Tendang, Terjang, Hadang

Tampilkan postingan dengan label kisah romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah romantis. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

Cinta yang Muram di Jalanan Amsterdam



“Bunga dapat menghadirkan cinta, namun juga dapat menghadirkan kematian”

Sosok Jun Ji Hyun dan Jung Wong Sung membuat saya terpantik untuk menonton film bertajuk Daisy (2006) ini. Saya mengenal keduanya lewat dua film melodramatik Korea; I’ll Mare (2000)  dan Remember Me (2002) yang liris dan menarik dalam gaya bertutur. Dua film yang penuh emosi dan membuat kamu bertahan menyaksikannya hingga usai.

Sebab dua film tadi merupakan kisah yang ganjil, maka saya berharap kisah film ini akan bertutur dengan menyimpang dan lebih-lebih menjadi narasi yang absurd. Cinta yang ganjil ini maksudnya bukan seperti yang terjadi dalam film kebanyakan; dua orang saling jatuh cinta dengan musuh orang ketiga, atau orang tua yang tidak merestui atau cinta karena persahabatan. Tolong, sediakan keranjang sampah untuk film cinta model begini!

Awal melihat film ini, saya diajak untuk berkeliling di kota Harleem dan Amsterdam. Lengkap dengan suasana jalanan yang ranum; burung dara yang beterebangan, trem yang melintas di tengah kota dan para pelukis jalanan yang menyediakan jasa di jalanan. Lalu, sejurus kemudian diajak untuk mendatangi sebuah sabana di pinggiran kota Amsterdam dan bunga-bunga yang bermekaran menjadi penanda musim semi.

Di sinilah kisah bermula, Jung Ji Hyun yang merupakan seorang pelukis terinspirasi bunga karya Van Gogh dan berusaha untuk melukis hal yang sama. Tapi keinginan itu berbentur dengan terjalnya daerah. Namun ia sudah terpikat dengan sebuah tempat yang—pikirnya—sangat menarik untuk dilukis.

Ia pun harus melewati satu daerah yang terdapat aliran sungai dan hanya satu batang pohon sebagai jembatan. Saat berusaha lewat, ia pun terjatuh ke sungai dan seluruh alat lukisnya terhanyut.

Alat-alat lukisnya itu ditemukan oleh Jung Wong Sung, ia merupakan seorang pembunuh bayaran profesional. Lelaki itu pun bertekad membantu si gadis, tapi ia tidak mau identitasnya diketahui. Maka dibuatkan sebuah jembatan yang besar untuk si gadis dan membuat si gadis pun dapat menyeberang dan melukis pemandangan yang ia inginkan.

Sebab si gadis tidak mengetahui siapa yang menolongnya, maka ia buatkan sebuah lukisan yang ia gantung di jembatan. Selepas hari itu, si gadis selalu mendapatkan bunga daisy tiap tanggal itu di depan rumahnya dan si gadis tidak pernah tahu siapa mengirimnya.

Singkat cerita, di jalanan Amsterdam si gadis yang terbiasa melukis dan menunggu sosok lelaki yang telah menolongnya. Waktu berlalu dan akhirnya ia bertemu dengan sosok pria yang membawa bunga daisy, serta memintanya untuk melukis. Entah kenapa, si gadis ini begitu penasaran dengan lelaki ini.

Lelaki ini merupakan interpool dan kesalahpahaman si gadis dialihrasakan oleh lelaki ini. Mereka berdua lalu merajut kasih dengan kebohongan dari si lelaki yang sedang menyamar mencari tahu soal mafia dan pembunuh bayaran.

Waktu berjalan dan di jalanan Amsterdam kala si gadis bertemu dengan lelaki yang menyamar itu, terjadilah bentrokan antara mafia dan polisi. Si gadis pun terkena tembakan nyasar dan membuatnya kehilangan pita suara. Lalu si gadis ditinggalkan oleh lelaki yang menyamar ini saat ia kehilangan suara dan merasa sendiri.

Pada saat itu, datanglah si lelaki pembunuh minta dilukis. Mereka bertemu dan kisah yang lain bermunculan. Hati gadis itu sudah terluka dan menyatakan bahwa ia tidak bisa mencintai orang itu sebab ia sudah menemukan orang yang menolong dirinya di jembatan. Sosok itu menurutnya adalah si penyamar, bukan si lelaki pembunuh.

Cinta Itu Memberi

Cinta yang tulus akan selalu memberi, itu kata banyak orang. Begitu halnya dengan lelaki pembunuh dalam memosikan diri sebagai orang lain dalam kisah cinta si gadis. Ia pun memberikan segenap perhatian meskipun membuat hatinya miris; mencari si penyamar ke kepolisian tempatnya bekerja, menziarahi kenangan si gadis dengan si penyamar dan memberikan bunga.

