidur



Siang ini saya terbangun dengan suasana kurang menyenangkan; badan yang lemas, kaki yang lunglai dan serak bunyi klakson yang terus menyentakkan kuping.

Saya tengok jam di ponsel, saya terkejut. Hampir 9 jam saya tertidur dan tidak sedikitpun mengingat apa yang terjadi semalam.

Persoalan tidur ini selalu menghantui saya sejak beberapa bulan terakhir. Biasanya, saya mendaraskan tidur selama 4 atau 5 jam sehari. Itupun biasanya tidak terjadi dengan simultan. Artinya, saya tidur di tempat yang sama dengan durasi waktu sama pula. Bahkan tak jarang baru tertidur selepas 2 hari kemudian.

Tak jarang saya harus berpindah dari satu  satu tempat ke tempat yang lain, dari satu lantai ke lantai yang lain. Tempat favorit saya merebahkan diri adalah kamar depan,  dekat dengan perpustakaan pribadi yang saya miliki. Tapi lagi-lagi dalam seminggu terjadi tiga atau empat kali saja.

Persoalan 5 jam ini sebenarnya saya peroleh dari seorang dosen yang juga alumnus forum studi. Kata dia waktu itu kepada saya, “Kalau kamu tidur dari 6 jam. Itu sama saja dengan tidak adil karena membiarkan tubuh terlalu lama istirahat. Bagaimana mau berlaku adil jika persoalan tidur saja kamu masih belum mampu mengatasinya.”

Ingatan saya terjerat pada kiai-kiai di Pesantren. Seperti halnya saya, kamu pasti juga kerap bertanya, kapan para kiai ini tidur dan beristirahat.

Bayangkan, dari pagi sampai dini hari mereka harus mengajar santri. Tak jarang harus pergi ke daerah lain dan jika subuh tiba sudah tampak kembali mengajar para santri.

Ah, saya bukan seorang kiai. Barangkali jika kamu tahu, sila kasih tahu dan saya akan berterima kasih. Tapi bukan jawaban yang mistis atau rahasia Tuhan yang menjaga manusia-manusia yang mengabdikan diri dalam ritus agama.

Selebihnya, saya ingin jawaban yang sederhana.

Ada lagi persoalan tidur saya yang kerap berbeda dengan orang kebanyakan. Yaitu soal tidur malam. Entah kapan saya terakhir kali menggunakan malam hari untuk tidur. Saya lupa. Barangkali 2 bulan yang lalu atau 4 bulan yang lalu atau lebih dari itu.

Coba kamu bayangkan jika tiap hari harus terbangun dengan perasaan cemas, kalut dan takut kalau hari ini bakal mengalami celaka dan hampir tiap hari kamu alami tanpa pernah dihindari. Padahal kamu pun tidak pernah mengerti, apa gerangan yang membuatu begitu takut.

Konon Pram selalu ingin tidur dengan puas selepas ia terbebas dari Pulau Buru. Sastrawan yang beberapa kali dinominasikan nobel ini kerap berpindah dari lantai ke atas—tempatnya menulis—dengan lantai bawah atau ruang tamu. Itu hampir terjadi tiap hari.

Beberapa kali, katanya, ia tak sanggup untuk terlelap. Entah apa yang ia pikirkan. Namun hidup dan realitas dunia mampi memang beda-beda tipis. Barangkali Pram mengamini itu.

Toh hidupnya dihabiskan untuk melawan, bukan? Dan mereka yang berkecimpung dengan dunia seperti ini tak akan sanggup terlelap jika bayangan soal kekejaman yang merenggut tidur yang nyenyak dari orang-orang.

Ah, saya terlalu serius memandang hidup.
Mungkin kamu juga masih ingat kisah Syahrazad. Ya, raja itu tidak bisa tidur karena terhantui masa lalu. Bahkan ia selalu membunuh mereka yang diajak untuk menemaninya kala malam tiba dan jika pagi ia akan serta merta membunuhnya.

Hingga suatu hari ia dikisahkan rantaian cerita-cerita dari ragam dunia dan membuatnya terlelap dan menghilangkan trauma masa lalu. Itulah mula kisah 1001 malam yang tersohor itu.

