Tendang, Terjang, Hadang

Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Lima Novel yang Menemani Saya Tumbuh


Kawan saya tumbuh itu kamu.

23 April adalah hari buku dunia. Tahun lalu, saya menulis di blog saya ini perihal beberapa buku saya yang pernah terbit. Bukan sesuatu yang fenomenal, tapi minimal mereka adalah penanda jejak, bahwa hidup ini cukup layak untuk sekadar dikenang—minimal oleh orang yang pernah membaca. Bahkan jika aku terpaksa meninggalkan dunia hari ini, saya tidak akan terlalu merugi.

Salah. Tentu saja saya akan rugi. Sebab apa yang saya tulis bukan sesuatu yang luar biasa seperti orang-orang kreatif mencipta anak-anaknya. Tapi sudahlah, di hari buku ini, saya hanya ingin berbagi perihal lima novel yang harus dibaca agar kamu tidak merasa rugi pernah singgah di dunia yang ringkih ini.

Tidak ada kriteria khusus tentang pemilihan lima novel ini. Hanya berdasarkan kesukaan saya saja. Juga tak ada pembatasan khusus atas genre tertentu, cuma hobi saya akan tema cinta, kenangan, masa lalu dan humor—dan tentu saja yang pernah saya baca.

Untuk itu, saya akan membagi menjadi lima novel Indonesia saja. Saya tidak bermaksud mendikotomi, tapi minimal lima novel menjadi teman yang begitu akrab dan hangat selama hampir lima tahun ini.

Tapi untuk itu, saya harus menyisihkan beberapa nama penulis lawas dari Indonesia semacam Pramoedya Ananto Toer, Seno Gumira Ajidarma, Mochtar Lubis, Mahbub Djunaidi, Toha Mohtar dan lain-lain. Nah, yang akan saya dedahkan adalah novelis muda yang dibawah 40-an. Saya pikir, merekalah pemegang estafet kepengarangan kita.

Cantik Itu Luka



Cantik Itu Luka. Gambar di sini
Novel ini ditulis Eka Kurniawan, penulis dari Tasikmalaya, generasi penulis Jogja dan salah satu penulis yang selalu saya tunggu karyanya. Entah kenapa saya begitu yakin, novel ini merupakan novel terbaik Indonesia saat ini. Begitu ritmis, liris dan magis. 

Gaya bertutur Eka yang menyerupai dongeng membuat hati saya tergerak untuk mencari sejauh mana istri dari novelis Ratih Kumala ini berproses. Ia pula yang membuat alam bawah sadar saya terus bergejolak dan menyimak narasi kesadaran dari Dewi Ayu, Si Cantik dan Kamerad Kliwon di dunia entah yang bernama Halimunda.

Novel ini mirip Marquez dengan One Years of Solitude dengan Macondo sebagai pijaknya. Tapi, sebagai seorang terinspirasi oleh Marquez—siapa pula yang tidak terinspirasi realisme magis yang diciptakannya—Eka Kurniawan begitu sukses, bahkan sangat sukses melebihi penulis yang ditirunya.

Tapi menyebut Eka tanpa menyibak realitas historis pribadinya adalah kesalahan. Sastra Indonesia adalah bagian dari peradaban dunia. Dan Eka lahir dari peradaban sastra dunia.

Jika kamu sempat membaca proses kreatif kepenenulisan Eka Kurniawan di di On/Off edisi  2006, kamu akan melihat bagaimana seorang lelaki yang diasuh oleh pengarang dunia semacam Knut Hamsun, Yasunawari Kawabata, Miguel de Carvantes dan tentu saja Gabriel Garcia Marquez.  

Tapi saat ini ia memutuskan untuk menyapih diri dari asuhan para penulis dunia ini. Ia pun berkata begini,”Hingga datang waktu saya harus menyapih diri dari para pengasuh, bahkan dari para orang tua, dan mencari sendiri teman, kekasih dan sekaligus musuh. Saya membaca buku apapun yang saya peroleh. Buku pengobatan maupun manual mengoperasikan telepon genggam. Lalu saya mulai menulis, dan dengan cara itulah, seorang pengarang menemui ajalnya."

Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta
Kover yang membuat jatuh cinta


Saya terpikat pertama kali lewat judul novel ini. Proses saya menemukannya pun harus dengan curi baca. Berawal dari kawan saya yang—entah meminjam darimana—membawa buku ini dan dibaca di teras depan kontrakan. Lalu entah kenapa kawan saya ini tiba-tiba ke kamar dan meletakkan bukunya di samping televisi.

Sontak saja, saya langsung membacanya dan menjauh. Tatkala kawan saya bangun dan mencari buku ini, saya sengaja berniat mencurinya. Belakangan ia tahu, saya hanya berdalih, buku itu saya baca dan lupa. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, saya ingin mencuri buku itu. walaupun saya tahu, kalau saya merajuk dan meminta pasti dikasih, tapi sekali lagi, saya ingin mencurinya. Itu saja.  Tidak salah, bukan? ?

Kovernya begitu buluk, tapi begitu menyentak; seorang lelaki yang tampak sedang mengayuh sepeda onthel dan dibelakangnya terdapat buku-buku. Sublim.

Novel ini berkisah perihal kehidupan sunyi yang harus dialami ketika orang memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meninggalkan dunia kuliah. Orang yang begitu mencintai dunia menulis dan buku hingga ia menukarkan hidup dan nyawanya hanya untuk membaca.

Tak hanya itu, buku ini juga mengulik dunia penerbitan Jogja yang riuh oleh penerbitan. Lengkap dengan pelbagai tipu daya dan unsur humor tentang dunia yang konon mencerdaskan manusia ini. Buku ini ditulis dengan apik oleh Muhidin M. Dahlan.

Satu hal lagi, buku ini merekam jejak Jogja sebagai kota buku, gerakan dan juga cinta. Juga memotret perdebatan masa awal 2000-an perihal debat buku terjemahan yang memantik sengit antara kubu penulis/penerjemah asal Jogja dan Jakarta yang acapkali sok pintar itu.