Lalu ketika si gadis bertemu dengan si penyamar, ia tertawa miris dan bertanya soal kebenaran siapa orang yang di jembatan. Si penyamar hanya tertawa dan akhirnya ia terbunuh oleh sebuah kasus yang ia kerjakan di mafia. Si gadis pun menuduh si lelaki itu yang membunuh dan di sini pula kedoknya terkuak selepas si gadis.

Ia pun kaget saat mendapati lukisan itu berada di rumahnya dan beberapa kejadian yang membuatnya yakin, ia lah seseorang yang selama ini ia dicari, bukan seorang penyamar. Namun kisah ini berakhir di muram. Persis seperti halnya baku tembak antara pihak intelijen polisi dengan para mafia di film ini yang begitu sering di jalanan Amsterdam.


Ia baru bisa menatap mata si lelaki itu kala ia tertembak peluru. Di akhir kisahnya, ia tersenyum sebab menemukan lelaki yang menolongnya dan hanya mampu diimajinasikannya dalam sebuah kanvas.

Cerita yang berakhir dengan bahagia tapi dibalut dengan sebuah kematian. Kisah cinta yang muram di jalanan Amsterdam dan memantik sebuah penegasan; cinta itu memberi tanpa harus meminta balasan. Pada akhirnya, cinta adalah pencarian atas pelbagai kemuraman dan memberi jembatan yang dicintai merupakan perjalanan sunyi cinta sejati.

Laiknya penggal lirik dalam film ini.”Cinta yang telah aku impikan, semua sangat dekat denganku. Namun yang bisa aku lakukan. Hanya melihatmu dengan kata-kata. Di Kota asing ini, aku hidup hari demi hari melukiskan cinta. Menunggu dan berharap kamu akan berada disini dengan aroma bung daisy. Meskipun terlambat, aku akhirnya mengenalmu.”

3 Maret
@DedikPriyanto

Senin, 04 Februari 2013

Di Bawah Lindungan Kenangan

(Tom, Summer dan kenngan akan sebuah kota. gambar diambil disini)
Tak ada yang lebih membingungkan dibanding kenangan. Ketika ingatan tiba-tiba tertarik pada masa lampau, tubuh yang menggigil dan sendu merupa hadiah yang tak pernah diharap. Percayalah, kenangan itu bisa begitu dingin. Lebih dingin dari es yang entah  kamu datangkan dari daerah manapun di dunia ini.

Jika kamu tidak percaya, sesekali tengoklah film 500 Days Of Summer (2009) dan temukan bahwa dari kesemua hal  dingin di dunia ini. Kenangan adalah elemen paling gigil yang pernah kamu temukan, dan saya yakin, bukan saya seorang yang pernah merasakannya.

Saya belum mencari pelbagai kisah yang melingkupi film yang berpusat kepada Tom (Joseph Gordon Levitt) dan Summer (Zooey Deschannel) ini. Film yang diawali oleh narasi mata dari tiap manusia, kebahagiaan masa kanak dan kisah muram kehidupan keluarga.

Film Pop serupa, biasanya tidak akan memberi bekas apa-apa pada saya. Minimal jika orang bertanya dua hari kemudian saya tidak akan dapat mengingat dengan jelas nama para pemain yang berakting di sini.

Untuk itulah, saya harus mengambil cara pandang yang berbeda dan dekat. Barangkali lewat pusaran kenangan saya bisa mengingatnya.

Ya, kenangan. Bukankah menziarahi kenangan adalah sesuatu yang kita hindari? Maka saat ini saya akan berusaha mendatangi kenangan melalaui film ini. Jadi, ia tidak perlu repot untuk sekadar bertandang.

Kisahnya bermula dari bertemunya dua masa dari kutub yang sama dalam sebuah pertemuan yang tak pernah terduga. Keduanya sama-sama memiliki masa lampau yang tidak menyenangkan dan kehidupan yang buruk saat beranjak dewasa. Keduanya sama-sama dari keluarga yang bercerai.

Tom adalah pria yang memiliki pekerjaan sebagai penulis pelbagai ucapan di kartu pos dan merasa tidak pernah hidupnya mendapatkan kebahagiaan di dunia. Ia menyebutnya sebagai takdir. Sedangkan Summer merupakan sosok perempuan cantik dan selalu membawa keberuntungan. Itulah bedanya; yang satu murung dan  lainnya periang.

Bedanya lagi, Tom merasa bertemunya dirinya dengan Summer dalam 500 hari adalah sebuah anugerah. Meskipun ia tahu bahwa Summer tidak pernah menginginkan hubungan yang serius dengan siapapun.

Senantiasa berdua, tertawa bersama, sesekali bertengkar dan merasa saling membutuhkan walaupun tanpa ikatan dan perjanjian apapun. Itulah Tom dan Summer.