Kembali soal tidur, pasti catatan ini akan panjang jika saya meneruskan pelbagai cerita soal tidur. Untuk itu, satu hal yang harus saya dan barangkali kamu mengerti adalah tidur bukanlah ritus yang harus tiap hari dijalani. Kadang ia merupa keheningan yang meminta untuk ditemani. Kira-kira begitu.

18 Jan '13
@DedikPriyanto

Kamis, 17 Januari 2013

Banjir dan Perbincangan Kecil di Warkop

Jangan-jangan banjir adalah tradisi? sumber gambar: mycartoonthing

Hujan yang tak berhenti sedari malam memaksa saya untuk menunda kepulangan dari markas. Lalu dengan gontai saya menuju bilik kamar untuk sejenak melepas kantuk kala siang sudah tepat berada di tengah. Saya baru terbangun tiga jam kemudian. Mudah-mudahan sudah tidak hujan, pikir saya.

Ternyata saya salah. Hujan masih terus saja dan baru benar-benar berhenti ketika matahari sudah mulai mengundurkan diri.

Tiba-tiba ponsel saya berderit. Ada pesan masuk,“Bung dmana?” bunyinya.

Saya lupa ada janji sore ini. Maka saya pun membalas sembari meminta maaf dan mengajaknya untuk ngopi malam ini di warung terdekat.

Dua jam kemudian saya tiba di lokasi dan kawan saya tadi sudah berada di tempat, lengkap dengan semangkuk mie instan yang sudah ia pesan sebelumnya.

Laiknya perbincangan sederhana, ada pelbagai ragam yang kami percakapkan. Ah, kamu tentu bisa mengetahui apa yang kami bicarakan. Jika tidak, pasti kamu belum pernah ngopi di warkop.

Warkop itu berada di Legoso, Ciputat. Selain kami, ada beberapa orang yang sudah berada di sana. Tentu saja kami tidak saling mengenal. Tapi saya masih ingat lekuk wajah dan cara mereka bercakap.

Kebetulan kami mendengar mereka sedang membicarakan banjir.

“Sudah biasa banjir mah. Wong tiap tahun nggak berubah,” ujar salah seorang dengan kumis tipis. Ia mengenakan lengan pendek bermotif hijau.

“Nah, elu mah enak nggak ke pusat. Nah gua, kagak bisa narik, nih,” timpal yang lain.

“Yaelah. Elu tahu sendiri. Kayak baru kebanjiran sekarang aja lu. Santai aja napa.”

“Jokowi mana nih? Yah,” tanya seorang.

“Tuh ‘kan. Gua bilang juga ape. Kagak usah dipikirin yang itu. Kalau sudah berkuasa mah begitu. Sejak jaman engkong gua juga sudah banjir.”

Sebenarnya saya tak sanggup terus menahan diri. Saya ingin turut nimbrung. Tapi urung saya lakukan. Menyimak orang-orang ini membicarakan banjir tampaknya lebih menarik, pikirku, dan kawan saya ternyata juga hanya diam sembari sesekali menyeruput kopinya.

“Setahu gua, sejak dulu pemerintahan kita emang kagak benar ngurusin banjir. Itu yang di sekitaran sungai aja kagak diurusin. Lah, gimana mau nyelesaiin banjir,” tukas seorang sembari mendengus.

“Makanya, elu pada kudu nerima. Hidup lu aja kagak benar, napah ngurusin Jokowi.”

Mereka tertawa.

“Lu kira gampang apa ngurusin jakarta."

“Kaya elu masih hidup di Jakarta aja. Ini mah pinggiran.”

“Ya, kita tertolong sih di pinggir. Encing gua yang di Kampung Melayu aja ke tempat gua buat ngungsi. Makanya lu pada harus bersyukur.“

“Nah. Itu bersyukur di Ciputat. Yah, banjir mah kagak parah amat.”

“Tapi kasihan orang-orang di sono. Udah kebanjiran tiap tahun, eh masih aja hidupnye kagak berubah. Masih susah..”

“Kayak elu nggak susah aja?”

Tawa kembali berderai.

“Ya, minimal gua nggak ngebuat Jokowi tambah ribet ngurusin gua. Cukup dah dia ngurusin orang-orang yang kebanjiran sono.”

