Tendang, Terjang, Hadang

Tampilkan postingan dengan label catatan.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan.. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Lima Novel yang Menemani Saya Tumbuh


Kawan saya tumbuh itu kamu.

23 April adalah hari buku dunia. Tahun lalu, saya menulis di blog saya ini perihal beberapa buku saya yang pernah terbit. Bukan sesuatu yang fenomenal, tapi minimal mereka adalah penanda jejak, bahwa hidup ini cukup layak untuk sekadar dikenang—minimal oleh orang yang pernah membaca. Bahkan jika aku terpaksa meninggalkan dunia hari ini, saya tidak akan terlalu merugi.

Salah. Tentu saja saya akan rugi. Sebab apa yang saya tulis bukan sesuatu yang luar biasa seperti orang-orang kreatif mencipta anak-anaknya. Tapi sudahlah, di hari buku ini, saya hanya ingin berbagi perihal lima novel yang harus dibaca agar kamu tidak merasa rugi pernah singgah di dunia yang ringkih ini.

Tidak ada kriteria khusus tentang pemilihan lima novel ini. Hanya berdasarkan kesukaan saya saja. Juga tak ada pembatasan khusus atas genre tertentu, cuma hobi saya akan tema cinta, kenangan, masa lalu dan humor—dan tentu saja yang pernah saya baca.

Untuk itu, saya akan membagi menjadi lima novel Indonesia saja. Saya tidak bermaksud mendikotomi, tapi minimal lima novel menjadi teman yang begitu akrab dan hangat selama hampir lima tahun ini.

Tapi untuk itu, saya harus menyisihkan beberapa nama penulis lawas dari Indonesia semacam Pramoedya Ananto Toer, Seno Gumira Ajidarma, Mochtar Lubis, Mahbub Djunaidi, Toha Mohtar dan lain-lain. Nah, yang akan saya dedahkan adalah novelis muda yang dibawah 40-an. Saya pikir, merekalah pemegang estafet kepengarangan kita.

Cantik Itu Luka



Cantik Itu Luka. Gambar di sini
Novel ini ditulis Eka Kurniawan, penulis dari Tasikmalaya, generasi penulis Jogja dan salah satu penulis yang selalu saya tunggu karyanya. Entah kenapa saya begitu yakin, novel ini merupakan novel terbaik Indonesia saat ini. Begitu ritmis, liris dan magis. 

Gaya bertutur Eka yang menyerupai dongeng membuat hati saya tergerak untuk mencari sejauh mana istri dari novelis Ratih Kumala ini berproses. Ia pula yang membuat alam bawah sadar saya terus bergejolak dan menyimak narasi kesadaran dari Dewi Ayu, Si Cantik dan Kamerad Kliwon di dunia entah yang bernama Halimunda.

Novel ini mirip Marquez dengan One Years of Solitude dengan Macondo sebagai pijaknya. Tapi, sebagai seorang terinspirasi oleh Marquez—siapa pula yang tidak terinspirasi realisme magis yang diciptakannya—Eka Kurniawan begitu sukses, bahkan sangat sukses melebihi penulis yang ditirunya.

Tapi menyebut Eka tanpa menyibak realitas historis pribadinya adalah kesalahan. Sastra Indonesia adalah bagian dari peradaban dunia. Dan Eka lahir dari peradaban sastra dunia.

Jika kamu sempat membaca proses kreatif kepenenulisan Eka Kurniawan di di On/Off edisi  2006, kamu akan melihat bagaimana seorang lelaki yang diasuh oleh pengarang dunia semacam Knut Hamsun, Yasunawari Kawabata, Miguel de Carvantes dan tentu saja Gabriel Garcia Marquez.  

Tapi saat ini ia memutuskan untuk menyapih diri dari asuhan para penulis dunia ini. Ia pun berkata begini,”Hingga datang waktu saya harus menyapih diri dari para pengasuh, bahkan dari para orang tua, dan mencari sendiri teman, kekasih dan sekaligus musuh. Saya membaca buku apapun yang saya peroleh. Buku pengobatan maupun manual mengoperasikan telepon genggam. Lalu saya mulai menulis, dan dengan cara itulah, seorang pengarang menemui ajalnya."

Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta
Kover yang membuat jatuh cinta


Saya terpikat pertama kali lewat judul novel ini. Proses saya menemukannya pun harus dengan curi baca. Berawal dari kawan saya yang—entah meminjam darimana—membawa buku ini dan dibaca di teras depan kontrakan. Lalu entah kenapa kawan saya ini tiba-tiba ke kamar dan meletakkan bukunya di samping televisi.

Sontak saja, saya langsung membacanya dan menjauh. Tatkala kawan saya bangun dan mencari buku ini, saya sengaja berniat mencurinya. Belakangan ia tahu, saya hanya berdalih, buku itu saya baca dan lupa. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, saya ingin mencuri buku itu. walaupun saya tahu, kalau saya merajuk dan meminta pasti dikasih, tapi sekali lagi, saya ingin mencurinya. Itu saja.  Tidak salah, bukan? ?

Kovernya begitu buluk, tapi begitu menyentak; seorang lelaki yang tampak sedang mengayuh sepeda onthel dan dibelakangnya terdapat buku-buku. Sublim.

Novel ini berkisah perihal kehidupan sunyi yang harus dialami ketika orang memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meninggalkan dunia kuliah. Orang yang begitu mencintai dunia menulis dan buku hingga ia menukarkan hidup dan nyawanya hanya untuk membaca.

Tak hanya itu, buku ini juga mengulik dunia penerbitan Jogja yang riuh oleh penerbitan. Lengkap dengan pelbagai tipu daya dan unsur humor tentang dunia yang konon mencerdaskan manusia ini. Buku ini ditulis dengan apik oleh Muhidin M. Dahlan.

Satu hal lagi, buku ini merekam jejak Jogja sebagai kota buku, gerakan dan juga cinta. Juga memotret perdebatan masa awal 2000-an perihal debat buku terjemahan yang memantik sengit antara kubu penulis/penerjemah asal Jogja dan Jakarta yang acapkali sok pintar itu.

Namun, sayang sekali, beberapa bulan lalu saya menemukan buku ini diterbitkan ulang dengan perwajahan yang begitu mengecewakan dan diberi tajuk yang sangat buruk ‘Jalan Sunyi Seorang Penulis’. Ah, saya sungguh tidak simpati.

Jika Gus Muh, begitu ia disapa, membaca catatan sederhana ini, tolong kembalikan cinta saya kepada sosok pria ringkih berambut gondrong yang berada dalam ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta ini.

Dadaisme

Novel absurd dan kedalaman manusia. gambar di sini
Dadaisme adalah novel psikologis paling sublim selepas saya membaca novel klasik dari Toha Mohtar yang berjudul Pulang (1957). Walaupun berbeda cerita dan perwajahan dalam mengemas suasana psikologis, Entah kenapa, saya begitu menyukai novel ini. Novel yang ritmis dan penuh dengan tanda yang tidak akan selesai dengan dibaca satu kali.

Penulisnya masih muda, begitu muda malah. Novel ini pula yang memenangkan sayembara novel DKJ tahun 2005. Di tempat inipula, saya menemukan dunia ganjil yang entah berada di kepala siapa. Bisa saja dunia ini ada di kepalamu tapi tidak pernah bisa kamu mengerti.

Maka, simaklah sekelumit pembuka dalam novel ini, begini;
Sebut saja kota itu sebagai Metropolis—ada banyak alasan mengapa tidak pernah bisa disebutkan namanya—, sebuah kota yang bila mau disamakan seperti layaknya kota-kota besar dimanapun berada. Penuh dengan gedung-gedung besar, jalan-jalan layang membelah langit, mulusnya aspal-aspal yang berkilat disiram cahaya matahari, tidak juga lampu-lampu yang berkelap-kelip, atua lebih mengejanya; neon berwarna.

