Kamis, 10 Mei 2012
Narasi Pilu Penduduk Pulau
Judul : Lelaki Laut; Mengayuh Cita-Cita dan Harapan dari Pulau Seribu
Penulis : Alamsyah M. Dja’far
Penerbit : Gramedia, Jakarta.
Terbit : I, Desember 2010
Tebal : 204 hal.
Acapkali kita mendengar kelakar mendayu bahwa nenek moyang bangsa ini merupakan seorang pelaut. Bahkan ribuan pulau yang berderet sepanjang nusantara adalah bukti kejayaan masa lampau. Namun apa jadinya jika semua itu tidak mampu mensejahterakan penduduknya?
Tak ayal, yang terjadi adalah ketimpangan yang deras menimpa mereka. Geliat inilah yang coba dikemukakan oleh penulisnya, Alamsyah M. Dja’far, dalam novel yang bertajuk “Lelaki Laut” ini. Pria yang juga merupakan jurnalis ini adalah produk asli pesisir Pulau Tidung. Sebuah gugusan dari Kepulauan Seribu yang terkenal multi etnik.
Adalah Bang Jar, lelaki yang dikisahkan dalam novel ini, yang terlahir diantara tumpukan ketidakadilan yang dialami penduduk pulau. Betapa tidak, secara geografis letak mereka tidaklah jauh dari pusat pemerintahan. Sudah selayaknya daerah tersebut mendapat perlakuan yang sama dalam segala bidang. Baik sarana fisik, ekonomi, maupun pendidikan.
Alih-alih mendapatkan semua itu, yang diperoleh hanya kesenjangan yang semakin dalam antara pemodal dengan penduduk asli yang rata-rata nelayan dan buruh. Pun masuknya budaya-budaya asing yang menggerogoti pluralitas masyarakat pulau. Terutama kaum muda yang seolah berbangga ria jika sukses mengadopsi lelaku barat dalam kesehariannya.
Di sinilah posisi lelaki itu seolah menjadi representasi paradigma berpikir generasi muda yang ada di pulau. Bahwa menjadi nelayan dan menjelajah lautan yang luas agaknya lebih menjanjikan dibanding harus berlelah keringat di bangku sekolah. Tak terkecuali Bang Jar. Padahal orang tuanya relatif mampu dibanding penduduk pulau lainnya.
Kelihaian penulisnya teruji dengan tidak menempatkan tokoh utama sebagai pihak subordinat laiknya novel kebanyakan. Melainkan memosisikannya pada ranah yang tidak sulit dijangkau logika. Realis dan bernas. Yang dalam kacamata positivistik, harusnya berjalan sesuai dengan arah peradaban yang semakin membaik tatkala didukung dengan pelbagai fasilitas.
Goncangan hebat terjadi ketika ayahnya wafat di Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ia depresi, juga kecewa dengan dirinya sendiri yang dinilai gagal menjadi anak yang berbakti. Minum-minuman keras mulai diakrabi. Juga segala bentuk keburukan lainnya. Sedang untuk menghidupi dirinya, ia berkelana dan mengamen di Jakarta. Hingga tersungkur karena obat-obatan terlarang di pusat rehabilitasi.
Pada titik ini, ia berkontemplasi dengan segala keadaan kacau itu. Apalagi di sudut lain, adiknya yang bernama Lalam, mulai menapaki hasil jerih payahnya dari bangku kuliah, serta mulai dikenal sebagai calon intelektual muda yang cukup berpengaruh di kalangan para pemikir.
Akhirnya, ia tersadar akan tanggung jawab dan eksistensinya sebagai manusia. Maka ia pun keluar dari dunia kelam yang telah menjerumuskannya itu. Dan mulai menapaki jalan lurus. Hingga ia pun menikahi perempuan asal Mojokerto, Nurul. Walau kala itu ia masih menjadi pengangguran. Tapi tetap saja, himpitan hidup terus mendera Bang Jar dan istrinya.
Hasratnya kian menggebu untuk mengejar ketertinggalan. Ia pun melanjutkan kuliah D3 sembari bekerja di sebuah majalah. Kegigihan dan dedikasinya untuk merengkuh pendidikan membuatnya berhasil meraih gelar sarjana. Bahkan sempat menjadi asisten dosen. Bahkan mendirikan beberapa taman bacaan untuk membantu penduduk pulau mengejar ketertinggalan.
Malang tak bisa ditolak. Tuhan memanggilnya kala ia menggapai mimpinya itu. Tepat sehari setelah ia diwisuda. Novel ini ini menyugukan bahasa jurnalisme yang tidak hanya investigatif, melainkan juga santun dalam bingkai sastrawi, serta dibalut dengan dengan narasi pesisir laut yang memikat. Guna mengurai fenomena menggelitik yang acapkali tak tersentuh oleh modernitas yang cenderung eksploitatif terhadap alam dengan segala perniknya.
Dedik Priyanto, Penikmat Buku. Jurnalis Majalah Surah: Medan Sastra Indonesia. Kord. Forum Studi Mahasiswa Piramida Circle Jakarta.
NB: Saya lupa pernah menulis review ini dulu. Ketika Bang Alamsyah M Dja'far , senior saya menulis novel dan kawan2 Piramida Circle, PMII Komfakda Ciputat dan Senjakala meminta untuk diskusi dan bedah buku beberapa tahun lalu.
Sastra dan Perlawanan Pada Korupsi
Judul : 86
Penulis : Okki Madasari
Tahun : I, Maret 2011
Penerbit : Gramedia, Jakarta.
Tebal : 252 Halaman
Novel ini berkisah tentang fenomena praktik korupsi yang kian meruyak, menggurita dan tiada pernah berujung pangkal di negara kita. Istilah ‘Delapan Enam’ agaknya sudah lazim, dan biasa digunakan para panitera, hakim dan pengacara, serta para pegawai di jajaran pemerintahan.