Lagi-lagi saya tak kuasa untuk menahan diri. Saya pun sempat melontarkan pertanyaan kecil,”Lah bapak masih yakin dengan Jokowi?”

Mereka saling pandang. Sejurus kemudian ada senyum dalam bibir mereka.

“Ya, mau gimana lagi, Mas. Cuma berharap,” jawab salah seorang.

“Ha... ha... Semoga aja sih, Mas. Mending sih, gua pernah ketemu dia langsung. Baik kayaknya dah. ”

“Moga aja nggak hanya ngarep. Masih baru kok, moga aja tahun depan nggak banjir.”

“Alah, kagak mungkin. Pasti banjir.”

Tawa kembali berderai. Saya dan kawan saya hanya tersenyum. Lalu kami ijin untuk mengundurkan diri terlebih dahulu. Mereka masih bercakap-bercakap.

Tatkala menulis catatan ini. Hujan kembali datang. Saya menyaksikannya jatuh dengan bergegas melalui jendela.

Ya, saya seperti mereka. Hanya harapan yang mampu menjaga nalar kami  untuk senantiasa setia pada Jakarta. Lengkap dengan banjir dan segala hiruk pikuknya.  Toh kita hidup dengan harapan, bukan? Karena ia adalah nyala dalam memandang masa depan.

Pinggiran Jakarta, 17 Jan ‘12
@DedikPriyanto

Selasa, 15 Januari 2013

#15an



“Masa lalu selalu carut dan tidak menarik, masa depan bukan hal yang penting, dan malam yang indah tak ada duanya akan terlupakan. Lalu buat apa hidup?” (Anton Chekov)

Saya selalu memperlakukan tanggal dalam tiap bulan tak ubahnya seperti aktivitas makan. Tak perlu diingat tanggal berapa terakhir kali Anda makan enak atau bergizi.

Laiknya ritus yang  harus dijalani,  biarkan saja hari-hari itu berjalan sebagaimana adanya. Bahkan saya cenderung apatis menyaksikan orang-orang memberikan tanda warna merah pada almanak yang bisu itu, selalu tak memberi jawaban pasti.

Barangkali karena saya terbiasa dengan catatan harian sejak dulu. Catatan-catatan itu terkadang saya publikasikan kepada rekan sejawat, tapi kebanyakan saya buat untuk koleksi pribadi.

Tentu saja di dalamya ada tanggal yang memberi jejak permenungan. Sesekali memang saya tengok. Namun tetap saja sukar untuk diingat. Toh, tanggal lahir saya sendiri sukar diingat dan masih membingungkan—tolong siapa yang curhat di sini.

Selebihnya, tak ada yang saya ingat secara pasti dan senantiasa berceloteh di alam bawah sadar saya. Mungkin juga karena hari-hari saya memang tidak terlalu menyenangkan, acapkali tak patut diceriterakan. Namun seperti halnya makan, walau enggan, saya harus menjalani sebagai permisalan yang terus berulang seperti halnya Orcar Wilde yang menera kisah patung emas dan burung cericit yang tersohor itu.

Jika tidak, maka dipastikan perut akan melilit dan sesekali berontak dengan teriakan-teriakan. Lalu akan ada yang berorasi memakai toa. Sejurus kemudian, Anda mulai berkompromi, bernegosiasi. Maka datanglah  Tapi saya tidak mungkin untuk melupakan sebuah hari, tepat di pertengahan bulan, dan senantiasa datang tiap bulan.

Tanggal itu selalu menyapa dengan riak kecil dari percakapan-percakapan sederhana pernah saya lakukan beberapa bulan lalu.  Juga perihal kenangan akan hidup yang kian rudin dan ringkih, diringi permenungan paling purba manusia; Cinta, katamu.

Bolehkah saya memberi hastag #15an untuk hari yang senantiasa berceloteh di alam bawah sadar saya?

Kala menulis catatan ini, saya menyaksikan hujan turun dengan bergegas.

Ingatan saya terjebak pada kenangan lawas itu, kala rintik yang senantiasa turun dengan lamban, jalanan yang berasa begitu lebar, juga tempo yang tiba-tiba saja berhenti berdetak di kota itu. Kota yang selalu menyimpan rindunya tersendiri.