Begitulah, Dadaisme mencoba untuk tidak memberikan nama untuk bisa membuat orang jatuh cinta. Tapi ia akan membuat pembaca seperti saya jatuh hati pada halaman pertama. Begitu kira-kira.

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Jika kamu adalah seorang lelaki yang hidup dengan cinta, kenangan dan masa lalu yang mungkin suram atau penuh kesenduan. Maka saya sarankan jangan menbaca novel yang ditulis oleh penulis brengsek yang saya kagumi ini; Puthut EA.
jangan baca buku ini, bakal kecanduan :p

Karena novel ini, saya seakan menemukan diri saya melebur di dalamnya; seorang mahasiswa yang belum lulus, terserap pada dunia masa lalu, soerang pembunuh bayaran dan banyak ragam yang mengitarkan kehidupan yang entah, juga perihal cinta yang selalu kandas—entah siapa yang memasukkan kalimat ini di sini.

Di novel inipula, saya menemukan gaya bertutur yang lincah, penuh dengan humor, acapkali satir dan seringkali suram. Jadi, saya tidak bisa bercakap banyak soal novel dan penulis cerita ini, sila baca dan cari siapa tahu kamu menemukan dirimu juga di sini.

9 Dari Nadira

novel yang liris bernas.
Saya tidak bisa untuk mengeyahkan jalinan cerita dari Leila S. Chudori ini dari catatan ringan saya ini. Dunia rekaan yang dibangun oleh jurnalis Tempo ini memburatkan perwajahan cerita yang begitu ritmis dan penuh dengan tanda tanya.

Saya orang yang sangat suka dengan cerita berbau berita, seperti halnya saya menyukai cinta. Dan lewat 9 dari Nadira, Leila Chudori mampu menampilkan setting kantor berita yang sangat nyata.
Kadang saya berpikir, cerita-cerita di dalam ini merupakan kisah pribadi penulisnya yang sangat muram. Juga perjumpaan dengan Goenawan Mohammad yang lamat-lamat saya baca sebagai bentuk glorifikasi terhadap tokoh yang—terlepas dari kontroversinya—adalah orang yang begitu berjasa pada dunia sastra dan jurnalisme kita hari ini.

Mungkin ketika membaca catatan ini, kamu akan mendebat, bukankah 9 dari Nadira adalah bentuk kumpulan cerpen seperti yang tertera di pembukanya?

Tapi, coba anda perhatikan, pertalian dan pertautan antar mereka adalah jalinan kisah yang saling berjumpa. Saya lebih suka menggolongkan buku ini dalam jenis novel. Toh, kalau kita mau berdebat, bukankah tetralogi Buru karya Pram adalah jalinan kisah yang mampu berdiri sendiri—dan tak akan kehilangan makna jika dibaca bersambung.

Terlepas dari debat itu, kamu akan begitu rugi dalam hidupmu jika belum pernah membaca cerita ini. Bahkan menurut saya, ini lebih dari sublim gaya bercerita daripada Malam Terakhir dan karya terbarunya yang ditunggu khalayak, Pulang (2013).

***

Sekali lagi, lima novel di atas tidak menunjukkan apa-apa. Paling tidak, mereka telah menemani saya tumbuh dengan bacaan-bacaan yagn bermutu—dan dari Indonesia tentunya. Boleh kamu menyebutnya bacaan sastra yagn bermutuh. Toh, seperti kata SGA tempo hari saat ngobrol, tidak disebut sastra juga tidak apa-apa.

Sekali lagi, mereka ini yang menemani saya tumbuh dan bergeliat.

Ada beberapa novel sebenarnya, yang saya akan berdosa jika tidak menyebutnya dan mereka harus bersedia terlempar ke lima besar laiknya klub Liverpool yang selalu gagal masuk ke lima besar beberapa tahun belakangan.

Beberapa novel itu antara lain; Lelaki Harimau (Eka Kurniawan), Kronik Betawi (Ratih Kumala), Negara Kelima (ES Ito) dan tidak dilupakan adalah karya Seno Gumira Ajidarma; Kitab Omong Kosong, Negeri Senja, Kalatidha, dan lain-lain.