Entah kenapa hingga akhirnya Tom yang tampaknya ingin hidup secara normal mulai mempertayakan hubungan ini. Lalu mereka berpisah karena Summer sekali lagi menegaskan dirinya tidak ingin berhubungan. Kisah berakhir, cinta Tom kandas.

Pusaran Kenangan.

Hilangnya Summer dalam kehidupan Tom menjadikan hidupnya runtuh. Dunia menjadi diam. Ia pun mulai menziarahi kenangan masa lalunya kala masih bersama Summer; pameran perabot rumah, bioskop, kedai kopi, dan sebuah taman yang menjadi penanda kisah mereka bedua.

Sebuah bangku yang berada di sebuah pojok kota yang dengan bebas mampu menera lanskap kota Manhattan yang eksotis, Angelus Plaza, adalah salah satu tempat favorit mereka tak luput dari tempat ziarah Tom.

Jika kamu sempat membaca cerita pendek dari Puthut EA yang berjudul Isyarat Cinta yang Keras Kepala, maka sosok Tom ini adalah perwujudan tokoh itu.

Selalu mencari kenangan dimanapun ia berada dan merasa waktu seperti berhenti jika mampu mendatangi yang pernah mereka singgahi.

Ia pun masih tak percaya jika hubungannya dengan Summer sudah berakhir. Alasan yang diberikan Summer Cuma tidak masuk akal bagi Tom; ia tidak membina hubungan yang serius dengan lawan jenis. Ia takut bercerai sebagaimana yang terjadi kepada kedua orang tuanya.Untuk itu, ia memilih untuk meninggalkan Tom.

Namun Tom begitu kaget saat ia diajak pesta di apartemen Summer dan mengetahui bahwa saat itu menerima lamaran seorang laki-laki dan segera menikah.

(bangku di sebuah taman adalah penanda. gambar di sini)
Coba bayangkan kamu mengalami hal ini. Simak dialog singkat yang paling saya suka antara Summer dan Tom di sebuah bangku di taman berikut;

“You never wanted anybodi’s girlfriend and now you’re somebody’s wife ” tanya Tom

“I was surprised too,” jawab Summer ringan.

“I dont think i’ll ever understand that. I mean it doesnt make sense.”

“It just happened.”

“But, thats what  i dont understand. What just happened?”

“I Just... I just wake up one day and i knew.”

“Knew what?”

“What i was never sure with you.”

Jawaban Summer begitu teduh, dengan tatapan muka yang sungguh tidak bisa saya lukiskan.

Percakapan yang sederhana. Mata biru dari Summer yang ranum dan muka sendu dari Tom yagn saya yakin jika sekali saja ia datang ke kampus kamu, pasti ribuan gadis akan berebutan untuk sekadar melihat caranya menggumam.

Kisah film ini sungguh jenaka, tidak ada pretensi untuk membuat haru atau apapun jenis film melodrama lain yang seperti seorang motivator yang menyuruh orang untuk menangis. Tak membuat saya simpati. Itu pula yang diceritakan narator di awal film,"This not a love story. this story about love"

Jadi, jika kamu akhirnya menemukan seseorang yang membuatmu menjadi seorang yang berubah, ingatlah bahwa belum tentu semuanya berakhir gembira seperti halnya dalam sebuah  film.

Jangan percaya! jika tidak kamu tidak akan pernah merasakan bertemu  Autumn dan kisah yang baru. Kamu  akan terus berada di bawah lindungan kenangan.

3 Feb 2013
@DedikPriyanto

Jumat, 01 Februari 2013

Perpisahan yang Menggembirakan

(kutipan terkenal dari Bob Marley, gambar diambil di sini)
Saya tidak pernah bisa mengerti, bagaimana seseorang sanggup berpisah dengan orang yang ia cintai dengan perasaan gembira. Terlebih ia tahu bahwa hidup tak akan pernah sederhana. Sedikitpun tak pernah bisa saya pahami.

Apakah tidak pernah terpantik bahwa di setiap perpisahan selalu menyisakan muram dan hanya sedikit riang tersisa. Lalu ia merupa kenangan yang tak pernah terpelihara, terusir dan selalu ingin kembali serta kita yang akan selalu menolaknya berkali-kali. Walau ia datang untuk sekadar berkunjung. 

Cinta adalah puisi yang tak pernah ingin dilahirkan. Coba tanya kepada para penyair, berapa miliar larik tercipta tiap harinya berbicara cinta.

Namun saya selalu yakin, mereka sebenarnya tak pernah ingin berbicara cinta.  Cinta yang tak lelah mendatangi  mereka dan pada akhirnya menghantar mereka dalam sebuah pusaran utopis; bersatunya cinta dalam tubuh, bersatunya tubuh dalam cinta.