Peristiwa yang memburamkan nalarku. Seakan puisi tak lagi menjadi sunyi, musik tak mampu memberi arti, dan doa hanya sebagai mantra tak bertuan.

Lalu mendung menjadi payung,  malam berhenti berkelakar dan dingin tak lagi bersahabat. Itu terjadi karena saya merasakan malam yang penuh arti, bersama kamu, pada tangah bulan itu.

Adakah yang lebih subtil dari tatapan sendu dari seseorang yang  bayangnya pun tak pernah kau imajikan! Kemudian ia datang membawa bangku di sebuah taman dan membuat tergerak untuk duduk dan menikmati  hari-hari di sana.

Kira-kira tiga jam yang lalu saya menamatkan cerita klasik Rusia dari  Anton Chekov (1860-1904) perihal Olga Ivanovna, Osip Stepanitch Dyamov dan pelukis tenar Ryabovsky. Kisah ketiga warga Moskow ini terjalin sebab ketidaksadaran ihwal cinta yang kian berpilin dan tidak saling mengetahui.

Dyamov tidak tahu bahwa Ryabovsky menaruh hati pada Olga. Lalu mereka bertemu kala Dyamov yang berprofesi dokter itu tercebur pada dunia pengetahuan yang sukar ditinggalkannya.

Seperti halnya ia cinta pada pengetahuan, sebesar itu juga hatinya tertambat Olga yang dinikahinya.
Olga jatuh cinta pada kesederhanaan Dyamov. Sedang ia menaruh hati pada sisi seni yang dimiliki Ryabovsky.

Lambat laun, Olga menyadari, cinta tak ubahnya misteri yang butuh pemecahan. Kala ia berjalan bersama Ryabovsky,  ada sendu di balik tawa dari segelas bir yang kerap mereka nikmati di depan tungku api yang menghangatkan kala dingin terus menerpa Rusia.

Bahagia yang sederhana kadang tidak dicapai saat Olga memenuhi otak dengan pilihan rasional yang seakan nyata itu. Sedangkan ia merasakan, jauh  di luar ada seseorang yang mendoakan diam-diam, merindukan dengan sederhana dan mencintai dengan sederhana pula. Itulah Dyamov kepada Olga.

Cinta yang sederhana akan selalu nyata walaupun jarak, waktu dan cara pandang kerap berbeda.

Kisah ini, membuat saya bermenung, dimanakah posisi saya yang memandang cinta bukan sekadar perasaan yang dimiliki dua manusia, ataukah membiarkannya terus bergegas dan menidurkan nyali, serta sesekali menjenguknya seperti anak kecil yang merindukan masa kanaknya.

Entahlah. Yang jelas, hari ini adalah tengah bulan, #15an. Dan saya tidak perlu melobangi almanak. Kamu pasti tahu, sudah ada yang memberikan tanda merah di hati saya.

Saya ingat sajak ini sahabat dan abang saya Ahmad Makki  ‘puisi jam tiga pagi’.

“Cinta itu merah, katamu."
“Lihatlah, apa yang ia tinggalkan
di dada kita.”

Saya tidak pernah melupakan itu. Saya selalu percaya, cinta tidak selalu bermuara. Kadang kita masih senantiasa mengayuh sungai dan entah kapan akan tiba. Atau seperti Santiago yang ternyata mendapatkan emas di tanahnya sendiri, walau ia pergi sejauh-sejauhnya.

Bukankah cinta adalah pencarian yang diceritakan Paul Coelho? Dan kerap tidak perlu kita cari dan datang dengan sendirinya.  Ia tahu jalannya sendiri, bukan?

Ciputat, 15 Jan '13
@DedikPriyanto


Rabu, 02 Januari 2013

Ini Januari. Selamat Tahun Baru, Manisku.


Kepada T

Beberapa jam lalu saya masih mendengar lengkingan terompet mengalun bersahutan, ledakan-ledakan yang kerap menyilaukan, juga rangkaian ucapan selamat tahun baru yang merupa serdadu-serdadu merapalkan ujaran komandan untuk berseru; menerjang, hadang! Tak pula menyigi segala perbedaan dalam satu kalimat puitis: semoga tahun depan kami akan lebih baik lagi, dan lagi.

