Tendang, Terjang, Hadang

Tampilkan postingan dengan label remeh temeh.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label remeh temeh.. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 April 2013

Madesu

Apa itu masa depan?
Sebut saja namanya Desta, lelaki berparas sunda dengan potongan rambut lurus. Beberapa hari ini ia begitu sedih lantaran takut akan masa depan. “Begitu suram, bung. Rasa-rasanya saya tidak sanggup menyaksikan masa depan hidupku,” ujarnya suatu sore.

Saya pun menawarinya makan bakso di dekat saya. Awalnya ia tidak mau, tapi selepas ia bercerita sedikit sebagai pembuka tentang perkara yang membuatnya takut, ia akhirnya mau juga. Saya pun aga kesal. Coba bayangkan, ia tiba-tiba datang ke kontrakan dan mulai membolak-balikan buku, belum usai ia taruh lalu dibolak-balikan. Ia tampak gusar.

Lalu saya coba untuk bertanya, ia malah tidak menjawab. Saya yang sedang membaca pun tidak nyaman. Buku saya singkirkan, lalu saya mengajaknya berbincang. Baru berbicara beberapa menit, ia ijin untuk tiduran. Ya, terpaksa, saya membolehkan walaupun agak kesal.

Tapi ujung-ujungnya tetap sama. Ia tidak tidur dan saya agak jengkel. Apalagi ia sesekali mendengus. Hingga sore menjelang dan saya mulai lapar. Tapi kawan saya ini masih berperilaku yang sama; murung dan berperilaku tidak jelas.

Hingga akhirnya ia mau cerita, walau hanya pembuka tentang kegelisahannya dan maaf, saya tidak bisa menceritakan segala kegundahannya. Takut-takut ia marah, kalap dan menyuruh seorang sniper untuk menembak saya dari atap kontrakan sebelah.

Tapi, satu hal yang berkali-kali saya katakan kepadanya.”Tidak ada masa depan. Jadi tidak usah ditakuti.”

Kenapa tidak ada masa depan?

Entah kenapa, saya selalu berpikir bahwa masa depan bukanlah hal yang istimewa. Biasa saja, seperti halnya orang makan, tidur dan bercengkerama dengan sesama manusia. Ia adalah siklus hidup yang harus dijalani manusia. Jika pun takut, buat apa hidup.

Tapi kenapa, saya selalu heran dengan sikap orang-orang yang selalu mendefinisikan hidup dengan masa depan.  Khususnya jika

Itupula agaknya hal ini menjadikan saya orang yang begitu selektif—paling tidak—tidak menera sesuatu yang nanti, jatuhnya, akan membuat saya berpikir masa depan pada landasan finansial semata.

Tentu saja tetek bengek urusan ekonomi ini begitu menyita saya ketika mulai membandingkan dengan taraf pendidikan yang akan dan sedang direngkuh oleh seseorang.

Logika umumnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, berbanding lurus dengan tingkat pendapatan yang akan diterima. Syukur-syukur ia menjaga pegawai negara, yang harus duduk beberapa jam saja dan digaji dengan tetap tiap bulannya.

Gaji tersebut bisa mencukupi hidupnya. Apalagi jika hidup di daerah yang nilai ekonomisnya lebih rendah dari gaya hidup  sekitar. Namun keluhan itu tidak saja berhenti pada urusan finansial semata.

Banyak orang yang saya lihat hidup sebagai pegawai negara dengan tingkat pendidikan yang ternyata lebih rendah dari biasa.

Mereka ini bisa mereka yang cuma lulusan ala kadarnya tapi mempunyai jaringan yang cukup kurang ajarnya. Bisa jadi karena ayah, kakek atau keluarga lainnya adalah dedengkot yang terbiasa dengan menempatkan orang pada pekerjaan tertentu.

Kalau toh ada yang beruntung, itu pasti manusia-manusia langka yang harusnya mendapatkan penghargaaan.

Sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan dan begitu beruntung menjadi masuk ke golongan mereka yang berkuasa (baca: lingkaran pegawai). Tapi jika ia melakukan hal yang serupa dengan orang yang saya sebutkan di atas, baiknya ia disambar petir saja.

Lalu bagi mereka yang mempunyai kedudukan lewat jalur kekuasaan, saya yakin mereka tidak akan memikirkan bagaimana mendapatkan pengalaman. Biasanya hidupnya akan monoton.
Tentu saja saya bertemu dengan ragam orang dengan model begini.