Namun, sayang sekali, beberapa bulan lalu saya menemukan buku ini diterbitkan ulang dengan perwajahan yang begitu mengecewakan dan diberi tajuk yang sangat buruk ‘Jalan Sunyi Seorang Penulis’. Ah, saya sungguh tidak simpati.

Jika Gus Muh, begitu ia disapa, membaca catatan sederhana ini, tolong kembalikan cinta saya kepada sosok pria ringkih berambut gondrong yang berada dalam ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta ini.

Dadaisme

Novel absurd dan kedalaman manusia. gambar di sini
Dadaisme adalah novel psikologis paling sublim selepas saya membaca novel klasik dari Toha Mohtar yang berjudul Pulang (1957). Walaupun berbeda cerita dan perwajahan dalam mengemas suasana psikologis, Entah kenapa, saya begitu menyukai novel ini. Novel yang ritmis dan penuh dengan tanda yang tidak akan selesai dengan dibaca satu kali.

Penulisnya masih muda, begitu muda malah. Novel ini pula yang memenangkan sayembara novel DKJ tahun 2005. Di tempat inipula, saya menemukan dunia ganjil yang entah berada di kepala siapa. Bisa saja dunia ini ada di kepalamu tapi tidak pernah bisa kamu mengerti.

Maka, simaklah sekelumit pembuka dalam novel ini, begini;
Sebut saja kota itu sebagai Metropolis—ada banyak alasan mengapa tidak pernah bisa disebutkan namanya—, sebuah kota yang bila mau disamakan seperti layaknya kota-kota besar dimanapun berada. Penuh dengan gedung-gedung besar, jalan-jalan layang membelah langit, mulusnya aspal-aspal yang berkilat disiram cahaya matahari, tidak juga lampu-lampu yang berkelap-kelip, atua lebih mengejanya; neon berwarna.

Begitulah, Dadaisme mencoba untuk tidak memberikan nama untuk bisa membuat orang jatuh cinta. Tapi ia akan membuat pembaca seperti saya jatuh hati pada halaman pertama. Begitu kira-kira.

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Jika kamu adalah seorang lelaki yang hidup dengan cinta, kenangan dan masa lalu yang mungkin suram atau penuh kesenduan. Maka saya sarankan jangan menbaca novel yang ditulis oleh penulis brengsek yang saya kagumi ini; Puthut EA.
jangan baca buku ini, bakal kecanduan :p

Karena novel ini, saya seakan menemukan diri saya melebur di dalamnya; seorang mahasiswa yang belum lulus, terserap pada dunia masa lalu, soerang pembunuh bayaran dan banyak ragam yang mengitarkan kehidupan yang entah, juga perihal cinta yang selalu kandas—entah siapa yang memasukkan kalimat ini di sini.

Di novel inipula, saya menemukan gaya bertutur yang lincah, penuh dengan humor, acapkali satir dan seringkali suram. Jadi, saya tidak bisa bercakap banyak soal novel dan penulis cerita ini, sila baca dan cari siapa tahu kamu menemukan dirimu juga di sini.

9 Dari Nadira

novel yang liris bernas.
Saya tidak bisa untuk mengeyahkan jalinan cerita dari Leila S. Chudori ini dari catatan ringan saya ini. Dunia rekaan yang dibangun oleh jurnalis Tempo ini memburatkan perwajahan cerita yang begitu ritmis dan penuh dengan tanda tanya.

Saya orang yang sangat suka dengan cerita berbau berita, seperti halnya saya menyukai cinta. Dan lewat 9 dari Nadira, Leila Chudori mampu menampilkan setting kantor berita yang sangat nyata.
Kadang saya berpikir, cerita-cerita di dalam ini merupakan kisah pribadi penulisnya yang sangat muram. Juga perjumpaan dengan Goenawan Mohammad yang lamat-lamat saya baca sebagai bentuk glorifikasi terhadap tokoh yang—terlepas dari kontroversinya—adalah orang yang begitu berjasa pada dunia sastra dan jurnalisme kita hari ini.

Mungkin ketika membaca catatan ini, kamu akan mendebat, bukankah 9 dari Nadira adalah bentuk kumpulan cerpen seperti yang tertera di pembukanya?

Tapi, coba anda perhatikan, pertalian dan pertautan antar mereka adalah jalinan kisah yang saling berjumpa. Saya lebih suka menggolongkan buku ini dalam jenis novel. Toh, kalau kita mau berdebat, bukankah tetralogi Buru karya Pram adalah jalinan kisah yang mampu berdiri sendiri—dan tak akan kehilangan makna jika dibaca bersambung.

Terlepas dari debat itu, kamu akan begitu rugi dalam hidupmu jika belum pernah membaca cerita ini. Bahkan menurut saya, ini lebih dari sublim gaya bercerita daripada Malam Terakhir dan karya terbarunya yang ditunggu khalayak, Pulang (2013).

***

Sekali lagi, lima novel di atas tidak menunjukkan apa-apa. Paling tidak, mereka telah menemani saya tumbuh dengan bacaan-bacaan yagn bermutu—dan dari Indonesia tentunya. Boleh kamu menyebutnya bacaan sastra yagn bermutuh. Toh, seperti kata SGA tempo hari saat ngobrol, tidak disebut sastra juga tidak apa-apa.

Sekali lagi, mereka ini yang menemani saya tumbuh dan bergeliat.

Ada beberapa novel sebenarnya, yang saya akan berdosa jika tidak menyebutnya dan mereka harus bersedia terlempar ke lima besar laiknya klub Liverpool yang selalu gagal masuk ke lima besar beberapa tahun belakangan.

Beberapa novel itu antara lain; Lelaki Harimau (Eka Kurniawan), Kronik Betawi (Ratih Kumala), Negara Kelima (ES Ito) dan tidak dilupakan adalah karya Seno Gumira Ajidarma; Kitab Omong Kosong, Negeri Senja, Kalatidha, dan lain-lain.

Hmm.. catatan saya menjadi panjang. Baiklah, itu lima novel yang menemani saya tumbuh. Kalau kamu?