Entah kenapa saya merasa miris jika mendengar, menyaksikan atau menyimak orang-orang yang terjebak pada ritus purba ini, perpisahan. Apalagi ditambah dengan kalimat pemantik kenangan semacam ‘Tiap Pertemuan pasti ada perpisahan’.

Jika kamu tahu siapa yang membuat kalimat yang konon begitu populer ini, sila beritahu saya, maka saya jamin akan meminjam pisau dari tetangga dan sesegera mungkin menusukkanya pada empu kalimat ini.

Jangan takut, saya tidak akan pernah dihukum atau dipenjara.

Kalau memang saya bakal dimasukkan ke penjara, minimal saya sudah mewakili pelbagai perasaan jutaan manusia yang sakit hati. Toh saya hanya ingin tahu apa yang berada dalam otak empu kalimat ini.

Adakah rasa sesal yang menghantaui atau getir yang dikirimkan oleh mereka yang pedih hati itu telah membutakan mata sendumu, dengan kalimat lucum itu? Atau jangan-jangan engkau adalah telah kehilangan sendu.

Sekali lagi, saya tidak pernah mengerti, kenapa harus lahir kenangan jika harus ada perpisahan. Bersedia mencintai adalah menyiapkan sebuah kamar dalam hati sebagai tempat singgah yang nyaman untuk sakit hati.  Tak ada yang lebih sendu dari itu.

Kepada Gadis Penata Kenangan Itu, Shofi


Kawan,

Catatan di blogmu yang—untuk kesekian kali saya telat membacanya—manis dalam bercerita itu, entah kenapa mengingatkan saya film Charlie Chaplin berjudul The Circus (1928) yang menelisik sebuah perpisahan yang terbungkus tawa; perpisahan yang menggembirakan.

Saya  jadi sajak Autumn Rainer Maria Rilke. 

Autumn

The leaves are falling, falling as if from far up,
as if orchards were dying high in space.
Each leaf falls as if it were motioning "no."
 

And tonight the heavy earth is falling
away from all other stars in the loneliness.

We're all falling. This hand here is falling.
And look at the other one. It's in them all.

And yet there is Someone, whose hands
infinitely calm, holding up all this falling.


Saat menulis catatan ini, di lantai bawah gedung Kramat Raya berlantai 8  ini terdapat pertunjukan wayang yang riuh dengan pelbagai ragam manusia. Tiba-tiba saya merasa sendiri dan teringat sajak Epri Tsaqib dalam buku manis Ruang Lengang (2007).

Di Ruang Itu

Di dasar ruang hatimu kutanam sunyi
Sebuah tempat yang selalu bisa kudatangi
Kapan saja aku mau termangu

Hari ini aku datang ke situ
Memandangi kamu yang galau

Lalu aku tulis sebuah sajak yang tak selesai
Kuletakkan di salah satu dindingnya

Kau boleh melengkapinya kapan saja
Atau membiarkannya basah sendirian
Dengan tetes airmatamu
 

***

Saya pernah berbicara begini kepadamu beberapa hari lalu,"Cinta selalu menemukan jalannya sendiri. Namun saat ini ia bersembunyi, dan menunggu kalian menjemputnya. Lalu berjalan beriringan menuju tujuan yang kalian inginkan"

Saya akan selalu berkata ini.

Salemba, 1 Februari 2013
@DedikPriyanto
Baca juga:

Minggu, 27 Januari 2013

Persoalan Jatuh Cinta


Persoalan jatuh cinta memang pelik, membingungkan dan terkadang muram. Mirip-mirip kentut. Terkadang keras membahana dan tidak memberikan bau dan serta rasa apapun kecuali rasa jengkel mereka yang duduk di dekat kamu.  Tapi tak jarang tak bersuara, diam, dan tiba-tiba efeknya merupa bom yang memiliki dampak yang besar. Entah bagi dirinya, terlebih orang lain.  

Dua hari lalu kawan saya bercerita bahwa persoalan cinta ini begitu rumit. Ia sukar jatuh cinta dengan orang lain. Konon menurutnya, agama itu suci dan tidak segampang yang dipikirkan banyak orang. Namun ia kini mengerti, dari kesemuanya itu, satu hal yang paling suci di dunia hanya satu, Cinta.

Kawan saya ini adalah penggemar film dan selepas menonton film apapun itu jenisnya, pasti ia berkisah dengan mimik peresapan yang sulit tertandingi, susah untuk saya deskripsikan. Kamu tahu muka Yamcha saat bertemu Bulma atau perempuan lain di Dragon Ball? Kira-kira tidak jauh mukanya.

Apalagi jika film itu bertemakan hubungan antara manusia. Maka bisa dipastikan, beberapa hari berikutnya orang yang berada di dekatnya harus segera tutup kuping dan telinga.

Jikalau tidak, bisa dipastikan kamu harus mendengar ocehan tidak jelas dan pelbagai ragam opini yang kerap membuat kuping berdesing seperti bisik-bisik ibu-ibu di pagi hari ketika ada tukang sayur melintas di kompleknya.