Tak ada yang istimewa di akhir bulan itu, Desember.

Lalu saya menyaksikan beberapa orang meraih tangan kekasihnya, bergenggaman tangan dengan erat dan tertawa riang sembari mendongakkan kepala ke langit. Ada juga yang merangsek ke halaman belakang, saya pastikan bahwa orang ini tidak akan menemui siapa-siapa.

Toh tidak mungkin ia bertemu dengan orang di sana,  tapi saya yakin dia akan menyalakan ponsel dan sejurus kemudian ada riang di raut muka kawan saya ini laiknya anak kecil yang riang tak terpermanai kala menyaksikan para jagoan mereka menggulingkan para monster yang bisa saja menghancurkan dunia rekaan yang telah dibangun dengan riang itu.

Selebihnya, tak ada yang berbeda di akhir bulan ini.

Saya pernah mengalami ini sejak bertahun-tahun lalu. Selalu sama, seperti perulangan-perulangan yang tidak perlu untuk terus dilakukan, atau jangan-jangan saya yang memang tidak pernah bisa menikmati hari ini, seperti kata kawan saya, Alhafiz K, terlalu sering dihinggapi masa lalu dan menyilangkan pada narasi kesadaran saya yang kerap terbata-terbata mengeja segalanya.

Saya menyusuri kepingan yang berserak di akhir bulan itu, saya sendiri belum tahu apa yang hendak saya temukan. Jika toh ada yang bisa membantu, mari sini, saya pastikan kamu akan berjalan-berjalan pada bilur yang mungkin tidak pernah bermuara, atau jembatan yang tiba-tiba saja akan roboh dan sejenak kemudian ada sekoci kecil yang mengantarkan kamu menemui saya menuju ujung yang tak pernah ada itu.

Lamat-lamat saya mendengar petikan puisi dari Soe, di film yang saya pernah membuatku begitu kecewa pada imajinasi yang pernah saya bangun itu, Gie.

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza
Tapi aku ingin menghabiskan waktuku di sisimu, Manisku.
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal, dan lucu,
atau tentang bunga-bunga yang  manis
di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra, tapi aku ingin mati di sisimu, Manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu
mari sini, sayangku
kalian yang pernah baik dan simpati padaku
tegaklah ke langit luas atau langit yang 
mendung
... kita tak pernah menanamkan apa-apa,
Kita tak akan pernah kehilangan apa-apa.

Untukmu,

Tak ada kalimat lain selain maaf karena tidak bisa menemani di pergantian tahun yang mungkin kamu tunggu itu.Entah kenapa pilihan rasionalku masih saja berkuasa, senantiasa bermain di akhir bulan ini, seharusnya saya dan kamu menyusuri jalanan di kota itu dengan riang, sesekali saling mengejek dan kamu menggenggam erat tanganku sembari menyaksikan langit malam yang syahdu itu.

Saya akan selalu merindukanmu sejak tatapan sendu di malam itu, pada pertemuan yang tidak pernah bisa saya definisikan. Hanya beberapa kali saya coba untuk tafsirkan dalam bentuk catatan-cataan sederhana. Selebihnya, saya akan selalu mencintaimu dan entah kapan bisa berhenti untuk merindukan cintamu—entah siapa yang memasukkan kalimat ini di catatanku.



Sekali lagi, saya minta maaf seraya membisikkan kalimat rindu di akhir bulan yang tidak bisa saya tunaikan itu.

“Lihatlah catatan sederhana ini sebagai pengganti jarak yang memasung rindu kita untuk saling bertemu. Bukankah konon  Adam dan Hawa juga dipisahkan oleh waktu dan juga jarak lebih dari sepertiga dunia itu dan mereka akhirnya bertemu?

Entahlah, tapi saya ingin selalu merindukanmu  dengan sederhana, seperti ponsel yang selalu rindu akan sinyal di daerah terpencil itu.”