Ciputat, 23 April 2013
@DedikPriyanto

Rabu, 16 Mei 2012

Menguak Dosa Nurdin Halid



Judul              : Dosa-Dosa Nurdin Halid
Penulis           : Erwiyantoro
Tahun            : I, Februari 2011
Penerbit         : Galang Press, Jogjakarta.
Tebal             : 274 Halaman





Kisruh persepakbolaan nasional begitu menyita banyak perhatian. Tidak hanya para praktisi, rakyat jelata pun tak luput membicarakannya. Sosok yang acapkali dianggap sebagai otak keruwetan itu adalah Nurdin Halid. Lalu, mengapa ia begitu dibenci khalayak?

Pada titik ini, buku yang bertajuk “Dosa-Dosa Nurdin Halid” agaknya menjadi jawaban di tengah memanasnya konflik, serta pelbagai perang tafsir atas statuta FIFA antara pemerintah di satu sisi, dan PSSI di sudut yang lain.  Pun ditulis oleh seorang jurnalis senior, Erwiyantoro, yang telah malang melintang  hampir 40 tahun di jagad sepakbola tanah air, dan menjadi saksi sejarah perjalanan PSSI dari masa lampau sampai detik sekarang.

Maka berawal dari catatan dan obrolan imajiner di situs jejaring sosial. Mas toro, begitu ia kerap disapa, menghadirkan narasi dengan fakta yang cukup menggelitik. Juga seakan menjadi bukti paling sahih kedigdayaan Nurdin  dalam jagad persepakbolaan nasional. Salah satu realita yang tak terbantahkan  adalah kemampuan dia menyetir organisasi di balik jeruji besi. Bahkan, dalam sejarah dunia, hal demikian cuma ada di negeri ini, Indonesia.

Induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) sudah memberi peringatan  keras. Bahkan mewanti-wanti akan memberi sanksi tegas jika teguran itu diindahkan. Namun, semua terpental. Menurut penulis buku ini, kepiawaian Nurdin ada pada kekuatan lobi dan ramuan jejaring yang dimiliki. Hingga sanggup membungkam pelbagai kontroversi dan polemik yang menginginkan beliau lengser dari tampuk kepemimpinan yang sudah digenggamnya selama delapan tahun.

Lelaki yang juga seorang pebisnis itu dianggap telah mencampuradukkan antara kepentingan politik dan sepabola demi keuntungan, dan hasrat pribadi. Di dunia persepakbolaan modern, kedua hal tersebut harus dihindari. Bahkan FIFA secara tegas melarang adanya politisasi dan intervensi dalam bentuk apapun. Termasuk juga penyalahgunaan hak interogatif.

Di sinilah salah satu titik pijak kesalahannya. Sebagai ketua, ia kerapkali mengintervensi keputusan Komisi Disiplin (Komdis) guna melegalkan posisinya sebagai pemangku kebijakan. Termasuk mengelabui FIFA pada Munaslub Makassar pada tahun 2008. Buntutnya, ia terpiilih kembali  secara aklamasi. Tanpa ada pemungutan suara yang jelas dan transparan laiknya sistem demokratisasi yang ada pada tiap organisasi.

Begitu juga soal keuangan. PSSI dianggap sebagai salah satu lumbung tambun untuk korupsi. Tidak adanya kejelasan soal pendanaan di tubuh organisasi,  menyebabkan opini publik semakin tidak percaya. Bahkan merasa pesimistis persepakbolaan Indonesia bisa menjadi mandiri dan professional jika pengurusnya masih orang yang sama.

Puncaknya adalah pada jebloknya prestasi tim nasional. Hampir tidak ada yang bisa dibanggakan selama periode kepemimpinan dia. Tim nasional kita seakan hanya mampu menjadi penonton pada tiap pesta sepakbola dunia.  Padahal, negeri tetangga semacam Malaysia dan Singapura sudah mempu merengkuh juara AFF. Sedangkan kita, harus cukup puas melanggengkan tradisi sebagai runner up kejuaran tingkat Asia Tenggara tersebut.

Meskipun ada, itupun hanya sebatas Piala Kemerdekaan yang  kontroversial. Karena demi gelar, pengurus PSSI disinyalir telah melakukan kecurangan. Hingga membuat tim lawan mogok bertanding, dan memudahkan merengkuh juara tanpa mengeluarkan setetes pun keringat. Namun, semua itu seolah belum mampu untuk menggulingkan Nurdin dari kursi panas senayan.

Sebagai seorang jurnalis, tentu penulisnya punya pandangan yang cukup objektif melihat permasalahan yang menjangkiti PSSI. Di buku ini, pembaca seakan diajak untuk berkaca dalam pemetaan konflik yang tengah terjadi. Bukan serampangan dengan menyudutkan satu pihak bersalah atas yang lain. Walau kovernya sendiri sangat menantang untuk dibaca.


NB: resensi ini pernah dimuat di KoJak dg judul Menguak Kedigdayaan Nurdin, sekadar pengingat tulisan. sayang saya tidak sempat mengkliping koran tersebut. link gambar--> https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyM7Kzyr6pzZP883untBkEeL53YjZESLqrRVIcWKPT_eB8dXCVDBJpqCrRg6lGX_I2TvwgLudOWl8LCWhDgzQ7By1KvKZXBmSoXF61voOHuoADv2brOqgja3dHw_89km6yOmCCkZF2e8Qb/s1600/Buku-Dosa-Nurdin-Halid.jpg

Kamis, 10 Mei 2012

Narasi Pilu Penduduk Pulau


Judul               :  Lelaki Laut; Mengayuh Cita-Cita dan Harapan dari Pulau Seribu
Penulis             : Alamsyah M. Dja’far
Penerbit           : Gramedia, Jakarta.
Terbit               : I, Desember 2010
Tebal               : 204 hal.



Acapkali kita mendengar kelakar mendayu bahwa nenek moyang bangsa ini merupakan seorang pelaut. Bahkan ribuan pulau yang berderet sepanjang nusantara adalah bukti kejayaan masa lampau. Namun apa jadinya jika semua itu tidak mampu mensejahterakan penduduknya?

Tak ayal, yang terjadi adalah ketimpangan yang deras menimpa mereka. Geliat inilah yang coba dikemukakan oleh penulisnya, Alamsyah M. Dja’far, dalam novel yang bertajuk “Lelaki Laut” ini. Pria yang juga merupakan jurnalis ini adalah produk asli pesisir Pulau Tidung. Sebuah  gugusan dari Kepulauan Seribu yang terkenal multi etnik.