Satu hal yang pasti, kawan saya ini kira-kira setahun lalu baru berpisah dengan seseorang yang membuatnya tak mampu berkata apa-apa. Lalu ia kini percaya, bahwa memutuskan jatuh cinta berarti harus berani sakit.

“Itu satu paket. Tak dapat ditawar,” selorohnya.

Beda cerita dengan kawan saya yang satu lagi.

Secara penampilan fisik, ia tak jauh dengan para pesolek di teve rumah kamu. Bedanya cuma persoalan nasib dan persoalan jatuh cinta.

Kawan saya berprofesi sebagai wartawan. Harusnya dekat dengan pergaulan antar manusia—dan lawan jenis—tapi tak membuatnya berpaling dari cintanya kepada perempuan yang pernah mengkhianati.

Saya beberapa kali beberapa kali berbicang dengannya agar segera menyintas dari masa lalu dan segera mengambil jarak dengan hati supaya hidup ini terus berjalan. Tapi beberapa kali pula ia menukas,”Tidak sesederhana itu. Tidak sesederhana itu,” katanya.

Ya, memang persoalan jatuh cinta memang tidak sederhana. Jika toh sederhana, barangkali itu Cuma ada di puisi Sapardi. Tapi tidak disemua hidup harus dengan penerimaan dari orang yang kita cintai.

Tapi kawan saya ini tetap bersikeras untuk tetap hidup dan menziarahi kenangan masa silam. Ia pengemar sastra dari kelas wahid, khususnya soal bacaan-bacaan Inggris.

Saya curiga, barangkali ia mengamini Chairil Anwar.

”Hidup Hanya menunda kekalahan,” tukasnya menyitir Chairil.

Saya hanya bisa diam.

Saya pun menjawab sekenanya. “Lagi pula cinta seperti hujan, kadang jatuh dengan bergegas. Tak jarang datang dengan terburu-buru dan menimbulkan banjir jika tidak segera ditanggulangi.”

Ia hanya tertawa pada obrolan singkat beberapa tempo lalu.

Persoalan jatuh cinta ini juga menjangkiti salah satu kawan saya yang juga penulis cerpen. Ia mengaku 7 tahun lebih tidak membina hubungan cinta dengan seseorang. Ia pun tidak tahu mengapa itu bisa terjadi.

Padahal banyak yang menyatakan suka padanya dan selalu ditampiknya seolah tak ada cinta di dunia ini, yang ada hanyalah bualan. Tapi beberapa minggu belakangan saya melihatnya begitu berbeda.

Usut punya usut kawan saya ini sedang menjalani terapi pribadi soal cinta. Bahkan ia mengaku sedang menjalin hubungan asmara dengan 3 orang perempuan sekaligus.

Saya tertegun dengan pengakuan kawan saya ini.

Terlebih saya tahu, lelaki ini amat jarang membicarakan soal hal yang berkaitan dengan perasaan. Lalu tiba-tiba kami saling berbincang di sebuah sore.

“Elu emang masih aja nyari cinta sejati?” tanyanya.
Saya mendongakkan kepala.

Lalu hanya menjawab singkat.”Iya, Bung, gua masih yakin soal itu.”

“Nikmati aja. Gua sedang menikmati saat ini, balas dendam dari akumulasi kejombloan selama 7 tahun.”

Saya terperangah.

Kawan saya satu ini memang eksentrik dan barangkali hanya dirinya dan Tuhan yang tahu apa yang ia percakapkan, atau jangan-jangan Dia juga tidak tahu?

Dari kesemua keanehan ini, yang tampak nyata adalah, kawan saya ini mulai bersolek: menggunakan deodorant, menyetrika baju dan kerap berlama-lama depan kaca.

Persoalan jatuh cinta memang... Ah sudahlah. Sudahkah kamu kentut hari ini? Maaf, maksud saya, sudahkah kamu mengalami sendiri persoalan jatuh cinta?

Jakarta Sore, 26/1/12
@DedikPriyanto






Selasa, 22 Januari 2013

Kisah Sendu Pasien Buta dan Seorang Perawat

Entah tahun berapa film Fly Me to Polaris ini dirilis. Saya juga tidak tahu, apa yang dirasakan orang-orang selepas menonton film ini. Namun film ini mampu menggerakkan tangan untuk mengirimkan pesan singkat kepada kekasih saya,” I love you.”

Saya merasa sentimentil selepas menonton film yang baru tadi malam saya gandakan ke laptop saya ini. Tak ada kisah romantis di dalamnya.

Barangkali ini yang membedakan dengan film-film bergenre serupa. Hanya ada seorang buta yang kerap dipanggil Onion dan perawat manis yang diperankan Cecillia Cheung dan bernama manis pula, Autumn.