Adalah sosok Arimbi, perempuan yang diceritakan oleh penulisnya, Okki Madasari, untuk menjadi pengantar dalam memetakan realitas praktik korupsi yang menjamur. Sebagai pegawai rendahan, dan hanya bergaji 2, 5 juta per bulan, tiadalah cukup bagi Arimbi membiayai hidupnya di Jakarta. Apalagi ia berasal dari kampung, dan dibanggakan oleh keluarga sebagai generasi pewaris yang menjadi pegawai. Beban besar pun serasa menggelayut di pundaknya.
Laiknya pegawai baru yang masih polos, Arimbi bingung dengan pola kerja yang diperintah oleh para atasan yang seringkali harus mengubah surat maupun laporan demi kepentingan atasan. Apalagi ia sejak kecil memang terdidik untuk berlaku jujur. Bahkan untuk tes kepegawaian pun ia tidak mengeluarkan sepeserpun.
Awalnya ia risih. Atasannya, Bu Danti, lalu mengajarinya banyak hal tentang administrasi. Walau tanpa sadar, sebenarnya ia telah dicekoki pola-pola manajerialnya yang cenderung menyeleweng dari tugas yang seharusnya dikerjakan sebagai seorang juru ketik. Semua itu seakan menjadi kebiasan dalam tugas barunya itu di ibu kota.
Seiring berjalannya waktu, tanpa benar-benar disadari, ia terjerat pada alur yang membawanya pada praktik korupsi. Berawal dari hadiah-hadiah kecil yang diberikan atas jasanya. Hal itu kemudian menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan menjadi sebuah keniscayaan dalam kesehariannya bekerja. Pun hubungannya dengan Ananta, yang merupakan prototype lelaki metropolis membuatnya harus memutar otak guna mendapatkan penghasilan berlebih.
Hingga pada sebuah kasus seorang pengusaha besar, Arimbi dijadikan tameng oleh Bu Danti yang gerak-geriknya sudah mulai terendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia diminta untuk menemui dua orang perwakilan terdakwa yang menginginkan kasusnya segera selesai. Di sebuah restoran itulah ia mulai menunjukan diri sebagai orang kepercayaan bosnya tersebut dengan melakukan transaksi yang bernilai miliaran rupiah.
Bagi Arimbi, ini adalah sebuah keuntungan yang sangat besar. Ia mulai sadar bahwa akan cepat menjadi seorang yang kaya seperti yang diidamkannya selama ini. Lambat laun, ia pun terperangkap oleh aparat kepolisian yang sudah lama mengincarnya. Hingga malang tak dapat ditolak, ia tertangkap basah membawa uang hasil suap dalam sebuah tas ketika berada di rumah Bu Danti.
Ia pun menyalahkan atasannya tersebut. Bahkan akan membeberkan semua kejahatan yang dilakukan Bu Danti. Namun, semua terasa hampa. Bosnya merupakan perempuan yang licin, dan memang sudah terkenal sebagai makelar kasus yang beberapa kali sukses mengelabui hukum. Kelihaian, serta jaringannya yang kuat membuatnya menjadi aman dari jeratan hukum yang berat. Korbannya adalah pegawai kecil seperti Arimbi.
Tak ayal, kasusnya pun menyebar dan menjadi santapan empuk para wartawan cetak dan elektronik. Pada titik itu, bisa dibayangkan bagaimana efek psikologis mendera Arimbi dan keluarga. Rasa malu juga yang pasti menyakiti hati orang tua saat melihat anaknya di TV, dirubungi orang-orang dan disebut menerima suap (hal.56)
Sungguh ironis. Ketika menjalani proses hukuman dalam penjara, Arimbi bertemu dengan realitas yang juga tidak jauh-jauh dari praktik korupsi, suap dan pungli yang dilakukan petugas. Bahkan lebih ekstrem. Ia yang tidak punya uang sama sekali, harus rela tidur berdempetan dengan tahanan lain. Sedang Bu Danti dengan kekuatan uangnya, mampu hidup mewah dalam penjara.
Melalui novel ini, Okky mencoba untuk mengembalikan sastra sebagai bentuk perlawanan terhadap realitas yang terjadi dalam masyarakat. Isu korupsi yang menjadi latar utama kisah ini mampu digarap dengan cukup rapi, tidak konspiratif, dan rasional. Pembaca seolah diajak untuk mengikuti alur jejak sebuah sistem korupsi yang sudah yang menjalar dan sukar untuk ditolak.
Dedik Priyanto, penikmat buku. Jurnalis di majalah Surah; medan sastra Indonesia. Kord. Forum Studi Mahasiswa Piramida Circle Jakarta.
Penulis : Okki Madasari
Tahun : I, Maret 2011
Penerbit : Gramedia, Jakarta.
Tebal : 252 Halaman
Novel ini berkisah tentang fenomena praktik korupsi yang kian meruyak, menggurita dan tiada pernah berujung pangkal di negara kita. Istilah ‘Delapan Enam’ agaknya sudah lazim, dan biasa digunakan para panitera, hakim dan pengacara, serta para pegawai di jajaran pemerintahan.
Adalah sosok Arimbi, perempuan yang diceritakan oleh penulisnya, Okki Madasari, untuk menjadi pengantar dalam memetakan realitas praktik korupsi yang menjamur. Sebagai pegawai rendahan, dan hanya bergaji 2, 5 juta per bulan, tiadalah cukup bagi Arimbi membiayai hidupnya di Jakarta. Apalagi ia berasal dari kampung, dan dibanggakan oleh keluarga sebagai generasi pewaris yang menjadi pegawai. Beban besar pun serasa menggelayut di pundaknya.
Laiknya pegawai baru yang masih polos, Arimbi bingung dengan pola kerja yang diperintah oleh para atasan yang seringkali harus mengubah surat maupun laporan demi kepentingan atasan. Apalagi ia sejak kecil memang terdidik untuk berlaku jujur. Bahkan untuk tes kepegawaian pun ia tidak mengeluarkan sepeserpun.