Adalah Bang Jar, lelaki yang dikisahkan dalam novel ini, yang terlahir diantara tumpukan ketidakadilan yang dialami penduduk pulau. Betapa tidak, secara geografis letak mereka tidaklah jauh dari pusat pemerintahan. Sudah selayaknya daerah tersebut mendapat perlakuan  yang sama dalam segala bidang. Baik sarana fisik, ekonomi, maupun pendidikan.

Alih-alih mendapatkan semua itu, yang diperoleh hanya kesenjangan yang semakin dalam antara pemodal dengan penduduk asli yang rata-rata nelayan dan buruh. Pun masuknya budaya-budaya asing yang menggerogoti pluralitas masyarakat pulau. Terutama kaum muda yang seolah berbangga ria jika sukses mengadopsi lelaku barat dalam kesehariannya.

Di sinilah posisi lelaki itu seolah menjadi representasi paradigma berpikir generasi muda yang ada di pulau. Bahwa menjadi nelayan dan menjelajah lautan yang luas agaknya lebih menjanjikan dibanding harus berlelah keringat di bangku sekolah. Tak terkecuali Bang Jar. Padahal orang tuanya relatif mampu dibanding penduduk pulau lainnya.

Kelihaian penulisnya teruji dengan tidak menempatkan tokoh utama sebagai pihak subordinat laiknya novel kebanyakan. Melainkan memosisikannya pada ranah yang tidak sulit dijangkau logika.  Realis dan bernas.  Yang dalam kacamata positivistik, harusnya berjalan sesuai dengan arah peradaban yang semakin membaik tatkala didukung dengan pelbagai fasilitas.

Goncangan hebat terjadi ketika ayahnya wafat di Mekah untuk menunaikan ibadah haji.  Ia depresi, juga kecewa dengan dirinya sendiri yang dinilai gagal menjadi anak yang berbakti. Minum-minuman keras mulai diakrabi. Juga segala bentuk keburukan lainnya. Sedang untuk menghidupi dirinya, ia berkelana dan mengamen di Jakarta. Hingga tersungkur karena obat-obatan terlarang di pusat rehabilitasi.

Pada titik ini, ia berkontemplasi dengan segala keadaan kacau itu. Apalagi di sudut lain, adiknya yang bernama Lalam, mulai menapaki hasil jerih payahnya dari bangku kuliah, serta mulai dikenal sebagai calon intelektual muda yang cukup berpengaruh di kalangan para pemikir.  

Akhirnya, ia tersadar akan tanggung jawab dan eksistensinya sebagai manusia. Maka ia pun keluar dari dunia kelam yang telah menjerumuskannya itu. Dan mulai menapaki jalan lurus.  Hingga ia pun menikahi perempuan asal Mojokerto, Nurul. Walau kala itu ia masih menjadi pengangguran. Tapi tetap saja, himpitan hidup terus mendera Bang Jar dan istrinya.

Hasratnya kian menggebu untuk mengejar ketertinggalan. Ia pun melanjutkan kuliah D3 sembari bekerja di sebuah majalah. Kegigihan dan dedikasinya untuk merengkuh pendidikan membuatnya berhasil meraih gelar sarjana. Bahkan sempat menjadi asisten dosen. Bahkan mendirikan beberapa taman bacaan untuk membantu penduduk pulau mengejar ketertinggalan.

Malang tak bisa ditolak. Tuhan memanggilnya kala ia menggapai mimpinya itu. Tepat sehari setelah ia diwisuda. Novel ini ini menyugukan bahasa jurnalisme yang tidak hanya investigatif, melainkan juga santun dalam bingkai sastrawi, serta dibalut dengan dengan narasi pesisir laut yang memikat. Guna mengurai fenomena menggelitik yang acapkali tak tersentuh oleh modernitas yang cenderung eksploitatif terhadap alam dengan segala perniknya.

Dedik Priyanto, Penikmat Buku. Jurnalis Majalah Surah: Medan Sastra Indonesia. Kord. Forum Studi Mahasiswa Piramida Circle Jakarta.

NB: Saya lupa pernah menulis review ini dulu. Ketika Bang Alamsyah M Dja'far , senior saya menulis novel dan kawan2 Piramida Circle, PMII Komfakda Ciputat dan Senjakala meminta untuk diskusi dan bedah buku beberapa tahun lalu.

Sastra dan Perlawanan Pada Korupsi

Judul               : 86
Penulis             : Okki Madasari
Tahun              : I, Maret 2011
Penerbit           : Gramedia, Jakarta.
Tebal               : 252 Halaman



Novel ini berkisah tentang fenomena praktik korupsi yang kian meruyak, menggurita dan tiada pernah berujung pangkal di negara kita. Istilah ‘Delapan Enam’ agaknya sudah lazim, dan biasa digunakan para panitera, hakim dan pengacara, serta para pegawai di jajaran pemerintahan.

Adalah sosok Arimbi, perempuan yang diceritakan oleh penulisnya, Okki Madasari, untuk menjadi pengantar dalam memetakan realitas praktik korupsi yang menjamur. Sebagai pegawai rendahan, dan hanya bergaji 2, 5 juta per bulan, tiadalah cukup bagi Arimbi membiayai hidupnya di Jakarta. Apalagi ia berasal dari kampung, dan dibanggakan oleh keluarga sebagai generasi pewaris yang menjadi pegawai. Beban besar pun serasa menggelayut di pundaknya.

Laiknya pegawai baru yang masih polos, Arimbi bingung dengan pola kerja yang diperintah oleh para atasan yang seringkali harus mengubah surat maupun laporan demi kepentingan atasan. Apalagi ia sejak kecil memang terdidik untuk berlaku jujur. Bahkan untuk tes kepegawaian pun ia tidak mengeluarkan sepeserpun.

Awalnya ia risih. Atasannya, Bu Danti, lalu mengajarinya banyak hal tentang administrasi. Walau tanpa sadar, sebenarnya ia telah dicekoki pola-pola manajerialnya yang cenderung menyeleweng dari tugas yang seharusnya dikerjakan sebagai seorang juru ketik. Semua itu seakan menjadi kebiasan dalam tugas barunya itu di ibu kota.