Hmm.. catatan saya menjadi panjang. Baiklah, itu lima novel yang menemani saya tumbuh. Kalau kamu?

Ciputat, 23 April 2013
@DedikPriyanto

Sabtu, 20 April 2013

Selepas Tujuh Purnama Itu


~ Kepada T
I
Mendadak semuanya begitu sendu. Caramu berbicara yang kian lirih, senarai pesan singkat yang terus memberi jawab, gelisah yang saling berbalas, serta pelbagai percakapan tak henti merupa alur hidup yang entah. Tak ada yang lebih menyehatkan daripada senyum gadis manis yang dengan tulus mengajakmu untuk sekadar berjalan membelah malam.

Aku masih ingat betul malam itu, kala kamu dengan genit menggamit tanganku dengan mesra membelah jalanan Malioboro. Hujan rintik menjadi saksi dan hangatnya tawamu adalah opium yang bagaimana aku bisa melupakannya hari itu—hingga kapan—aku tidak pernah bisa mengerti.

Bukankah kenangan dapat tercipta hanya dengan satu sentuhan, satu genggaman tangan, satu malam!

Sebab kangen adalah rasa purba yang tidak pernah mampu terjawab dari dua manusia yang jatuh cinta, dan jarak menjelma guru yang tak henti mengajarkan arti rindu.

Maka jatuh cinta kepadamu adalah nasib yang aku nikmati, walaupun sekali lagi, jarak menjelma guru yang  senanatiasa terus mengajari mengajari arti merindu.

“Bahkan sampai hari ini, kita tidak pernah mengerti siapa kekasih kita masing-masing,” tuturmu tempo hari di sebuah malam.

Lalu ponsel itu berhenti berdenyit, ada tangis sederhana yang lamat-lamat aku dengar dan getar dada yang sukar aku pahami.

Aku lupa, aku sungguh tidak mengingat kapan terakhir kali aku merasa begitu sedih dan begitu ingin pergi ke sebuah tempat yang tidak ada satupun mata yang menatapku. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, hilang sejauh-jauhnya dan berteriak sekeras-kerasnya.

Jatuh cinta memang sakit, Puan! Tapi, mencintai adalah menyiapkan hati untuk bahagia dan kecewa sekaligus. Kita tidak pernah bisa memesannya satu hanya satu. Aku menikmatinya. Sungguh.

Salah satu peristiwa yang paling aku hindari dalam hidup adalah melihat seorang perempuan menitikkan air mata. Suara yang parau, denting yang berjalan dengan sesenggukan, dan mata sayu berlinang air adalah perkara yang sukar aku terima.

Aku pernah melihatnya, dan aku tidak mau mengulangi hal yang serupa Aku acapkali melihat ibuku kala menangis dan aku benar-benar tidak sanggup untuk sekadar menatap matanya yang sendu itu. Kadang aku berpikir, betapa tidak adilnya manusia-manusia yang kerap menggangap tangisan adalah perbuatan cengeng, lemah dan goyah.

Bahkan hanya menisbahkan persoalan tangis kepada perempuan semata. Bukankah Che Guevara juga menangis kala mengirimkan surat dari kepada Fidel, isterinya yang tercinta itu, sebelum ditangkap oleh para bolivar yang berkhianat. Apakah sosok revolusioner itu cengeng?

Aku begitu yakin, seorang yang kuat bukanlah mereka yang mampu mengangkat beban ratusan kilogram, melainkan pribadi yang sanggup memberikan ruang bagi hatinya untuk menjadi manusia seutuhnya, yang mengerti bahwa hidup hanyalah perbendaharaan pemahaman kepada manusia lainnya.

Dan mendengarmu sesengguhkan menahan tangis merupakan episode sakit yang tak terperi, lebih sedih dibanding gagang badminton yang pernah tertancap di kaki kiriku kala beranjak dewasa. Seakan pusaran waktu berhenti dan malam terasa begitu panjang aku lalui.