Mereka akan hidup dengan sesukanya, dengan seenaknya, tapi masa depan akan terpampang jelas di mukanya; pegawai. Keluarga akan bahagia dengan materi, mungkin, lalu beranak pinak. Hidup itu sederhana, bukan? Kata mereka.

Menurutku, hidupmu itu tidak menarik, kawan. Tak ada yang kau tinggalkan selain tangis keluarga saaat kamu meninggal.

Lain cerita dengan beberapa orang—mungkin termasuk Desta dan—orang-orang macam saya yang terus berkeluh kesah tentang masa depan yang suram, dan kian mendekati.

Kalau didekati perempuan cantik dengan membawa secangkir kopi tentu bukan perkara yang tidak boleh dihindari, tapi jika yang mendekat adalah wajah suram bernama masa depan yang tidak tentu, tentu kita akan terbirit-terbirit menghindari. Seakan bertemu monster besar yang sewaktu-waktu menerkam.
 
Lalu, kenapa saya jadi berbicara tentang masa depan dan selingkuh pekerjaan karena kedekatan? Biarkan saja menjalani hidupnya, asalkan satu; tidak menyebarkan ketololan itu kepada generasi bawahnya. Sebab orang tolol pantasnya dibelikan eskrim dan dimasukkan dalam kelas TK dan diberi pelajaran soal etika hidup di dunia.

Kawan saya tadi makan dengan lahap dan semoga saya bisa kembali membaca dengan tenang. Begitu.

@DedikPriyanto

Kamis, 04 April 2013

Remeh Temeh Perihal Selo atawa Pengangguran

(Selo atau Sibuk... zzzzzz)
Seperti lazimnya kisah cinta yang terpisahkan jarak, maka telepon selular adalah jembatan yang harus sama-sama kami lalui untuk saling berkisah, dan malam ini kekasih saya bertutur tentang pekerjaaan yang makin menyita waktu, minimnya waktu membaca dan kehidupan selo yang seakan menjadi kemewahan yang sukar didapatnya akhir-akhir ini.

Saya jadi terpantik, sebenarnya apakah hidup kita memang selo atau memang kita butuh selo untuk bisa menikmati hidup atau selo memang menjadi sebuah tujuan!  Tapi sebelum kesana, mari kita beremeh-temeh soal kata selo.

Terlahir dari bahasa inggris ‘Slow’ yang bermakna ‘santai’. Tentu saja kata ini merupakan pendadaran dari bahasa prokem (baca: bahasa  pop) yang coba mendefinisikan diri sendiri dalam bentuk ketidakberdayaan yang ringan.

Maksud saya, selo ini merupakan bentuk aktivitas yang meniadakan membutuhkan aktivitas yang  membuat dahi berkerut, keringat bercucuran dan menghabiskan waktu laiknya pekerjaan lainnya, atau bahasa dalam bahasa sederhana; waktu senggang.

Di kawan-kawan Jogja—atau mungkin saya salah, tapi saya menemukan pertama kali di blogger dari Jogja—ada istilah yang cukup membuat saya terpingkal-pingkal sebagai bentuk kritik terhadap urban culture yang dihinggapi kelas pekerja di kota.

Khususnya mereka yang menghabiskan diri untuk bergelut dengan aktivitas pekerjaan yang hipokrit, sibuk dan kadang menjemukan. Menjemukan,  sebab segala kesibukan itu seakan meniadakan kreativitas sebagai tumpuan jelajah yang harusnya dipakai manusia untuk menelisik tiap pekerjaan agar paripurna, dan mencipta hal yang baru.

Bukan malah menjadi peneguh atas kelas pekerja dan kesibukan yang kian membuat manusia menjadi rudin dan ringkih. 

Kalimat itu berbunyi begini “menselokan masyarakat dan memasyarakatkan selo.”

Pertama kali saya bertemu kalimat ini beberapa tahun silam, saya jadi berpikir, apakah ini dipopulerkan oleh mereka-meraka yang tidak punya pekerjaan atau memang sebagai bagian dari budaya massa; bentuk anti tesis dari lema kebudayaan massa yang terus mencari.

Proses pencarian ini selalu nirkapital dan berusaha meneguhkan diri dalam bentuk yang lebih muda dan cenderung radikal. Bahkan tak jarang menjadi basis perlawanan terhadap hegemoni kebudayaan yang dicipta mainstream.

Generasi biru (hippies) di Amerika medio 60 an yang akrab dengan narkoba, sex dan urakan merupakan bentuk tesa sederhana untuk memantik perihal perlawanan terhadap kebudayaan mainstream.