Seiring berjalannya waktu, tanpa benar-benar disadari, ia terjerat pada alur yang membawanya pada praktik korupsi. Berawal dari hadiah-hadiah kecil yang diberikan atas jasanya. Hal itu kemudian menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan menjadi sebuah keniscayaan dalam kesehariannya bekerja. Pun hubungannya dengan Ananta, yang merupakan prototype lelaki metropolis  membuatnya harus memutar otak guna mendapatkan penghasilan berlebih.

Hingga pada sebuah kasus seorang pengusaha besar, Arimbi dijadikan tameng oleh Bu Danti yang gerak-geriknya sudah mulai terendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia diminta untuk menemui dua orang perwakilan terdakwa yang menginginkan kasusnya segera selesai. Di sebuah restoran itulah ia mulai menunjukan diri sebagai orang kepercayaan bosnya tersebut dengan melakukan transaksi yang bernilai miliaran rupiah.

Bagi Arimbi, ini adalah sebuah keuntungan yang sangat besar. Ia mulai sadar bahwa akan cepat menjadi seorang yang kaya seperti yang diidamkannya selama ini. Lambat laun, ia pun terperangkap oleh aparat kepolisian yang sudah lama mengincarnya. Hingga malang tak dapat ditolak, ia tertangkap basah membawa uang hasil suap  dalam sebuah tas ketika berada di rumah Bu Danti.

Ia pun menyalahkan atasannya tersebut. Bahkan akan membeberkan semua kejahatan yang dilakukan Bu Danti. Namun, semua terasa hampa. Bosnya merupakan perempuan yang licin, dan memang sudah terkenal sebagai makelar kasus yang beberapa kali sukses mengelabui hukum. Kelihaian, serta jaringannya yang kuat membuatnya menjadi aman dari jeratan hukum yang berat. Korbannya adalah pegawai kecil seperti Arimbi.

Tak ayal, kasusnya pun menyebar dan menjadi santapan empuk para wartawan cetak dan elektronik. Pada titik itu, bisa dibayangkan bagaimana efek psikologis mendera Arimbi dan keluarga. Rasa malu juga yang pasti menyakiti hati orang tua saat melihat anaknya di TV, dirubungi orang-orang dan disebut menerima suap (hal.56)

Sungguh ironis. Ketika menjalani proses hukuman dalam penjara, Arimbi bertemu dengan realitas yang juga tidak jauh-jauh dari praktik korupsi,  suap dan pungli yang dilakukan petugas. Bahkan lebih ekstrem. Ia yang tidak punya uang sama sekali, harus rela tidur berdempetan dengan tahanan lain. Sedang Bu Danti dengan kekuatan uangnya, mampu hidup mewah dalam penjara.

Melalui  novel ini, Okky mencoba untuk mengembalikan sastra sebagai bentuk perlawanan terhadap realitas yang terjadi dalam masyarakat. Isu korupsi yang menjadi  latar utama kisah ini mampu digarap dengan cukup rapi, tidak konspiratif, dan rasional. Pembaca seolah diajak untuk mengikuti alur jejak sebuah sistem korupsi yang sudah yang menjalar dan sukar untuk ditolak.


Dedik Priyanto, penikmat buku. Jurnalis di majalah Surah; medan sastra Indonesia. Kord. Forum Studi Mahasiswa Piramida Circle Jakarta.

Jumat, 06 April 2012

Kala Gus Dur Menulis Kiai

Judul      : Kiai Nyentrik Membela Pemerintah
Penulis   : Abdurrahman Wahid
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 1997

Laiknya orang Betawi kebanyakan, lelaki ini begitu paham jalanan Jakarta. Rokok kretek menjadi temannya yang paling dekat kemanapun kaki dilangkahkan. Rambutnya agak gondrong. Tiap malam Jumat ia harus mengajar tafsir Jalalain di majelis ta’lim, dan menjadi rujukan sisik melik urusan agama di kampungnya.

Namun, kala membincang Marxisme, Sosialisme Tan Malaka, Soekarno hingga Lenin, tampak ia begitu fasih dan berapi-api. Seakan lupa bahwa ia memiliki julukan prestisius di tengah masyarakat: Kiai muda dari Betawi.

Begitulah gambaran Kiai muda ini. Agak aneh memang, jika mau mengikuti pemahaman umum bahwa istilah kiai adalah mereka yang tidak hanya memiliki pesantren, namun juga selalu bergumul dengan teks-teks keagamaan klasik dan kitab kuning. Bukan teks putih. Apalagi pemikiran barat, dan kiri. Maka tidak salah jika menyebutnya sebagai prototip kiai ‘nyeleneh’, yang berbeda dengan khalayak kebanyakan (Khorijdl ‘Adah). Namun, ia tidak sendiri.

Jauh-jauh hari, pada tahun 80-an, Gus Dur sudah memotret fenomena menggelitik itu di kalangan pesantren dalam ‘kitab putih’ yang bertajuk Kiai Nyentrik Membela Membela Pemerintah. Mulai dari kiai senior macam Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Ahmad Shiddiq, Gus Miek, hingga kiai-kiai kampung  yang kadang tidak kita ketahui kiprah dan tempatnya. Kenapa?

Rumus umum sering mewartakan bahwa sejarah adalah milik mereka yang berkuasa, atau yang mempunyai kekuasan maupun pengaruh di tengah masyarakat. Begitu halnya dengan sejarah para kiai. Mereka yang memiliki kekuasan atau kekuatanlah yang memilik daya tawar untuk dituliskan dan dikenal khalayak. Bukan hanya karena keluasaan ilmu yang dimiliki semata, tapi juga  ketidakpopuleran mereka di mata masyarakat.
Padahal para kiai ini adalah mereka yang tercebur, atau sengaja diceburkan sebagai manusia yang harus siap menjadi Khodim (pelayan) bagi masyarakat. Terutama dalam urusan agama, dan kehidupan sehari-hari. Rumus inilah diperkenalkan oleh Gus Dur, bahwa sejarah itu juga berhak dimiliki oleh mereka yang bukan ‘kiai terkenal’, dan cenderung tidak familiar di telinga khalayak.