“Terima kasih sudah menyayangiku. Itu adalah hal yang berarti bagiku,“ katamu di sebuah pesan singkat.

II

Mendadak semuanya begitu sederhana. Caramu merajuk dengan sedikit dengusan yang kian renyah, silang cakap yang terus memudarkan gelisah, tawa kecil yang mengitarkan gembira di semesta dan pelbagai perbincangan yang menawarkan pemahaman akan rindu yang terus memuncak. Tak ada kisah yang lebih sendu dari cinta yang menawarkan gelisah.

Aku masih ingat malam itu, sebuah malam ketika kita pertama kali saling menjejakkan pandang, menutupi apa yang tengah bergejolak lewat perbincangan-perbincangan biasa dan mendedahkan rasa yang entah tak bisa aku pahami—dan mungkin kamu juga.

Lalu semuanya menjadi begitu purna, di malam itu. Cinta merupakan putaran nasib yang harus dijalani sekuat-kuatnya. Kadang cinta tak harus disepakati dan sedih adalah pilihan yang harus terterima jika rasa tak bertaut. Semesta akan menjadi kabar dari kesunyian bagi mereka yang percaya akan cinta. 

Nasib adalah kesunyian masing-masing, kata Chairil. Dan cinta merupakan kesenduan masing-masing, kataku.

Lima belas Oktober dua ribu dua belas adalah janji. Janji mengikat rasa yang telah mengudar di semesta. Jika toh bisa, aku ingin membungkus semesta ini menjadi sebuah kado kecil, lalu aku antar ke kantor pos dan membubuhkan alamat rumahmu di sana.

Tak ada keinginan lain melebihi itu.

Hening kerap ternyata dari percakapan-percakapan biasa. Masa bergulir seperti janji yang tak pernah teringkari dan matahari tiap hari menyapa tanpa henti. Tanpa aku sadari, kisah itu sudah berjalan hampir tujuh bulan sejak sebuah malam yang—penuh—gelisah cinta itu.

Aku tidak pernah tahu kisah ini akan berjalan sampai mana, seperti halnya aku tidak pernah tahu kapan akan merasa lelah untuk terus mencintaimu—dan aku tidak pernah berpikir untuk berhenti.

Namun aku yakin, akan datang suatu masa yang bakal menentukan kisah ini bertaut, memilih untuk berada di dermaga sembari memandang lautan yang luas atau berhenti di  terminal dan membuat kita menaiki bus masing-masing ke tujuan yang entah.

Belakangan ini,  beban pekerjaan yang kian menumpuk membuatmu limbung dan jatuh sakit. Entah kenapa aku begitu bingung dan seakan tidak punya daya untuk melangkahkan kaki beberapa hari. Ingin rasanya ragaku ke sana, membuatkan teh hangat untukmu, menyuapimu bubur dan menemanimu meminum obat.

Dunia terasa begitu suram. Apakah aku terlalu berlebihan? Ah sudahlah.

Aku menulis ini dengan iringan lagu Broery Marantika dan Dewi Yull yang berjudul ‘Sepanjang Jalan Kenangan’. Dan jalan kita memang penuh kenangan. Bukan saja untukku, tapi untuk senyum manismu dan semesta yang selalu menyimpan cerita tentang kita.

Jakarta, 18 April 2013
@DedikPriyanto

Selasa, 09 April 2013

Madesu

Apa itu masa depan?
Sebut saja namanya Desta, lelaki berparas sunda dengan potongan rambut lurus. Beberapa hari ini ia begitu sedih lantaran takut akan masa depan. “Begitu suram, bung. Rasa-rasanya saya tidak sanggup menyaksikan masa depan hidupku,” ujarnya suatu sore.

Saya pun menawarinya makan bakso di dekat saya. Awalnya ia tidak mau, tapi selepas ia bercerita sedikit sebagai pembuka tentang perkara yang membuatnya takut, ia akhirnya mau juga. Saya pun aga kesal. Coba bayangkan, ia tiba-tiba datang ke kontrakan dan mulai membolak-balikan buku, belum usai ia taruh lalu dibolak-balikan. Ia tampak gusar.