Ceritanya sederhana, seorang pasien buta yang jatuh cinta kepada perawatnya. Begitu juga sebaliknya. Mereka hanya berkomunikasi via huruf Braille dan perhatian yang diberikan oleh Autumn. Hingga pada akhirnya maut memisahkan mereka berdua.

Autumn tidak pernah menyatakan cintanya kepada Onion. Dan pasien buta itu, ah kamu tentu tahu, tidak mudah mengatakannya. Toh dengan keadaan seperti itu, pastinya ia tidak akan berani berkata.

Apalagi di tengah mereka, ada Dr. Woo yang jatuh cinta pada Autumn dan jika ia berkata, hemat saya, ia bisa ditinggalkan oleh Autumn. Tapi lagi-lagi ini adalah sebuah cerita.

Suatu hari, Autumn dan Onion duduk di balkon. Laiknya pasien dan perawatnya, mereka pun duduk berdua dan bercakap-bercakap banyak hal.

Mulai dari mata Onion yang ingin segera pulih kembali, soal alunan indah Saxofon yang tiap malam Autumn dengar—dan tidak pernah tahu siapa yang memainkannnya—juga pastinya soal kesehatan Onion.

Onion mengalami kebutaan sejak usia 8 tahun dan baru pada tahun ini ia bertemu dengan perawat baru untuknya yang bernama Autumn. 

Ia terbiasa dengan catatan-catatan harian berhuruf Braille yang ia simpan rapi di lemari. Lengkap dengan tabungan dan catatan-catatan lawas ia sebelum buta. Tabungan itu dimaksudkan untuk sahabatnya yang ingin mendirikan butik bunga dan ia tidak pernah mampu untuk menunaikannya.

Saat di Balkon itu, Onion dan Autumn melihat ada meteor jatuh. Coba simak dialog ini.

“If you see a meteor gliding accros, what wishes would you make?” tanya Autumn.

Onion tidak bisa melihat dan berbicara. Ia pun memberi isyarat dengan dua jari.

“You have two also.”

Autumn sedikit terkaget karena jawabannya sama dengan yang barusan ia lakukan dan Onion menuliskan sesuatu dengan jarinya di telapak tangan Atumn.

Dengan tertawa,”I know, all the blind people recover. How great. And the second?”

Onion hanya tertawa dan tampak akan menuliskan sesuatu di telapak tangan Autumn. Lalu mereka berdua tertawa, Onion hanya menempelkan kata itu tanpa berkata-berkata apa-apa.

Di posisi ini, kamu tentu saja akan berpikir bahwa kisah ini akan berakhir dengan bahagia laiknya film-film biasa. Namun kisah ini bermula dari sini.

Kembalinya Onion

Ya, onion kembali dalam wujud manusia selepas ia kecelakaan sekembalinya dari balkon. Agak absurd, tapi ia mendapatkan ‘jackpot’ kala hendak melewati stasiun dunia. Ini karena permintaan dari dua hati yang baik hati itu saat meteor jatuh.

Ia kembali dalam tubuh orang lain dan tidak mungkin dikenal orang lain. Termasuk Autumn, Dr. Woo, dan teman-temannya yang lain di rumah sakit. Namun ia hanya memiliki waktu selama lima hari.

Apa yang kamu lakukan jika mengalami hal serupa, kembali tapi tidak ada yang bisa mengenalmu?

Sejak kepergian Onion, Autumn begitu terpukul. Semua orang menganggap ini hanyalah kesedihan seorang perawat yang kehilangan pasiennya untuk pertama kali, tapi tidak sesederhana itu.

Beberapa kali itu pula, Dr. Woo datang untuk menenangkan hati Autumn. Namun tetap saja Autumn saja menangis dan menangis.

Tak ada lagi saxofon tiap malam atau senyum riang Onion yang membuatnya gembira.

Tiba-tiba ia kembali via nama Mr. Cheuk petugas asuransi yang mengurus kematian Onion.  Ia pun menemui beberapa sahabatnya dan pada akhirnya beberapa mengetahui firasat kedatangannya dengan gelagat kelakuan Cheuk yang serupa dengan Onion.

Beberapa kali Onium mengirimkan isyarat kedatangannya—ingat ia tidak boleh memberitahu identitas aslinya—dan Autumn menangkap sinyal itu lewat beberapa kejadian. Salah satunya adalah ketika Cheuk diminta membacakan catatan harian yang berbahasa braille milik Onion di cafe. 
Begini;

October, 1/6/97
Sunny Summit
Dr Woo said its medical reaction. A new nurse came taking care of my day. Her name is Autumn Yue. She is Clumsy. She ‘kept’ saying ‘sorry’. She made a mess but i didnt pick on her. I even feel good about her.