Namun mempunyai peranan yang besar, menyitir pendapat Dr. Hiroko Horikoshi (1987), memiliki peranan dalam aras perubahan sosial, ketika peneliti asal Jepang ini meneliti Kiai dan Perubahan Sosial di Jawa Barat.
Banyak ragam kiai yang tidak kita ketahui. Bahkan cenderung nyentrik. Bagaimana misalnya mendefinisikan Kiai Zainal, yang disebut Gus Dur, sebagai ‘kiai tingkat lokal’ dan mempunyai pandangan yang sangat ‘nyata’ dan sedikit keluar dari ‘jalur umum ke-kiain-an’. Padahal, ia sejak kecil sudah dijejali dengan ilmu-ilmu agama. Bahkan sampai bermukim di Mekah guna mendalami Islam. Tentu, kelak ia mengikuti jalur kiai pada umumnya; memimpin dan bertindak sesuai dengan arah pendidikannya, yakni hukum agama sebagai pijakan utama.

Pendapatnya soal penyelenggaraan zakat yang akan dirumuskan sebagai kewajiban organisatoris seperti pajak, dan sangsi bagi yang tidak menjalankannya. Sedangkan hukum fiqih menyebut kewajiban zakat ini jatuh pada keuntungan berdagang, pertanian, harta tetap (mal), emas dan perak. Tentu yang lain tidak terkena hukum zakat. Lalu, apa pendapat Kiai Zainal?

”Persoalannya bukan demikian,” katanya. “Apa yang dirumuskan kitab fiqih itu hanya pada negara Islam. Pada zaman Rasulullah ada sanksi kalau orang tidak menyerahkan zakat. Kerena  yang dipergunakan adalah perundang-udangan islam secara total. Jadi tidak ada panitia zakat dan kelengkapan administratif lagi. Negara bertanggung jawab atas kesejahteraan masing-masing warga negara,” tuturnya sebagaimana diilustrasikan Gus Dur .

Kiai ini menohok hal yang sangat fundamental soal relasi individu dengan negara, yakni tugas pokok negara sebagai “orang tua”, yang berwenang soal kesejahteraan masyarakat. Tidak hanya memandang pada ranah agama saja, karena dunia ‘nyata’ kekinian tidak selalu berbanding lurus dengan agama.

Tentu, kita bukan negara Islam, kata Gus Dur, dan Kiai Zanal memiliki daya tangkap yang cukup relevan dengan kebutuhan masa depan, serta keadaan nyata.

Esai yang membuat saya terpingkal-pingkal, dan sesaat kemudian termenung adalah narasi tentang seorang dokter idealis yang bertemu dengan seorang kiai formalis. Gus Dur memulai tulisannya dengan fakta bahwa pada jaman dahulu profesi dokter adalah prototip pekerja sosial yang idealis, lalu keadaan bergeser dan berubah. Banyak dokter yang lebih banyak memikirkan kekayaan melalui praktek medis. Terbukti dengan banyaknya rumah sakit yang tega menolak orang miskin karena ketiadaan dana.

Untunglah, kata Gus Dur,  tidak semua dokter bersikap seperti itu. Banyak pula dari mereka yang bersikap kebalikannya, serta mencari kepuasaan rohaniah; menolong mereka yang kesusahan dan bukti kehebatan professional seorang dokter. Justru di sinilah konflik bermula, khususnya tatkala pertemuan dengan dunia nyata ketika finansial menjadi kendala, dan terus bertemu dengan pelbagai renik birokratisasi yang membelenggu mereka mengabdi.

Gus Dur mencontohkan seorang dokter muda di Jawa, yang karena sifatnya yang idealis dan berpikiran jernih, selalu mendapat tantangan dan dicurigai. Bahkan sulit naik pangkat. Di tengah kusutnya keadaan itu, ia bertemu dengan pasien yang mempunyai ayah seorang kiai tarekat. Anak itu menderita penyakit yang mengharuskan kulitnya ditambal.

Kata dokter, ia akan mengambil kulit dari pantat anaknya. Sontak, kiai formalis yang berpegang teguh pada hukum itu menolak. Baginya, pantat adalah aurat, berarti harus ditutup saat sembahyang. Sedang yang perlu ditambalnya adalah bagian bibir ke belakang yang rusak. Lalu, kata kiai, apakah harus memakai tutup ketika mau sholat, seperti Zorro, misalnya.

Agak kesal, dokter berseloroh, “Kulit  menjadi aurat hanya ketika berada di bagian yang dinamakan aurat. Begitu dipindahkan, ia sudah bukan aurat lagi.”

Kiai tersebut agak naik pitam, seakan belum puas dengan jawaban dokter.

”Kalau ‘anunya’ seorang laki-laki dipasang ke mukanya, dan ternyata bergerak jika ada rangsangan, apakah juga bukan aurat?”

Lagi-lagi dokter bertemu hal yang sangat birokratis, formalistik. Gus Dur seperti biasa mengakhiri tulisannya dengan sebuah pertanyaan, “Akan lunturkah idealismenya?”

Formalisasi inilah yang agaknya membuat saya terpekur, dan mengimajinasikan bagaimana kalau posisi dibalik, si dokter yang formalis dan kiai yang idealis? Lalu bagaimana dinamisnya soal proses perumusan hukum dalam fiqih?

Formalisme tetap menjadi tantangan menghadapi modernisme atau sebaliknya modernitas seringkali membenturkan diri dengan formalitas. Begitu halnya dengan agama. Gus Dur memotret ini pada tahun 80-an. Bayangkan!

Hal yang kontekstual barangkali adalah sikap persahabatan dan persaudaraan antar para kiai ini, sebagai perwujudan tauladan, pemimpin kultural di masyarakat.  Di saat para pemimpin kita hari ini selalu meributkan soal perbedaan, dan pembedaan antarindividu atau kelompok, para kiai ini justru kebalikannya. Gus Dur misalnya mencontohkan bagaimana debatnya Kiai Wahab Chasbullah dengan Kiai Abdul Jalil Kudus ihwal DPRGR.