Lalu saya coba untuk bertanya, ia malah tidak menjawab. Saya yang sedang membaca pun tidak nyaman. Buku saya singkirkan, lalu saya mengajaknya berbincang. Baru berbicara beberapa menit, ia ijin untuk tiduran. Ya, terpaksa, saya membolehkan walaupun agak kesal.

Tapi ujung-ujungnya tetap sama. Ia tidak tidur dan saya agak jengkel. Apalagi ia sesekali mendengus. Hingga sore menjelang dan saya mulai lapar. Tapi kawan saya ini masih berperilaku yang sama; murung dan berperilaku tidak jelas.

Hingga akhirnya ia mau cerita, walau hanya pembuka tentang kegelisahannya dan maaf, saya tidak bisa menceritakan segala kegundahannya. Takut-takut ia marah, kalap dan menyuruh seorang sniper untuk menembak saya dari atap kontrakan sebelah.

Tapi, satu hal yang berkali-kali saya katakan kepadanya.”Tidak ada masa depan. Jadi tidak usah ditakuti.”

Kenapa tidak ada masa depan?

Entah kenapa, saya selalu berpikir bahwa masa depan bukanlah hal yang istimewa. Biasa saja, seperti halnya orang makan, tidur dan bercengkerama dengan sesama manusia. Ia adalah siklus hidup yang harus dijalani manusia. Jika pun takut, buat apa hidup.

Tapi kenapa, saya selalu heran dengan sikap orang-orang yang selalu mendefinisikan hidup dengan masa depan.  Khususnya jika

Itupula agaknya hal ini menjadikan saya orang yang begitu selektif—paling tidak—tidak menera sesuatu yang nanti, jatuhnya, akan membuat saya berpikir masa depan pada landasan finansial semata.

Tentu saja tetek bengek urusan ekonomi ini begitu menyita saya ketika mulai membandingkan dengan taraf pendidikan yang akan dan sedang direngkuh oleh seseorang.

Logika umumnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, berbanding lurus dengan tingkat pendapatan yang akan diterima. Syukur-syukur ia menjaga pegawai negara, yang harus duduk beberapa jam saja dan digaji dengan tetap tiap bulannya.

Gaji tersebut bisa mencukupi hidupnya. Apalagi jika hidup di daerah yang nilai ekonomisnya lebih rendah dari gaya hidup  sekitar. Namun keluhan itu tidak saja berhenti pada urusan finansial semata.

Banyak orang yang saya lihat hidup sebagai pegawai negara dengan tingkat pendidikan yang ternyata lebih rendah dari biasa.

Mereka ini bisa mereka yang cuma lulusan ala kadarnya tapi mempunyai jaringan yang cukup kurang ajarnya. Bisa jadi karena ayah, kakek atau keluarga lainnya adalah dedengkot yang terbiasa dengan menempatkan orang pada pekerjaan tertentu.

Kalau toh ada yang beruntung, itu pasti manusia-manusia langka yang harusnya mendapatkan penghargaaan.

Sebab mereka tidak mempunyai kekuasaan dan begitu beruntung menjadi masuk ke golongan mereka yang berkuasa (baca: lingkaran pegawai). Tapi jika ia melakukan hal yang serupa dengan orang yang saya sebutkan di atas, baiknya ia disambar petir saja.

Lalu bagi mereka yang mempunyai kedudukan lewat jalur kekuasaan, saya yakin mereka tidak akan memikirkan bagaimana mendapatkan pengalaman. Biasanya hidupnya akan monoton.
Tentu saja saya bertemu dengan ragam orang dengan model begini.

Mereka akan hidup dengan sesukanya, dengan seenaknya, tapi masa depan akan terpampang jelas di mukanya; pegawai. Keluarga akan bahagia dengan materi, mungkin, lalu beranak pinak. Hidup itu sederhana, bukan? Kata mereka.