Awalnya ia risih. Atasannya, Bu Danti, lalu mengajarinya banyak hal tentang administrasi. Walau tanpa sadar, sebenarnya ia telah dicekoki pola-pola manajerialnya yang cenderung menyeleweng dari tugas yang seharusnya dikerjakan sebagai seorang juru ketik. Semua itu seakan menjadi kebiasan dalam tugas barunya itu di ibu kota.
Seiring berjalannya waktu, tanpa benar-benar disadari, ia terjerat pada alur yang membawanya pada praktik korupsi. Berawal dari hadiah-hadiah kecil yang diberikan atas jasanya. Hal itu kemudian menjadi sesuatu yang lumrah. Bahkan menjadi sebuah keniscayaan dalam kesehariannya bekerja. Pun hubungannya dengan Ananta, yang merupakan prototype lelaki metropolis membuatnya harus memutar otak guna mendapatkan penghasilan berlebih.
Hingga pada sebuah kasus seorang pengusaha besar, Arimbi dijadikan tameng oleh Bu Danti yang gerak-geriknya sudah mulai terendus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia diminta untuk menemui dua orang perwakilan terdakwa yang menginginkan kasusnya segera selesai. Di sebuah restoran itulah ia mulai menunjukan diri sebagai orang kepercayaan bosnya tersebut dengan melakukan transaksi yang bernilai miliaran rupiah.
Bagi Arimbi, ini adalah sebuah keuntungan yang sangat besar. Ia mulai sadar bahwa akan cepat menjadi seorang yang kaya seperti yang diidamkannya selama ini. Lambat laun, ia pun terperangkap oleh aparat kepolisian yang sudah lama mengincarnya. Hingga malang tak dapat ditolak, ia tertangkap basah membawa uang hasil suap dalam sebuah tas ketika berada di rumah Bu Danti.
Ia pun menyalahkan atasannya tersebut. Bahkan akan membeberkan semua kejahatan yang dilakukan Bu Danti. Namun, semua terasa hampa. Bosnya merupakan perempuan yang licin, dan memang sudah terkenal sebagai makelar kasus yang beberapa kali sukses mengelabui hukum. Kelihaian, serta jaringannya yang kuat membuatnya menjadi aman dari jeratan hukum yang berat. Korbannya adalah pegawai kecil seperti Arimbi.
Tak ayal, kasusnya pun menyebar dan menjadi santapan empuk para wartawan cetak dan elektronik. Pada titik itu, bisa dibayangkan bagaimana efek psikologis mendera Arimbi dan keluarga. Rasa malu juga yang pasti menyakiti hati orang tua saat melihat anaknya di TV, dirubungi orang-orang dan disebut menerima suap (hal.56)
Sungguh ironis. Ketika menjalani proses hukuman dalam penjara, Arimbi bertemu dengan realitas yang juga tidak jauh-jauh dari praktik korupsi, suap dan pungli yang dilakukan petugas. Bahkan lebih ekstrem. Ia yang tidak punya uang sama sekali, harus rela tidur berdempetan dengan tahanan lain. Sedang Bu Danti dengan kekuatan uangnya, mampu hidup mewah dalam penjara.
Melalui novel ini, Okky mencoba untuk mengembalikan sastra sebagai bentuk perlawanan terhadap realitas yang terjadi dalam masyarakat. Isu korupsi yang menjadi latar utama kisah ini mampu digarap dengan cukup rapi, tidak konspiratif, dan rasional. Pembaca seolah diajak untuk mengikuti alur jejak sebuah sistem korupsi yang sudah yang menjalar dan sukar untuk ditolak.
Dedik Priyanto, penikmat buku. Jurnalis di majalah Surah; medan sastra Indonesia. Kord. Forum Studi Mahasiswa Piramida Circle Jakarta.
Rabu, 25 April 2012
Mengintip Jakarta Lewat Kue Subuh
sebuah catatan kuliner
oleh : Dedik Priyanto
Pria paruh baya itu sedang memanaskan motor di depan rumah yang berada di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Di samping lelaki itu telah berjejer dua keranjang besar yang berisi aneka ragam kue kering dan basah, Lima menit sebelum pukul satu pagi. Tak berapa lama, ia pun menaruh keranjang besar itu di jok belakang motor, sembari diikat dengan sebuah tali. Lelaki itu bernama Sabuan (41 th), seorang pedagang kue subuh. Dirasa siap, dipaculah motor menuju Pusat Jajanan Kue Subuh Pasar Senen,
Kala kebanyakan sivitas sedang terlelap tidur, ia terus memacu motornya di jalanan yang lengang. Kurang dari setengah jam ia sampai. “Tidak ada macet kalau malam. Enak, bukan!” tandasnya, yang kalau malam hari, ia memilih jalur Tebet-Salemba, jalan yang tidak akan dipilihnya ketika siang karena sering macet. Waktu menunjukan pukul 02.00. WIB, beberapa motor sudah terparkir di luar area blok III PD. Pasar Senen. Beberapa kios dengan aneka jajanan pun mulai terjejer dan saling berebut perhatian para pembeli yang datang ke tempat ini.
Geliat perdagangan di pusat jajajan ini sebenarnya sudah mulai berhembus sejak matahari tenggelam, dan mulai ramai tatkala menjelang atau setelah azan subuh berkumandang. Perpindahan antara para pedagang pun terjadi dengan simfoni yang teratur. Ketika pagi dan siangnya dipakai untuk aneka baju dan pertokoan. Sedang pada malam hari, para pedagang kue mulai merapikan dan berbenah tempat berjualan, serta menempatkan kue-kue yang dijajakan.