Bolehlah mereka selalu berurat nadi dan berotak panas tatkala merumuskan sebuah keputusan. Bahkan tak sungkan menggunakan kata-kata rendahan untuk menjatuhkan dalil lawannnya seperti kelakar Kiai Wahab pada Kiai Abdul Jalil, ”Kitab yang sampeyan gunakan ‘kan cuma cetakan Kudus. Kalau kitab yang menunjukan pendapat saya ini cetakan luar negeri.” Di luar, mereka tetap bersaudara, karena tujuan mereka serupa: untuk rakyat, untuk masyarakat.

Hampir semua tulisan Gus Dur di buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah ini diawali dengan narasi sastrawi memikat, kaya bahasa dan imajinatif untuk ukuran saat itu dan sekarang ini. Tidak terkesan parlente, serta begitu merakyat.

Saya kira, hal ini sangat dipengaruhi oleh iklim intelektualisme pada tahun 80-an. Bahkan Gus Dur pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta, sesuatu yang begitu ‘nyentrik’ mengingat posisinya sebagai kiai di tengah multitafsirnya seni ketika dibenturkan dengan agama.

Buku ini hadir tidak seperti para pengamat luar yang membaca masyarakat—pesantren dan hiruk pikuknya—sebagai objek. Gus Dur menjadikan orang-orang ini sebagai subjek yang mampu berdiri sendiri di tengah tudingan tradisional, kolot, konservatif, jumud dan seabrek pandangan stereotif pada kaum santri atau kiai. Gus Dur mampu menunjukkan kiai sebagai menjadi intelektual organik di tengah masyarakat tertindas dan budaya kampus yang elit.

Lamat-lamat saya mendengar selurer berdering. Ada pesan masuk dari kawan saya, kiai muda dari Betawi ini. Secepat kilat saya membacanya, “Kiai bagi gua adalah intelektual rakyat. Tempat di mana mereka (rakyat) mengadukan masalah duniawi dan ukhrowi. Singkatnya, kiai adalah mereka pengawal dan penjaga akal sehat rakyat. Selain itu, kiai itu khadamul ilmi, khodamus salaf, dan khadam rakyat.”

"Benar, kawan. Gus Dur yang membuat kita bangga akan ragam kearifan para kiai,” Jawab saya singkat. (Dedik Priyanto, Koordinator Forum Studi Piramida Circle, Ciputat dan aktif di komunitas sastra Senjakala, alumni Pesantren Attanwir Bojonegoro, Jawa Timur) 

tulisan ini dimuat di nu.or.id
http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,12-id,35628-lang,id-c,buku-t,Kala+Gus+Dur+Menulis+Kiai-.phpx

Minggu, 13 Februari 2011

Menapaki Keberagamaan Sang Ilmuwan

Oleh: Dedik Priyanto

Judul : Mereka Akhirnya Menemukan Allah; Sang Ilmuwan
Penulis : Lukman Santoso AZ
Penerbit : Diva Press, Jogjakarta
Tahun : I, Juli 2010
Tebal : 143 Hal.

Persoalan agama selalu menyita perhatian yang serius. Tidak hanya para filsuf dan teolog yang saling memperdebatkan makna ideologis dan relasi keberagamaan yang berkembang. Pergolakan dan pertentangan dalam memperebutkan nilai hakiki kebenaran seakan menjadi bara dalam terjal hidup mereka. Tak terkecuai para aktor ilmu ilmuwan, yang notabene lebih mengutamakan rasionalisme empiris dalam segala tindakan.

itulah renik yang yang coba dipotret oleh Lukman Santoso AZ melalui buku ini. Mereka yang ditulis adalah adalah sivitas akademis modern, yang kerap melihat segala hal lewat kacamata rasionalitas dan telaah ilmiah dalam tiap nalar serta lelaku mereka. Namun, tatkala mencapai puncak piramida pengetahuan yang mereka geluti, lagi-lagi, kekeringan akan makna hidup dan spiritualitas melanda.

Jeffrey Lang misalnya, ia merupakan seorang professor ternama. Pelbagai penelitian tentang ilmu hitung menghantarkannya menjadi pakar matematika tersohor di Amerika. Apalagi disiplin ilmu yang digelutinya tersebut sangat rasionalistik, dan searah dengan nalar positivistik barat yang akhirnya membuat beliau menjadi seorang atheis sejak kecil.

Pilihan tersebut membuatnya berpikir tentang makna dirinya di dunia. Pun pengamatannya akan kehidupan modern yang cenderung hedonistik, serta kehilangan ruh humanisme yang merupakan inti ilmu pengetahuan. Hingga suatu ketika seorang mahasiswanya menghadiahi sebuah mushaf. Di situlah, akhirnya, ia menemukan jawaban filosofis yang acapkali menyesaki alam bawah sadarnya tentang makna dan eksistensi diri, serta keberadaan Tuhan.

Lain halnya dengan kisah Prof. Dr. Maurice Baille. Ilmuwan bedah terkemuka Prancis yang meneliti tentang mumi ini tergeragap saat menemukan fakta yang mencengangkan. Jasad yang diteliti tersebut ternyata mirip dengan cerita Fir’aun yang tenggelam. Sisa-sisa garam dalam tubuh semakin meneguhkan tesisnya tersebut. Padahal, narasi itu sudah diperbincangkan para teolog muslim ratusan abad lalu. Sedangkan ia sendiri baru sanggup membuktikan penelitiannya pada abad ke-19.

Enam belas kisah yang terangkum, merupakan titik kisar cerminan manusia yang coba menguak ihwal ketidakmampuan mereka dalam memahami realitas ruhani yang kerap menghantui nalar kritis, serta perasaan para ilmuwan. Sesuatu yang oleh sains modern cenderung dipisahkan. Begitulah, para ilmuwan tersebut seolah ingin meneliti tentang dirinya sendiri dan menjawab segala kesah yang kerap menggelayuti nalar kritis mereka.

Begitu juga yang dialami aerofisikawan asal Prancis, Prof. Bruno Guiderdoni. Beliau yang merupakan peneliti di Badan Antariksa Eropa menelaah perihal sains modern yang seakan hanya berhasil menemukan mekanisme segala hal. Namun, tiada mampu menjawab secara pasti tentang kandungan filosofis yang terjadi di dunia.