Menurutku, hidupmu itu tidak menarik, kawan. Tak ada yang kau tinggalkan selain tangis keluarga saaat kamu meninggal.

Lain cerita dengan beberapa orang—mungkin termasuk Desta dan—orang-orang macam saya yang terus berkeluh kesah tentang masa depan yang suram, dan kian mendekati.

Kalau didekati perempuan cantik dengan membawa secangkir kopi tentu bukan perkara yang tidak boleh dihindari, tapi jika yang mendekat adalah wajah suram bernama masa depan yang tidak tentu, tentu kita akan terbirit-terbirit menghindari. Seakan bertemu monster besar yang sewaktu-waktu menerkam.
 
Lalu, kenapa saya jadi berbicara tentang masa depan dan selingkuh pekerjaan karena kedekatan? Biarkan saja menjalani hidupnya, asalkan satu; tidak menyebarkan ketololan itu kepada generasi bawahnya. Sebab orang tolol pantasnya dibelikan eskrim dan dimasukkan dalam kelas TK dan diberi pelajaran soal etika hidup di dunia.

Kawan saya tadi makan dengan lahap dan semoga saya bisa kembali membaca dengan tenang. Begitu.

@DedikPriyanto

Sabtu, 06 April 2013

Kepada Seorang Kawan yang Tak Ingin Kusebut Namanya (2)

Aku tidak tahu harus mengawali darimana suratku ini. Yang pasti,  maghrib ini aku merasa begitu kesepian—dan enggan bercerita kepada siapapun. Sebab segala pergolakan dalam arus informasi membuatku semakin sakit kepala.

Oh tidak, maksudku bukan sakit kepala akibat sakit yang segera akan sembuh dengan menenggak aspirin atau cepat reda dengan secangkir kopi pahit. Tapi aku melihat orang-orang pada sakit dan mereka berjalan-jalan dengan sesuka kepalanya; jalan-jalanan memburam, langit yang risau dan udara yang sesak.

Aku merasakan bahwa dunia ini sudah tidak menarik lagi untuk ditempati. Oh ya, bagaimana kabarmu, Kawan! Aktivitas politik tentu akan menyita perhatianmu saat ini. Perihal konsituen yang tersebar di pelosok dan kamu sambangi saban minggu, atau celoteh para seniormu yang berbusa membincang negara.

Aku pernah berkata bahwa aku sungguh tidak simpatik dengan pilihanmu yang terjun ke politik praktis. Kamu pasti akan berkata, ini sebuah pilihan dan memintaku untuk memahaminya. Syukur kalau kamu tidak memarahiku lantas berlirih bahwa aku kontra politik, nirkesadaran dan terlalu berada di menara gading dengan konsep hidupku ini.

Kawan,

Aku sangat memhami pilihan logismu untuk berpolitik. Tapi jangan lupa, bahwa politik itu merupakan seni yang paling kotor. Orang-orang menyebutnya sebagai seni segala kemungkinan. 
Kemungkinan bisa menjadi begitu buruk dan begitu tidak menarik untuk disalahartikan dalam koridor sempat aras politik kita yang transaksional model—kamu tentu lebih paham dariku soal beginian.

Satu hal yang pasti, aku masih ingat beberapa percakapan-percakapan kita tempo hari, bahwa toh politik adalah tindakan yang menantang, tapi kita tetap saja tidak pernah melepaskannya, seperti halnya tidak pernah melepaskan diri kita dari negara.  Dan lazimnya sebuah tantangan, ia berpotensi untuk sebuah kecelakaan.

Kecelakaan itulah yang kalau boleh memilih—dan aku memilih untuk tidak memilih—harus bisa kamu eleminiasi, bahwa tidak semua kekalahan akan senyap dengan hanya melibatkan prakondisi politik kita yang karut marut selepas Soeharto berkuasa dan ’98 yang menjadi reformasi setengah hati, adalah bentuk tindakan apolitis. Tidak!