November 2nd, 1997
Rainy Night
Autumn said, she’ll come give me  a hait cut after work. Its rainy so hard, she might not come. She is already 49 minutes late. Feeling dissapointed. I heard foosteps hurrying up. She came and ‘sorry. Im late’. I was thrilled she came. Finally she finished. Le looked like an onion. She stars calling me Onion ever since.


Ada beberapa lagi dan membuat Autumn tak kuasa menahan tangis dan menyuruh Cheuck untuk berhenti membaca. Saya pun tak kuasa menuliskannya lagi catatan harian harian itu di catatan sederhana saya ini. 

Meteor dan Saxofon

Meteor akan selalu mengingatkan Autumn pada Onion. Sedangkan bunyi saxofon yang mengalun malam hari membawa sebuah keyakinan,”Onion pasti yang menyanyikannya.” Walaupun Onion sendiri menyangkal itu.

Hingga suatu malam, ia mendengar kembali suara itu mengalun dari balkon.

Sontak, ia pun berlari menuju balkon dan berharap ia akan segera bertemu orang itu. Ia kaget bukan kepalang ternyata yang ia temui adalah Dr. Woo. Ia pun langsung memeluknya.

Dr. Woo merasa bersalah dan memberitahukan bahwa bukan dirinya yang memainkan Saxofon melainkan Cheuk. Autumn semakin yakin dengna firasatnya dan ia berlari mencari Cheuk.

Hingga ia menemukan keyakinan itu kala menggeledah kamar Onion.

Ya, Onion yang memainkan itu dan ternyata ia berasal dari keluarga pemain saxofon. Tangis makin menjadi saat ia tahu ia merupa Cheuk. Tapi waktu makin habis  dan mereka bertemu kembali di Balkon setelah perdebatan dan tangisan panjang di kolam renang.

Entah ini berakhir bahagia atau tidak. Karena mereka tidak pernah bisa bersama. Yang pasti, bagi saya, ini film yang menyentuh. Tak ada kata lain selain itu.

Jakarta, 22 Jan 2012
@DedikPriyanto

NB: Ternyata film ini dirilis tahun 1999 dan mendapatkan 19 penghargaan di Hongkong Awards. Film awal dari Cecilia Cheung dan laris di Eropa :)




Senarai Kisah di Hari Valentine


Saya tergolong telat menonton film ini, Valentine’s Day (2010). Baru beberapa menit yang lalu saya menandaskannya selepas beberapa bulan teronggok di folder movies laptop saya dan tidak saya sentuh sama sekali.

Film ini bertutur soal budaya Valentine’s Day yang semarak di Amerika—dan di negara-negara lain barangkali serupa—perihal hubungan antar manusia dalam narasi paling purba itu; cinta. Pastinya ada kisah bahagia, geram, pilu dan terkadang sumir.

Baiklah, saya akan merangkai beberapa kisah di film yang bertebaran bintang seperti Jessica Alba, Anne Heathaway, Queen Lathifah, Ashton Kutcher, Hector Elizondo, dan Julia Roberts. Tapi tidak akan menyebutkan seluruh nama lakon yang ia perankan sebab saya akan menera beberapa jenis pekerjaan yang menjadi latar dalam film ini.

Kira-kira ceritanya begini;

Seorang florist bernama Creed pada suatu pagi menyatakan cintanya kepada seorang perempuan model. Tepat sebelum si gadis bangun tidur. Sontak, hal itu membuatnya kaget dan serta merta menerima si Florist tadi memakaikan cincin tanda mereka akan segera menikah.

Lalu si florist ini kembali ke toko bunganya yang hari itu tampak ramai. Sangat riuh bahkan. Hal itu dikarenakan 14 Februari makin dekat dan orang-orang di Manhattan sudah mempersiapkan pelbagai ragam hadiah untuk kekasihnya jauh-jauh hari.

Credd adalah pemilik toko ini dan ia memiliki seorang sahabat yang berprofesi sebagai guru di sebuah Elementary Scholl, Julia.

Julia memiliki kekasih seorang doktor spesialis kesehatan dan ia tinggal di San Francisco. Mereka berdua tinggal di sebuah apartemen. Si dokter ini harus pergi dan tidak bisa menemani Julia tepat di tanggal 14 Februari. Walau agak kesal, Julia harus menerimanya.


Di sekolah, Julia memiliki murid yang terkenal cerdas. Namun akhir-akhir ini ia murung. Tak mau makan. Usut punya usut ia sedang mengalami sindrom ‘love sick’. Hal itu menyebabkan kedua kakek yang mengasuhnya kaget dan tertawa.

Kedua kakek dan nenek si anak itu juga hidup dengan romantis. Pagi tanggal 14 Februari ia pun memberi hadiah kepada si Kakek yang sudah menemaninya selama 51 tahun. Begitu halnya si Kakek. 

Ia mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kerena ibu si anak itu adalah seorang prajurit yang karena tugas tidak bisa menemani tiap hari.