“Kalau datang malam hari, berbagai mobil berjejer panjang di sini. Ramai sekali. Apalagi kalau menjelang pagi, ” ujar Romi (37 th), padagang asongan yang tiap hari mangkal di depan Pasar Senen sembari menunjuk areal jalan raya yang sering dipakai buat parkir. Tepat berada di depan Blok III, dibawah jembatan yang sedang berlangsung.
Beberapa kue basah yang dijajakan di antaranya adalah lemper, cucur, risol, dadar gulung, bolu, lapis kanji, bika, pastel, tahu is, pastel, dan kue soes. Selain itu, ada juga kue kering yang diwadahi toples transparan seperti kripik singkong, tempe kering, kastangle, kacang atom, dan nastar, dan lainnya. Tidak hanya jajanan tradisional saja dijual. Pun makanan yang didaulat modern tak luput menunggu pembeli datang seperti brownies, donat, blac forest, pizza bahkan aneka kue tart untuk ulang tahun.
“Beberapa kali juga ada yang pesan sehari sebelumnya, dan kita akan membuatkannya,” papar Yati (34 th) yang juga menceritakan tentang banyak mahasiswa yang sengaja datang pagi hari untuk membeli kue tart bikinannya, guna memberi kejutan temannya yang sedang ulang tahun. Tepat sebelum mereka bangun tidur. “Ya, tidak akan ketemu di toko kue biasa, Mas, kalau pagi hari begini,” imbuhnya sembari menunjukan beberapa jenis kue yang sudah dipesan.
Harga yang dipatok juga tidak tarlalu menguras kantong pembeli. Harga yang ditawarkan tergolong miring. Misalnya, kue basah semacam pisang goreng dijual Rp500-1.000/potong, kue kering Rp2.500-15.000/toples, atau yang sudah diberi wadah dengan pelbagai macam kue bisa Rp. 5000/pcs. Sedang untuk kue yang agak besar seperti kue tar, brownies, cake pisang dll dilepas dengan kisaran Rp25.000 sampai Rp100.000.
“Misalnya, yang ini (menunjuk sebuah kue-red) kalau sudah agak siang, saya menjualnya dengan harga yang lebih murah. Bisa-bisa setengah harga. Seperti kue ini, sebungkus yang isinya banyak ini, 2 ribu saya jual,” tambah Sabuan yang jam sembilan pagi sudah balik ke rumahnya.
Omzet yang para pedagang pun bervariasi. Ada yang sampai 2 juta/bulan, bahkan 5 juta/bulan tergantung dari jumlah yang terjual. Rata-rata penjual di sini bukan pemilik langsung, mereka menjualkan milik pemodal yang telah menyiapkan kue. “Enaknya, kita hanya menjual. Jadi kalau siangnya saya bisa tidur, dan kerja pada malam hari. Gajinya pun cukup, dan tidak perlu membayar sewa karena sudah diurus bos, ” tutur pria yang enggan disebutkan namanya dan mengaku baru dua tahun berjualan di pasar ini.
Adalah Justinus Cornelis Vincke, pejabat VOC yang mula mengendus bahwa Batavia yang mereka kuasai nantinya akan menjadi kota besar dan ramai. Untuk itu, di samping dijadikan pusat pemerintahan, tentu membutuhkan pusat perdagangan yang mampu menjadi titik perekonomian. Pada tahun 1735, lelaki yang juga arsitek ini membangun pasar yang letaknya tak jauh dari lokasi Istana Weltevreden, dan berdekatan dengan Pasar Tanah Abang yang lebih dahulu eksis, dan diberi nama Vincke Paseer, serta beroperasi hanya pada hari senin. Lambat laun, masyarakat pun menyebutnya dengan pasar senen.
Pada tahun 1795, guna memudahkan akses transportasi dua pasar buatannya, Tanah Abang dan Senen, Vincke membangun sebuah jalan yang menghubungkan keduanya dan membujur timur ke selatan, karena dirasa Pasar Senen lebih menjanjikan dibanding Tanah Abang yang didiami oleh kebanyakan warga Arab dan keturunan. Perkembangannya pun begitu pesat, hingga lambat laun mulai menggantikan kawasan Kota, Jakarta Barat, sebagai pusat pertemuan para warga Jakarta, tidak hanya ekonomis, melainkan tempat bertemunya segala elemen masyarakat.
Lamat-lamat terdengar suara azan berkumandang di antara riuhan pembeli yang mulai berjubel memenuhi kios-kios yang menjajakan pelbagai macam kue. Terdengar tawar menawar harga diselingi tawa dan candaan para penjual yang mencoba memikat para pembeli dengan gurauan khas mereka. “Ayolah, ini bolu paling murah se dunia. Tidak ada di tempat lain. Silakan dicicip,” ujar salah seorang penjual kepada Romlah (43), yang mengaku membeli kue di sini untuk dijualnya kembali di tempat asal.
“Karena saya menjualnya kembali. Toh, sudah punya banyak langganan di sini. Jadi ya, di sini pusatnya murah,” tukasnya sembari melirik ke arah penjual, tak lama setelah ia mencoba sebuah kue bolu. Ia pun menuturkan bahwa dibanding kue subuh yang lain. Di Jakarta sendiri ada sekitar titik pasar serupa, yakni di kawasan Blok M, Jatinegara dan Bintaro.
Para pembeli ini datang dari pelbagai macam tempat di seantero Jakarta. Kebanyakan dari mereka adalah para pedagang yang menjual kembali jajanan yang dibelinya di tempat mereka masing-masing. Ada pula yang membeli dengan borongan, dengan jumlah yang partai besar.”Seringkali kalau ada hajatan, pembeli akan membeli dengan harga borongan. Wah, kalau seperti itu kita jadi senang. Karena akan ada tambahan,” paparnya.