Pihak yang berkuasa ini  biasanya coba berusaha menaklukan perlawanan ini dengan pelbagai tuduhan; sebagai gerakan anak bawang, rendahan dan tak bermutu. Namun, fakta berbicara lain, gerakan perlawanan ini malah menyebar dan laku di antara para anak muda.

Ujungnya tetap serupa, proses vis a vis yang sengaja digerakkan oleh kaum biasa ini tercium oleh kapital. Identifikasi yang dilakukan pun berujung pada proses material yang berbentuk sendu;  membentuk gumpalan yang kurang lebih sama dengan kebudayaan mainstream yang mereka lawan, dan berakhir dengan harakiri. Kata Chairil, mati iseng sendiri.

(Ah, siapa pula yang mengajak saya berbicara soal hippies)

Tapi, baiklah, saya tidak akan berbicara panjang lebar soal gerakan perlawanan mainstream ini. Toh masih banyak yang lain dan seperti halnya yang saya cakapkan di muka, saya hanya ingin berbicara remeh temeh soal Selo.  

Persoalan selo ini masih mengganggu pikiran saya. Toh, orang yang mendaku diri sebagai kaum selo bisa dicurigai sebagai mereka yang memagn tidak punya kesibukan dan pekerjaan.

Orang yang tidak punya pekerjaan biasanya akan mencari-cari alasan agar terlihat memiliki kesibukan atau paling tidak mereka akan mencari segela pembenaran untuk meneguhkan posisi mereka sebagai menusia nirpekerjaan. Syukur-syukur ia tidak pergi ke tempat anda, merajuk dan minat dikasih pekerjaan.

Tapi tunggu dulu, itu satu model.

Konon, Tan Malaka, pejuang kesepian itu, merupakan seorang penggangguran. Suatu hari ia ditanya oleh ibunya perihal pekerjaan. Sebagai orang tua, tentu saja ibunya sedih melihat anaknya itu luntang-lantung tidak jelas.

Untuk membuat ibunya gembira dan tidak sedih lagi, ia mengaku sudah mendapatkan pekerjaan. Ia pun membiasakan diri untuk tiap pagi pergi ke luar rumah dan pulang pada malam harinya seperti halnya orang kerja. Ketika ia ditanya, ia hanya menjawab.

”Saya bekerja di Komintern, Bu.”

Kira-kira begitulah Tan Malaka berkilah. Jika mau teliti, apakah itu komintern? Bukankah itu akronim dari Komunisme Internasional?

Betul, komintern merupakan sebuah organisasi dan lazimnya organisasi, tentu saja bukanlah tempat untuk bekerja lazimnya kebanyakan orang. Tapi sejarah membuktikan, orang yang selo seperti Tan Malaka yang mula berimajinasi tentang sebuah republik masa depan yang bernama Indonesia melalui bukunya Naar de Republic (1927).

Buku mungil yagn diselundupkan ke tanah air itu itu yang menjadi pegangan para pejuang dan juga menginspirasi WR Soepratman membuat Indonesia Raya—WR Soepratman ini merupakan Ahmadiyah, jadi jika ada yang diskriminatif terhadap mereka sungguh orang-orang ini tuna sejarah.

Nah, persoalan selo dan pengangguran ini ada guyonan di antara teman-teman. Kira-kira begini;

”Janganlah kalian buat diri kalian sibuk, toh karena menggaggur Bung Karno dan Hatta mampu membuat pekerjaan?”

“Apa maksudnya?”

“Lah, iya. Coba kalau mereka punya pekerjaan tetap, pasti ya disibukkan pekerjaan.”

“Wah, bisa diuraikan?”

“Sebab mereka tidak punya pekerjaan. Jadi ya pekerjaannya mikir. Mikir apalagi kalau tidak mikir negara. Maka jadilah Indonesia berawal dari tangan para penggangguran.”

Saya tergelak dan sukar menahan untuk tidak ketawa.

***

Persoalan selo ini memang biasa dan sederhana. Tentu saja kita tidak bisa menyamaratakan semua pekerja sonder bertanya perihal apa yang dikerjakannya.

Bahkan jadi, orang yang sukar mendapatkan waktu selo adalah mereka yang sedang memperjuangkan keadaan negara—seperti kekasih saya yang nun jauh disana, barangkali.

Atau bisa jadi, mereka yang tidak memiliki waktu selo adalah pengabdi kapita.

Atau bisa jadi orang yang selo adalah penggangguran.

Atau bisa jadi orang selo adalah aku.

Ciputat, 3 April
 @DedikPriyanto