Bulan telah berganti, Januari telah tiba. Mau tidak mau manusia-manusia  harus melewati. Pasti akan ada tantangan, harapan-harapan, serta kenangan-kenangan yang entah tiba ataupun malah bepergian begitu saja.

Mungkin kamu telah menyiapkan resolusi atau apalah itu kalimat yang telah kamu persiapkan di malam tahun baru, juga tujuan-tujuan yang akan bakal kamu capai di tahun yang baru nanti.

Selamat tahun baru, Manisku.

Ciputat, 1 Januari 2013
@DedikPriyanto


Kamis, 27 Desember 2012

Sekali Lagi Tentang #10Hourstogetyouback

Untuk sahabat saya, Farabi dan Shofi
Abi dan Shofi saat di New York. Foti diambil di linimasa #10hourstogetyouback
Saya barangkali akan mengalami pagi seperti biasa; menyeduh air dan menjerangkannya pada gelas berisi teh hangat tanpa gula,  menyimak dan menerjemahkan pelbagai berita bola dari manca dan mengumpulkan kantuk yang entah kapan meninggalkan saya jika malam tiba.

Namun pagi ini ada sebuah twit dari @shofiawanis: Yang penting kamu di sini sekarang :’). Sontak saya terkaget. Lalu saya mention mahasiswi Singapura ini: @DedikPriyanto: @shofiawanis abi di Jogja jeng? Ia menjawab sederhana: @Shofiawanis: @DedikPriyanto: Iya :’)

Tiba-tiba ingatan saya tergerak pada hestek #10hourstogetyouback. Sebuah narasi epik yang membuat manusia-manusia mengernyitkan dahi, lalu terpekur sejenak dan sejurus kemudian tertawa nyinyir.

Saya sendiri akan bersikap serupa jika tepat di tanggal itu, 23 Oktober 2012, mendapatkan informasi perihal kegaduhan yang kala itu saya anggap keisengan anak-anak kelas menengah alay Jakarta yang kurang kerjaan, atau celoteh para selebtwit yang tak jelas gunanya di linimasa yang begitu riuh itu.

Sekali lagi saya salah. Kira-kira satu atau dua minggu setelah tanggal itu saya bertemu dengan Farabi di kampus. Di sebuah siang yang ranum. Ketika menyimak toga yang berkeliaran di kampus, jepret kamera yang entah lebih banyak mana dari orang yang sedang bernafas kala itu, dan tentu saja pertanyaan-pertanyaan klise soal wisuda yang saya anggap angin lalu. Ah, tapi saya tidak ingin membahas itu.

Saya bertemu dengan Abi setelah sekian lama tidak berjumpa dengan kawanku satu itu. Semenjak saya lebih suka di luar kampus dan hanya sesekali saja nongkrong di kampus 1. Abi bergelut dengan komunitas jurnalismenya, Djuanda, sedangkan saya sesekali demo dan menjadi buruh sebuah media.

Kami pernah begitu dekat, tapi kami merasa seringkali jauh. Saya kangen menghinanya tubuhnya yang ringkih itu. Yakinlah, andaikata Abi dijatuhkan dari helicopter, anda tidak perlu risau. Tubuhnya yang ringan akan terbang bersama angin.

Abi begitu berbeda dengan saya. Barangkali ia sadar itu.  Mulai dari persoalan ideologi, cara pandang terhadap persoalan dan tentu saja pergaulan.

Saya dan Abi hanya bisa disatukan oleh kecintaan kami pada dua bidang, Literasi dan Jurnalisme. Bahkan beberapa kali saya menulis buku sastra bersamanya. Saling memaki malam hari jika deadline kian memburu, sedang penerbit yang meminta seperti ibu kosan yang menteror jika kami telat bayar bulanan. Saya yakin Abi tidak pernah mengalami  ini.

Laiknya dua karib yang tiba-tiba bertemu tanpa diduga, maka di siang itu hinaan terlontar dari kedua mulut kami seperti tukang kredit yang entah berapa busa yang ia hasilkan untuk meyakinkan calon pembeli. Juga pertanyaan-pertanyaan soal Buku dan cinta.