Geliat perekonomian di Pasar ini semakin menunjukan kemajuan yang signifikan. Sejak era 1900-an, pasar senen tumbuh sebagai pasar yang paling modern pada masanya, dan didominasi oleh orang-orang Tionghoa dan para perantau yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Begitu halnya selepas kemerdekaan. Dibangunnya, Terminal dan Atrium Senen semakin menambah ramainya Pasar Senen. Termasuk Pasar Kue Subuh yang mulai tumbuh pada tahun 70-an hingga sekarang.
Pada masa masa Ali Sadikin menjadi gubernur DKI, bangunan lama mulai dihancurkan dan dibangun Proyek Senen yang modern. Ini membuat pasar semakin ramai walau berada di tengah himpitan pusat perbelanjaan modern yang terus menggurita. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, para pedagang inipun bergabung dan membuat organisasi Paguyuban Pedagang Kue Pasar Senen (PKPS), yang diharapkan menjadi payung pelindung bagi mereka tatkala mempunyai masalah.
Pagi mulai menyingsing, beberapa kios sudah merapikan tempat dagangannya untuk diamankan. Tak ayal, Sabuan harus secepat pula merapikan tempat dagangannya. Tepat pukul 08.00 WIB, ia harus bergantian tempat dengan para pedagang baju yang akan menjajakan dagagannya. Setelah dianggapnya rapi, ia kembali menghidupkan mesin motor untuk kembali ke rumah. Lelaki yang harus menghidupi dua orang anak, Sari (5 th) dan Andri (16 th), apalagi tahun depan anaknya akan memasuki jenjang sekolah menengah.
“Iya, beginilah hidup. Ini demi anak dan istri,” tutupnya sembari memacu motor meninggalkan pasar Senen.
Begitulah, Jakarta tiada pernah tidur, dan barangkali kehidupan juga demikian; tidak pernah akan tertidur.
NB: Tulisan bisa dibaca di portal angkringanwarta.com atau di link tulisan di sini
Senin, 23 April 2012
Bung Karno dan Persatuan Yang Dilupakan
Catatan narasi seusai kelas di Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) di Megawati Institute, diampu Bu Mega, Yudi Latif dan Peter Kasenda
Oleh: Dedik Priyanto
Membincang
Bung Karno memang tidak akan pernah selesai dengan satu paradigma berpikir.
Banyak varian yang ternyata kalau diceruk lebih dalam, banyak yang tidak kita sadari. Salah satu di antaranya adalah
nasionalisme dan persatuan, yang menurut Peter Kasenda, adalah ruh dari
pelbagai banyaknya spektrum yang digarap sang
pemimpin besar Revolusi.
Dalam
orasinya, Ibu Megawati Soekarnoputri, yang merupakan anak biologis Bung Karno,
menarasikan hidupnya tatkala orba memimpin negara, dan perlakukan tidak layak
yang diterima. Bukan hanya itu, banyak anak ideologis mereka yang tidak dapat
mengecap pendidikan, bahkan terlempar dari masyarakat, hanya karena kekuasaan an sich.
Fakta
terpapar dengan gamblang ketika ibu membawa buku ‘Di Bawah Bendera Revolusi’
dan cukup mengagetkan ketika ia menyayangkan teman-teman muda yang dinilai
keluar dari rel perjuangan. Hal ini sangat kontras dengan jaman para Founding Fathers, yang tidak hanya
mencurahkan seluruh dirinya untuk negara, lebih dari itu ketidakmampuan anak
muda sekarang yang—bahkan—sering berperang dengan sesama. Ini karena tidak
adanya musuh bersama seperti pada jaman kolonial.
Kolonialisme
gaya baru inilah yang harus diperhatikan oleh banyak kaum muda. Peter Kasenda
menyebut Soekarno sebagai ‘pemersatu’. Ini pula yang menjadi titik diskusi,
bagaimana bisa dikatakan pemersatu jika Nasakom yang dibuatnya justru membelah
negara?
Tiga
konsep yang digabung ini, kerap dicederai dengan pemerataan soal komunisme.
Bahwa segala yagn berbau Nasakom adalah komunis, dan tidak ada yang lebih jahat
dari komunisme di dunia ini, karena bagi mereka yang paling penting adalah
revolusi. Cara pandang seperti ini yang ditiupkan oleh orba, bahwa
penyamarataan komunisme dengan Soekarno menjadi bias, jika kita berkaca pada
konsep Nasakom.
Bagaimana
Nasionalisme dikebiri menjadi sangat kecil bernama Komunisme/sosialisme?
Peter
Kasenda dengan menyitir Ruth Mc Avey (1986),
menyatakan sebagai sebuah ‘ketakutan’ terhadap ide besar sang pemimpin.
Bahkan seperti ditulis dalam makalah seluruh kegiatan mereka dikebiri, kegiatan politik, dibatasi lebih lanjut sehingga hampir tidak
mungkin bagi para pemimpin Indonesia untuk menyebarkan ide-ide kritis ( Ruth McVey,
1986 : 30 - 31 )
Agama sebagai bagian Nasakom lebih banyak dihuni
orang islam Nasionalis (NU) dibandingkan yang bercorak islam kenegaraan semacam
Masyumi dlsb. Mahbub Djunaidi adalah pencatat yang cukup baik tentang ini,
bahkan ia menyebut pikiran Soekarno tentang Pancasila sebagai falsafah yang
hakiki, bahkan lebih sublim dari Declaration of Indepence nya Thomas Jefferson
dan Komunisme Hegel dan Marx.
Penulis
bertanya tentang keterkaitan orang eks-PSI (Partai Sosialis Indonesia) dalam
meruntuhkan pemerintahan Soekarno, dan bagaimana kaum eksil menjadi orang
berdiaspora di negara-negara timur. Peter Kasenda memberi jawaban yang cukup
gamblang, bahwa inilah salah satu cara mereka berdiplomasi sebagai partai kecil
dan berafiliasi ke barat.