Adanya paradigma falsifikasi, dalam terminologi Karl Popper, seolah membuat ilmu pengetahuan modern tiada lagi menjadi hal yang murni kebenaran an sich dalam kaidah ilmiah saintifik. Hal demikian yang membuat beliau melakukan safari religius ke berbagai negara dengan lintas bacaan profetik, dan menyibak pelbagi tirai tentang kausalitas yang berkaitan dengan agama, serta kegelisahan akan dunia modern.

Tentang kegetirannya memandang hiruk pikuk modernitas itu, ia berujar lirih, ketika saya mempelajari sains, saya mendapati adanya sesuatu yang hilang dalam pendekatan ilmiah terhadap dunia. Ketika saya mencari pengetahuan lainnya, saya tersadar bahwa pencarian saya adalah pencarian religius. (Hal. 50).

Maka narasi pilu tentang pencarian Tuhan dalam dunia yang cenderung materialistik ini mampu diejewantahkan dengan langgam jurnalistik yang cukup cair dan inspiratif. Hingga membuat alam bawah sadar kita seakan tergelak untuk terus belajar dalam pencarian sifat hakiki manusia yang tardalam; eksistensi Tuhan dalam diri manusia.

Ashadi, Sang Ideolog Jurnalisme


Oleh: Dedik Priyanto *


Judul : Ashadi Siregar; Sang Penjaga akal kampus biru
Penulis : Daniel Dakhidae dkk
Penerbit : Kepustakan Populer Gramedia (KPG)
Tahun : I, Juli 2010
Tebal : xxii+374 Hal.

Sepeninggal orde lama, geliat kebebasan pers dan gempita demokrasi mulai mendapat titik terang. Namun, apa lacur, awal medio 70-an bangsa ini digemparkan dengan pembredelan majalah Sendi asal Jogjakarta. Hal ini cukup membelalakkan mata,. Padahal masih terngiang dengan jelas akan luluh lantaknya rezim otoritarian Soekarno. Apa pasal pembredelan ini?

Lelaku kenakalan media yang diinisiasi oleh para aktivis inilah penyebabnya. Khususnya keberanian mereka dalam menyibak kebusukan di balik megaproyek pemerintahan Soeharto dalam pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Itulah agaknya yang menjadi pemantik geram penguasa istana. Apalagi kala itu pemerintah sedang meneguhkan posisinya di mata rakyat pasca mangkatnya Soekarno dari tampuk kepemimpinan.

Maka dialah Ashadi Siregar yang menjadi pemimpin redaksi majalah kritis itu. Sosok inilah yang juga menjadi motor pergerakan, sekaligus generator yang membengkeli otak para aktivis dalam menentang arogansi orde baru. Pria yang kerap dijuluki suhu para wartawan ini juga merupakan penulis yang produktif. Tak kurang puluhan buku ia tulis, mulai dari Jurnalistik, Komunikasi, hingga sastra yang melambungkan namanya lewat trilogi legendaris Cintaku di Kampus Biru yang akhirnya difilmkan.

Kehadiran media yang dipimpinnya tersebut juga menjadi oase di tengah mulai keringnya keberanian di kalangan para jurnalis, serta minimnya daya nalar kritis mahasiswa yang kian terbenam dengan heroisme kebesaran angkatan ’66 yang berhasil merontokkan orde lama. Buntutnya, majalah itu dibredel, dan bersama para aktivis lainnya diinterogasi serta dipenjara.

Laiknya bunga rampai biographi orang besar, buku ini juga menguak lika-liku kiprah pria asal Pematang Siantar ini dalam perpspektif yang beragam. Luasnya spektrum pemikirannya juga ditelisik oleh beberapa pakar dan analis dari berbagai segi. Daniel Dakhidae misalnya, menelaah ruang egalitarian Ashadi dalam renik yang cukup menggelitik dan mendalam, yakni aktivisme pembangkangan terhadap penguasa kala masih menjadi mahasiswa.

Lain pula penuturan Butet Kertarajasa. Budayawan kondang ini bahkan menamai Bang Hadi, sapaan akrab beliau, sebagai manusia budaya. Menurutnya, hal ini untuk menegaskan bahwa beliau bukan manusia ekonomi, atau manusia politik yang masing-masing memiliki watak dasar yang berbeda, bahkan cenderung bertolak belakang dengan prinsip-prinsip manusia budaya yang tiada lelah memperjuangkan kemanusiaan (Hal.222).

Menjadi manusia budaya bukanlah hal yang mudah. Agaknya hal ini juga diakui Garin dalam esainya yang menisbahkan laiknya punakawan dalam dunia mistisisme pewayangan. Mengingat sangat jarangnya seorang tokoh dengan multivarian pengetahuan yang kompleks seperti Ashadi. Karena manusia budaya adalah sosok yang mengerahkan segenap diri guna perbaikan sesama manusia, khususnya perihal konsep dasar individu sejati; kemanusiaan yang tidak berpihak.

Pada titik inilah gagasan tentang etika jurnalisme yang akarnya adalah kemanusiaan bersua dengan kebebasan pers. Sesuatu yang dahulu acapkali saling berkelindan, bahkan cenderung tumpang tindih dengan pelbagai kecacatan yang kerap ditengarai sebagai pemantik buramnya makna kebebasan. Ashadi percaya bahwa biar bagaimanapun, pers tetaplah harus netral dan melaksanakan tugasnya sebagai ruang mediasi antara rakyat dan negara. Juga sebagai pengawas tindak-tanduk pemerintah dalam menjalankan amanat negara.

Konsistensinya dalam mempertahankan filosofi jurnalisme itulah yang mengantarnya sebagai sosok yang cukup disegani dalam percaturan dunia pers di Indonesia. Bahkan beliau sangat layak disebut sebagai ideolog yang dengan tangguhnya mampu mendamaikan akal, hati dan data jurnalistik dalam melerai tiap jengkal peristiwa. Guna diolah menjadi sebuah berita yang tidak hanya bernas dan akurat, tapi juga santun dalam memaparkan segala hal dengan jernih dan tidak berpihak.

*Peresensi adalah Pustakawan Forum Kajian Sosial Piramida Circle Jakarta, bergiat di Serambi Sastra Ciputat.