Jangan lagi anda tambahkan dengan pesta. Saya tidak mau glorifikasi masa lalu seperti para pendukung Liverpool yang selalu membincang  masa sejarah tanpa tahu nikmatnya hari ini, atau mahasiswa-mahasiswa yang begitu terperangah denggan generasi '66 dan '98 yang konon reformis dan revolusioner itu.

Saya selalu menganggap urusan hati sebagai persoalan paling privat manusia setelah agama. Mereka selalu tahu jalannya masing-masing. Tak perlu  dipaksa ataupun dilarang. Keduanya selalu selalu bergerak dan tak jarang membutuhkan logika untuk penjelasannya.

Seperti halnya agama, selalu ada jalan bagi hati yang dipilih  untuk mengenal cinta.

Saya mengalami itu dan telah memulainya pada bulan Oktober lalu, tepat tengah bulan di Jogja, selepas bertemu hanya dua kali pandang mata dan tanpa banyak bicara.

Cinta bagi orang yang lupa kapan terakhir melihat senyum indah dari seseorang tentunya akan membuatnya seperti anak kecil yang mendengar bisikan kedatangan jagoan imajinatifnya yang datang ke kampung sebelah. Entah itu benar atau tidak, tapi ia akan begitu yakin dah mengejarnya, berlarian tanpa memakai alas kaki, dan tentu saja siap dianggap gila.

Lalu lewat #10hourstogetyouback yang begitu sedikit diceritakan Abi di siang itu, saya gelisah menelusuri jagat linimaya perihal mereka.

Saya tidak habis pikir, bagaimana seorang bisa mencintai sebegitu besarnya dan meminta maaf dalam rentang 10 jam dari Singapura ke Jakarta? Astagfirullah—siapa pula yang memasukkan kalimat ini di catatanku.

Saya  memang melakukan hal gila ketika Jogja waktu itu, untuk menemui seseorang yang sebelumnya tidak pernah saya kenal, dan hati saya begitu yakin akan menemukan cinta di sana. Namun saya akan berpikir seribu kali jika harus mengejar cinta seperti yang dilakukan Shofi untuk Abi; melintasi dua negara, dan menantang semesta untuk merestui perjalanan  selama 10 jam yang melelahkan itu!

barangkal rumput itu kelak menjadi saksi, cinta memang selalu punya jalannya sendiri.


Saya begitu sentimentil jika berbicara cinta. Kita boleh berdebat apapun tentang agama, ideologi dan sepakbola, tetapi untuk urusan hati, lebih baik anda sendiri yang menafsirkannya. Bukankah Shofi telah membuktikan bahwa logika kerap salah menilai cinta?

Pagi ini Abi menginjakkan kaki di Jogja dan menemui Shofi. Entah kenapa intuisi saya berkata bahwa ini pertemuan pertama mereka setelah tanggal 23 Oktober itu di Jakarta.

Jarak memang menjadi masalah bagi mereka-mereka yang tidak percaya akan kekuatan cinta, namun jika kamu yakin bahwa  muasal masa depan itu terbuat dari hati manusia yang jauh, yakinlah tidak ada jarak ataupun masa. Konon Adam dan Hawa dipisahkan di setengah dunia dan cinta mereka tetap bertemu, bukan?

Mereka bertemu di Jogja? kenapa ada Jogja di antara kita!

Saya tidak tahu dari apa kota ini terbuat. Barangkali dari serpih rindu mereka-mereka yang pernah datang,  atau puisi para penyair yang lupa dibawanya kembali ke kampung halaman, atau jangan-jangan ada magnet yang membuat kenangan-kenangan di sana tidak bisa dibawa pulang?

Pastinya, saat menciptakan kota itu Tuhan sedang tertawa menyaksikan begitu banyak rindu dan kenangan yang berserak di sana. Bahkan saya acapkali curiga, jangan-jangan Tuhan sedang merindukan seseorang atau sesuatu kala menciptakan Jogja. Entahlah...

Buat kalian berdua, cinta selalu menemukan jalannya sendiri. Namun saat ini ia bersembunyi dan menunggu kalian menjemputnya lalu berjalan beriringan menuju tujuan yang kalian inginkan. Kira-kira begitu.