Menarik
lagi ketika Budiarto Shambazy menambahkan soal peran militer. Terutama soal
dewan jenderal yang dihembuskan oleh mereka. Terlihat sangat jelas bagaimana
isu ini menjadi garing. Dan menemukan banyak eksil yang menjadi orang yang
cukup berpengaruh di tempat pembuangan. Misalnya, ada beberapa yang jadi guru
besar di Hongaria, Rusia, dan negara di timur. Dan karena Soeharto, mereka
tidak bisa pulang karna dianggap bagian dari bung Karno.
Jika
menengok pendapat Ruth Mc Avey bahwa antara Aidit dan Njoto terjadi perbedaan
yang signifikan tentang gerakan komunisme. Bahwa Aidit mengingkan revolusi
secara cepat, sedangkan Njoto ingin perlahan dengan memerhatikan situasi, serta
perkembangan Soekarno. Untuk itu, ia tidak setuju dan cenderung tidak tahu
menahu ihwal kudeta PKI.
Hingga peristiwa ini sebagai alat politik
menjungkilkan pemerintahan Demokrasi Terpimpin. Selepas itu, tak ayal
ketegangan terbangun. Soekarno dihimpit olehi semua sisi orba. Bahkan para anak
ideologis dan biologisnya tidak mendapatkan akses yang layak sebagai warga
negara. Ini pula yang diwartakan Bu Mega, bahwa di jaman kolonial pun
pendidikan bisa agak mudah mereka terima, tapi keti bangsa sendiri yang
memimpin sangat berebda. Mereka
kesulitan mengakses pendidikan.
Inilah ironi, terlepas dari itu Bung Karno
tetaplah pemersatu yang kadang dilupakan oleh bangsanya sendiri.
NB: tidak sengaja saja saya menemukan tulisan ini, saya tulis ulang dan beginilah hasilnya. Tanpa diubah isi.
Tan Malaka: Rebut Kembali Kemerdekaan 100 %
Wawancara Imajiner dengan Tan Malaka
Oleh: Dedik Priyanto
Hati
dan jiwa Datuk Ibrahim Tan Malaka (110
tahun) tak pernah padam untuk Indonesia. Dalam pelariannya di hampir sepertiga
dunia, ia masih terus menunjukan kecintaan kepada negara dan pengetahuan.
Terlihat ia membawa sebuah buku dan pena.
Begitulah
kegiatan sehari-hari lelaki yang dijuluki macan dari lembah Suliki ini. Mengapa
ia terlihat gusar melihat kondisi saat ini? Sambil tertawa, sosok yang selalu
berapi-api jika berbicara tentang nasionalisme itu bercerita tentang keadaan
negara saat ini.
Bung, bagaimana anda melihat negara
Indonesia?
Saya
terenyuh dengan pertanyaan anda, Bung. Kenapa harus Indonesia. Bukankah kita
belum merdeka. Di mana-mana masih saja merasa tertindas. Apa itu makna
kemerdekaan.
Tapi bukankah Indonesia sudah 66
tahun merdeka?
Benar.
Itu secara tertulis. Namun, bukan itu yang saya maksud. Kemerdekaan dapat
terjadi tatkala kita mampu berdiri sendiri. Di atas kaki kita sendiri. Tidak
ngikut ke asing. Dimana logikanya? Nah, itu tidak terjadi saat ini.
Termasuk juga soal kedaulatan NKRI?
Orang
jaman sekarang itu harusnya berbahagia tidak mengalami pengejaran seperti yagn
saya alami. Sipadan dan Ligitan sudah menjadi contoh nyata. Kadang saya
berpikir, kenapa pemerintah sekarang ini begitu konsisten dalam kebodohan
mereka? Apakah tidak berpikir bahwa untuk memperjuangkan dan menyejahterakan
rakyat, tidaklah kepintaran saja. Bahkan nyawa harus siap dipertaruhkan.
Kasus kepulauan Camar Bulan
menarik. Karena pemerintah menyatakan bahwa kita masih negara berdaulat.
Bagaimana menurut bung sendiri?
Tidak
ada bagaimana. Coba anda tengok lagi! Dalam segala sendi kita menjadi budak
asing. Kita tidak bisa menggunakan apa yang seharusnya menjadi hak kita. Tanah
ini milik kita. Tidak ada satu jengkal pun yang boleh diambil orang. Ini
menjadi bukti landasan teoritik mereka dalam membangun mental bernegara tidak
ada. Bahkan menjadi kecil di mata internasional. Kebanyakan hanya memaknai
politik sebagai cara memperoleh kekuasaan, bukan kekuataan untuk memerangi
ketertindasan dan ketidakadilan.
Seperti yang anda tulis di Madilog
dan Naar de Republic, bukan?
Bah,
saya sudah menuliskan banyak hal kepada kau, anak muda. Termasuk dua itu. Coba
tengok, bukankah negara ini sudah tidak lagi menjadi dirinya sendiri.
Kebudayaan sendiri. Banyak hal yang harusnya terjadi bagian dari kita. Benar.
Kalau bung baca lagi. Maka akan menemukan bahwa kolonialisme telah berubah
bentuk. Termasuk hegemoninya yang tidak lagi tertentu pada meterialisme semata.
Untuk itu perlu ditelaah secara dialektik, dan menggunakan logika yang tidak
semata rasional, melainkan harus teoritik. Karena lawan kita menggunakan tiga
pisau itu untuk mencengkeram Indonesia.
Lalu, sebagai generasi hari ini,
apakah harus berdiam diri?
Itulah
yang sering dikatan orang hari ini, ia
merasa inlander. Tidak. Harus berani bercakap dan tanggap. Banyak baca buku,
sering berjalan untuk melihat realita, dan jangan lupa selalu berpikir kritis
yang dialektis. Tujuannya cuma satu, rebut kembali kemerdekaan kita.
Kemerdekaan 100 % milik, dan untuk rakyat. Tidak ada kata lain. Sudah terlalu
lama rakyat menderita. Berikan darahmu untuk tanah air. Usir orang asing yang
merusak negara ini. Revolusi, hanya itu.