Sekali lagi aku tegaskan, tidak! Tentu saja seorang Samin akan tetap menjadi pemelihara walaupun tanpa ada negara, dan ia akan melawan negara. Aku tiba-tiba teringat riungan di warung kopi semalam.”Nikmati hidup sebagai manusia!”

Aku hanya ingin dikenal sebagai manusia, yang bebas. Tapi adakah manusia yang bebas? Bukankah sebuah kebebasan selalu beririsan dengan manusia lain dan konsep kebebasan merupakan bentuk utopia manusia yang kesepian?

Ah, sudahlah, kawan.

Matahari tampaknya sudah bangun dan aku harus segera mematikan komputer. Kamu tahu bahwa aku tidak suka pagi. Sebab pagi menawarkan kegelisahan. Tentu saja untuk ini kita bisa berdebat, dan aku rindu berdebat seorang kawan seperti dirimu. Begitu. 

@DedikPriyanto
(Ditulis saat matahari tidur dan diselesaikan saat matahari bangun)







Kamis, 04 April 2013

Mimpi Sore Ini

 (Apakah kamu pernah bermimpi? gambar diambil di sini)
Semua orang terbiasa tidur dan bermimpi. Bedanya, biasanya mimpi mereka terjadi pada malam hari. Sedangkan saya, harus bermimpi kala sore tiba dan mimpi saya kali ini berbeda.

Di mimpi saya sore ini, lamat-lamat saya melihat sosok beberapa sastrawan dan penyair yang menghampiri.  Agak buram memang, tapi saya secara jelas saya menyaksikan Rendra berada di balik pintu. Ia berdiri dengan baju cokelat.

Rambutnya masih gondrong. Lingkar wajah yang masih serupa. Hidung yang jambu mete yang masih sama dan kerutan di sekitar kening yang tetap saja tak berubah.

Ia enggan menemui saya yang berada di dalam ruangan-entah itu ruangan apa saya juga tidak tahu. Atau barangkali bukan sebuah ruangan.

Berbeda dengan pengarang lain. Saya masih ingat, saya bersalaman dengan Sutardji. Rambut panjangnya digulung ke belakang dan topi berwarna buram. Presiden penyair itu memakai jaket dan tersenyum kepada saya.

Juga ada Seno Gumira Ajidama, bahkan kita sempat beberapa kali berbincang. Ia masih sama, setelan baju hitam, anting yang menempel di dua telinga dan rambut yang gondrong serta memutih. Entah apa juga yang diperlihatkan.

Saya berusaha untuk keluar ruangan, berusaha untuk menemui Rendra. Saya sempat meliriknya sebentar dan dia tersenyum. Tapi tampaknya ia tidak mau bersama saya yang waktu itu sedang bersama kerumunan.

Saya merasa langit saat itu cerah. Ada kopi dan beberapa gorengan. Lalu saya coba ingin mendekati dia.....

(saya tiba-tiba terbangun)

Saya mendengar azan isya’ berkumandang, langit tampak murung. Kemungkinan sebentar lagi hujan.

Tadi siang saya sedang membaca buku Kontrovesi Hadiah Magsaysay (1996) perihal polemik di media massa yang mencatut nama Pram dan beberapa jurnalis dan sastrawan. Khususnya mereka yang terlibat dalam prahara budaya antara Lekra dan Manikebu.

Tapi saya dengan posisi Rendra, ia tidak langsung menyalahkan pihak eks manikebu yang mendiskreditkan Pram perihal Magsaysay award yang diberikan kepadanya.

Menurut Rendra, mereka akan serupa dengan apa yang dilakukan Pram dan itu tidak baik bagi lokus kebudayaan kita. Tapi ia juga mengritik agar tidak jumawa dan melupakan masa ia berkuasa bersama Lentera. Biar generasi kita tidak satu arah saja, menurutnya.

Ah, apakah mimpi saya ini berkaitan dengan bacaan barusan? Ah.. sudahlah, saya ingin mandi saja.

@DedikPriyanto