Ciputat, 28/12
@DedikPriyanto

Baca juga :




Selasa, 18 Desember 2012

Catatan


“Sepakbola adalah penenang bagi mereka yang membangkang. Sebagai candu bagi hidup yang kian memburu. Seperti lagu yang tak butuh kata setuju."

Selasa, 04 Desember 2012

Saya Meninggalkan November



Saya meninggalkan November dengan perasaan tak menentu, kalut, cemas dan sedikit muram. Ada jejak yang membuat saya seperti seorang anak kecil yang tiba-tiba saja menyaksikan jagoannya mati dikalahkan para monster dalam serial Power Rangers, atau seorang supporter yang tertipu tiket bodong dan membuatnya gagal masuk ke stadion.

Beruntung ada hujan yang terus datang tanpa pernah diundang sebelumnya, beruntung pula saya mendapatkan dekapan hangat jemari mungil seorang perempuan  pada sebuah malam. Saya memang beruntung. Keberuntungan memang tidak perlu dicari, namun percayalah tidak ada yang lebih beruntung selain meninggalkan November tanpa rutukan.

Harusnya saya bisa menikmati hujan pada bulan ini. Hujan yang tiap tetesnya menyimpan seribu puisi yang tidak bisa dimengerti. Apabila salah satu dari anda menemukan seseorang dengan pakaian lusuh, celana compang-camping, rambut yang tak terurus dan sedang berdiri tak jauh  dari dekat anda, maka sesekali anda harus menegurnya.

Takutnya jika lelaki itu tiba-tiba menyeberang jalanan dan seketika itu pula ada mobil yang menabrak, maka bisa dipastikan anda sebagai tertuduh karena berada di dekatnya.

Kalau toh tidak ditangkap kepolisian, maka saya bisa pastikan nama anda diburu oleh para pewarta berita yang menginginkan laporan ekslusif tentang narasi “matinya seorang muda potensial, penulis kambuhan, dan mahasiswa lawas akibat kelalaian seseorang di pinggir jalan.”

Ah, itu cuma berandai. Sedikit bermisal-misal pun tak apa asal tidak merugikan nasab dan tentu saja kantong anda sebagai pembaca.  Dan harusnya pada November yang diberkahi hujan—lengkap dengan—cerita asmara harusnya menjadi perisitiwa yang subtil, agak epik, dan berharap bernas. Sedikit melankolis, tentu saja dibolehkan.

Saya meninggalkan November dengan nada cemas, seperti lengkingan Idris Sardi yang begitu purna pada lagu Juwita Malam. Kadang kala suram yang begitu tidak enak untuk dikatakan laiknya seorang pembeli di sebuah kafe yang kecewa pada makananan yang tidak sesuai antara nama dan rasa. Tak jarang, merupa rintik air yang tidak terdengar walau tak ada hujan yang menyeberang.

November pula yang membuat saya mengerti arti kematian; kehidupan baru yang mungkin akan dipenuhi senyum. Pada seorang renta yang telah beberapa purnama lagi akan menginjak seratus tahun kesunyian. Bertemu dengan kefanaan selepas bosan pada dunia.

Saya rindu sosok ini, dan kematian yang diidamkan dengan senyum mengembang para pelayat. Juga pada doa-doa yang didaraskan oleh manusia-manusia yang datang sepanjang malam. Lalu sejurus mantra yang acap dibunyikan oleh ratusan pendatang.

Ada juga pada November, yang mengisahkan perjuangan pada seorang guru yang kepadanya saya mencari arti pengabdian. Namun pada sebuah sore, saya mendapatkan pesan singkat tentang kematian tentangnya.

Apakah November selalu berarti kematian?

Saya meninggalkan November dengan sendu, dan berharap menikmati bulan hujan lagi pada bulan ini; Desember.

Saya meninggalkan November. Sudikah kau kemari menemaniku menikmatiku menyimak hujan yang turun dari balik jendela.

Saya melihat mendung di atas sana. Lamat-lamat, saya mendengar lengkingan suara fals dari Cholil Efek Rumah Kaca  …selalu ada/ yang bernyanyi dan berelegi dibalik awan hitam/ Aku selalu suka/ sehabis/ hujan di bulan Desember(Desember, 20 08 self title)

Ciputat   1  Desember 2012
@DedikPriyanto