Dilema
Sang Revolusioner
Tan
Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang,
Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Jawa Timur, 21 Februari 1949. Seorang
pemimpin pergerakan, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang
militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran
yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan
Indonesia.
Jauh sebelum tokoh-tokoh yang lain membincang
kemerdekaan, ia sudah menabuh genderang menyuarakan kemerdekaan, dan
mempublikasikan pemikirannya yang membincang soal negara dan relasinya dengan
kolonialisme. Madilog adalah bukunya yang paling terkenal, dan menjadi pegangan
para aktivis gerakan pada masa itu. Namun, kematiannya begitu tragis, karena dibunuh
oleh bangsanya sendiri di Kediri, dan misterius sampai sekarang.
Saya dan Beberapa Buku yang Pernah Terbit
Oleh: Dedik Priyanto
Saya pernah menulis beberapa buku. Ya, walaupun itu hanyalah buku biasa, tapi ini cukup berarti untuk perkembanganku dalam menulis. Minimal sebagai rekam jejak sebelum serius menapaki dunia kreatif menulis. Berangkali kalau mati muda, minimal aku punya sesuatu yang bisa dikenang.
1). Demam World Cup 2010. Buku tentang Piala Dunia 2010, saya menulis ini dengan teman saya, Desy Arisandy, perempuan misterius yang hobinya nonton bola. Khususnya tim idolanya yang sempat berkibar, Persita Tangerang. Pernah dibedah di beberapa tempat, semisal IBF Bogor, UIN dll. Buku ini, katanya sih, sudah cetakan kedua, saat itu. Tapi ini kan fresh book dan insidental.
Saya survei kecil-kecilan, ini buku tentang piala dunia kedua setelah 100+ Fakta Unik Piala Dunia yang ada di Toko Buku, khususnya Gramedia, dan selepas itu, Beuh, banyak nian buku dengan genre yang serupa. Terpampang di rak-rak buku. Mereka kreatif, tap bukan assabiqunal awwalun. Sekali lagi, bukan Sang Pemula.
2). Bolot, lagi-lagi soal sepakbola, tapi ini lebih kepada bacaan terhadap teman muda yang sedang tumbuh. Terbit 2011
3). Pemuda dalam Pergerakan (Sebuah Refleksi) ini yang paling misterius, saya malah tidak punya hard filenya. Hilang. Refleksi sejarah, sayang saya dulu belum memiliki pengetahuan sejarah yang cukup. kalau ini saya tulis sekarang, perspektifnya tentu berbeda. Misal, pasti ada Tan Malaka, Cokroaminoto dll di situ. Tapi, beginilah sejarah. Kadang kita tidak tahu kapan akan menuliskannya.
4). Kado Terindah Rafi dan Sampah Mak Isah (2010) Ini cerita. yang pertama, cerita tentang anak, persahabatan dan keluarga. Awalnya judulnya bukan ini, tapi diganti ama penerbit. Untuk judul asli lebih keren, tapi menjadi rahasia gue aja :p. Sedangkan kedua, merupakan kisah inspiratif tentang masyarakat kita. Keduanya untuk menemani mereka yagn sedang tumbuh. Saya tulis bersama kawanku, Erik Purnama S dan Farabi Fardiansyah. Sekarang mereka dua malah jadi jurnalis. Entah. Mungkin mengikuti jejak saya: menjadi pewarta berita.
Begitulah, Mungkin beberapa buku yang di atas bukanlah apa-apa. Tapi bagi saya, mereka tetaplah bagian dari sejarah hidupku yang akan selalu tergoret dalam dinding dada ini. Semoga saja akan terus berkarya. Dan harus berkarya dengan serius.
Hidup hanya sekali, untuk itu, mari harus menjadi orang berarti!
23 April, selamat hari buku!
Saya pernah menulis beberapa buku. Ya, walaupun itu hanyalah buku biasa, tapi ini cukup berarti untuk perkembanganku dalam menulis. Minimal sebagai rekam jejak sebelum serius menapaki dunia kreatif menulis. Berangkali kalau mati muda, minimal aku punya sesuatu yang bisa dikenang.
1). Demam World Cup 2010. Buku tentang Piala Dunia 2010, saya menulis ini dengan teman saya, Desy Arisandy, perempuan misterius yang hobinya nonton bola. Khususnya tim idolanya yang sempat berkibar, Persita Tangerang. Pernah dibedah di beberapa tempat, semisal IBF Bogor, UIN dll. Buku ini, katanya sih, sudah cetakan kedua, saat itu. Tapi ini kan fresh book dan insidental.
Saya survei kecil-kecilan, ini buku tentang piala dunia kedua setelah 100+ Fakta Unik Piala Dunia yang ada di Toko Buku, khususnya Gramedia, dan selepas itu, Beuh, banyak nian buku dengan genre yang serupa. Terpampang di rak-rak buku. Mereka kreatif, tap bukan assabiqunal awwalun. Sekali lagi, bukan Sang Pemula.
2). Bolot, lagi-lagi soal sepakbola, tapi ini lebih kepada bacaan terhadap teman muda yang sedang tumbuh. Terbit 2011
3). Pemuda dalam Pergerakan (Sebuah Refleksi) ini yang paling misterius, saya malah tidak punya hard filenya. Hilang. Refleksi sejarah, sayang saya dulu belum memiliki pengetahuan sejarah yang cukup. kalau ini saya tulis sekarang, perspektifnya tentu berbeda. Misal, pasti ada Tan Malaka, Cokroaminoto dll di situ. Tapi, beginilah sejarah. Kadang kita tidak tahu kapan akan menuliskannya.