Untuk itulah, ia juga menyewa seorang baby sitter, seorang gadis lulusan senior high school. Gadis itu juga mencintai seorang lelaki yang ia sekolahnya dan saat ini mereka berdua tepat 18 tahun.

Itupula yang melatarbelakangi kedua anak muda ini untuk berhasrat melakukan firs sex mereka di tahun itu, tepat di tanggal 14 Februari.

Kisah lain yang menyerembet soal sex adalah narasi hubungan antara pria Florida yang bekerja di Pos dengan perempuan yang memiliki side job sex phone. Jangan dulu diartikan negatif. Ia menjaga dirinya dari kontak nyata dengan seluruh penggemarnya di sex phone dan ia menutupi pekerjaannya ini dari sang kekasih.

Tak berhenti itu saja, ada cerita soal pemain Footbal America yang risau terhadap media-media yang kerap memojokkan aktivitas pribadinya. Termasuk soal seks. Hingga pada suatu hari ia membuat konferensi pers yang menyatakan bahwa dirinya adalah gay dan ingin menikmati privasinya sebagai manusia.

Inipula yang membuat Jurnalis olahraga memperoleh pekerjaanya kembali karena memiliki berita ekslusif sebelum itu karena dekat dengan agen si pemain.

Agen ini adalah teman si Julia si guru TK. Julia menemukan fakta ia merasa ditipu kekasihnya sudah menikah dan ia pergi meninggakan dirinya karena akan merayakan pesta pernikahan yang ke-15 tahun, tepat di tanggal 14 Februari. 

Mereka akhirnya sepakat untuk membuat pesta ‘hate valentine’s day’. Namun akhirnya, malah si agen jatuh cinta ke pelukan si jurnalis olahraga atas kesamaan rasa soal ‘hate valentine’s day.

Si Jurnalis ini benci karena tepat pada hari itu ia harus dialihkan ke bagian entertainment dari kerjaan sebelumnya. Dan karena bertemu si agen, ia kembali mendapatkan kursinya. Bukan kebetulan, bukan?

Kembali ke Florist, ternyata si anak kecil tadi juga mengirimkan bunga untuk seseorang ke sekolahnya via toko bunga milikinya. Tak dinyana, yang ia beri adalah si Julia bukan gadis lain.
Tentu ini cinta anak kecil kepada sosok keibuan. Dan ia dikasih tahu bahwa anak yang suka dengannya, yaitu si anak dari India.

Dasar anak kecil, Ia pun akhirnya berpaling dan ‘be my valentine’ itu jadi milik si India.

Si Julia yang patah hati dan Florist yang ternyata juga gagal menemukan kenyataan bahwa model yang ia sukai itu tidak mau diajak menikah. Bukan karena dia yang salah, menurut model, tapi karena ia harus fokus pada karirnya dan terhantui sejarah kelam orang tuanya soal menikah. Mereka pun berpisah.

Lalu keduanya bertemu di sebuah danau. Dan mereka sadar, ternyata orang yang dicintai berada dekat dengannya. Tak jauh dan diam-diam mendoakan.
Sahabat adalah cinta. Begitulah mereka.

Perpisahan ini pula yang hampir terjadi pada kakek dan nenek. Ketika tahu bahwa si nenek pernah berselingkuh, si Kakek pun  kaget lalu pergi ke tempat yang selama 51 tahun ini mereka datangi kala Valentine. Ia kecewa.

Pada akhirnya ia mengerti, bahwa kadang ketidakjujuran itu begitu pahit, walaupun itu cinta. Dan di sabana itu, akhirnya kakek memaafkan kejujuran si nenek.

Itu pula yang pada akhirnya membuat petugas pos sadar bahwa mencintai adalah tidak selalu mengaitkan dengan masa lalu si gadis. Apalagi dengan mencintai yang tampak nyata saja.


Toh jika memutuskan untuk mencintai, harus siap menerima segalanya dengan sederhana. Termasuk hal terburuk dari orang kita itu cintai. Itulah cinta.
 
“You know what? You are right. I just spend all night in a cemetary and i actually learned something,” kata si tukang Pos kepada kekasihnya.

Si gadis hanya terdiam seakan tak percaya ia kembali datang.

“In a relationship you have to accept other person for all of what they are, not just the parts are easy to like, and you are stupid if you turn back on something as important... as love,” tambah lelaki itu dan setelahnya, kamu pasti mampu menebak jalannya cerita.

Pada akhirnya, kisah-kisah dalam film ini hanyalah sebagian kecil dari hubungan antar manusia. Valentine's Day hanyalah penanda.
 Cinta tetaplah cinta.  Kisah yang akan terus menyala selama masih ada manusia, bukan begitu bukan?



Ciputat, 20 Januari 2012
@DedikPriyanto