4). Kado Terindah Rafi dan Sampah Mak Isah (2010) Ini cerita. yang pertama, cerita tentang anak, persahabatan dan keluarga. Awalnya judulnya bukan ini, tapi diganti ama penerbit. Untuk judul asli lebih keren, tapi menjadi rahasia gue aja :p. Sedangkan kedua, merupakan kisah inspiratif tentang masyarakat kita. Keduanya untuk menemani mereka yagn sedang tumbuh. Saya tulis bersama kawanku, Erik Purnama S dan Farabi Fardiansyah. Sekarang mereka dua malah jadi jurnalis. Entah. Mungkin mengikuti jejak saya: menjadi pewarta berita.
Dari Semua, Barangkali buku di bawah ini yang paling saya suka dan merasuk dalam hati. Betapa tidak, saya bersama kawan di Komunitas Senjakala membuat Kumcer pertama di UIN Jakarta. Bukan karena pertamanya, tapi karena perjuangannya. Entah, sekarang hanya tinggal saya dan Zaki yang masih bertahan. Minimal untuk sekadar menulis dan terus berkarya.
Antologi Cerpen Sunyi;
Dedik Priyanto, Zakky Zulhazmy dkk
Begitulah, Mungkin beberapa buku yang di atas bukanlah apa-apa. Tapi bagi saya, mereka tetaplah bagian dari sejarah hidupku yang akan selalu tergoret dalam dinding dada ini. Semoga saja akan terus berkarya. Dan harus berkarya dengan serius.
Hidup hanya sekali, untuk itu, mari harus menjadi orang berarti!
23 April, selamat hari buku!
Kamis, 19 April 2012
Dede Supriyatna membincang Dedik Priyanto
Ternyata, Ia penggemar Bola
Oleh Dede Supriyatna*
Kala berjumpa dengannya entah itu langsung atau di FB, ia acapkali berbicara tentang bola atau lebih tepatnya sepak bola. Mungkin, apabila diberikan kesempan, ia tak lagi sungkan untuk menerima dengan senang hati menjadi komentator bola, apalagi untuk komentator salah satu klub kesayanganya.
Gara-gara bola juga, ia pernah mendapat balasan oleh salah satu temanya dalam guyunan, waktu itu, awal saya bersamanya menghabiskan malam di warung angkringan yang terletak depan UIN Jakarta. Memang jauh sebelumnya, saya sempat berkenalan melalui sebuah tulisan, ia menulis tentang sebuah jawaban terhadap opini yang pernah saya muat dalam terbitan Tabloid INSTITUT, atau bahasa tepatnya, ia mengkritik opini saya, jika ingin ingin tahu apa yang dikritik silahkan klik di sini atau kunjungin catatanya di FB Dedik Priyanto.
Iya, ia adalah Dedik Priyanto dan kesan awal mulanya terhadapnya, ia merupakan seorang yang serius, pemikir, apalagi melihat dari segi fisiknya yang bertubuh besar dengan memakai kaca mata, belum lagi ulasanya yang membawa para pemikir semodel Gramsci, dengan imbel-imbel intelektual organik, ideologi untuk penguat argumentasinya.
Belum lagi, sesuatu yang menjadikan semakin penguat pandangan saya terhadapnya, yakni sebuah pengakuan dirinya, bahwa dia adalah "Penulis Menyukai kopi dan diskusi. Menggiati Sosial kebudayaan di Piramida Circle Jakarta sembari kongkow di Tongkrongan Sastra Senjakala."
Oh, ternyata di balik semuanya, ia merupakan penggemar bola atau bisa dikatakan orang yang gila sama bola. Hal tersebut diperlihatkan dalam beberapa hari ini setelah pertemuaan pertama di warung angkringan. Ia menghubungi lewat SMS, dan maksud dari pesan itu, bahwa ada undangan untuk www.angkringanwarta.com.
Singkat cerita, ia datang ke kosan saya tengah malam dengan tujuan menyerahkan sebuah undangan tersebut, yakni sebuah undangan untuk acara "Malam Budaya, Rakyat Merdeka" yang bertempatkan di Balai Sudirman. Waktu itu, tepatnya dua hari yang lalu.
Dan tak hanya sebuah undangan yang ia bawa, ia juga membawa sesuatu yang mengendap dalam tempurungnya dan ingin dimuntahkan dalam bentuk ucapan, perihal artikel analisis tentang bola. Dalam artikel tersebut, dikumukakan kurang lebih, "Suatu saat orang-orang yang bertikai bukan lagi antar spoter daerah semisal Bandung dan Jakarta, atau Malang, atau Surabaya, atau yang lain.
Tapi, yang berkelahi adalah antar fans club, dan hal tersebut pernah menimpa saya, meskipun tidak secara fisik. Waktu itu, saya sedang menonton pertandingan sepak bola, dalam pertandingan tersebut adalah kedua klub yang saling bermusuhan atau bisa dikatakan musuh bubuyutan, jika keduanya bertemu tak ayal pertandingan akan berjalan secara kasar dan hujan kartu.
Saat saya menyaksikan di Warung Kopi (Warkop) tiba-tiba berdatangan para pencinta klub yang berbeda denga saya, habislah saya diledek. Selanjutnya ia mencontohkan semisal seorang datang menonton bola dengan memakai kaos dari musuh bubuyutannya. Setalah pertandingan usai dan skor akhir pertandingan dimenangkan oleh tim pengguna kaos tersebut, lalu apa kira-kira yang akan terjadi?
Tak hanya itu, ia terus saja berbicara tentang bola dan klub idolanya, hinga teradapat seorang yang merasa diasingkan karena bisa dikatakan ia tak suka bola. Berbicara tentang bola, terlampau banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya, gara-gara bola juga ia berhasil menulis dan menjadikan sebuah buku, para politikus berperang, Indonesia berteriak nasionalis, Sindhunata menulis bola, begitu pula dengan Abdurahman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur, dan karena bola tawuran terjadi, Raja minyak berdatangan untuk membeli saham klub. Dan tak luput ketinggalan Iwan Fals pernah menyanyi tentang bola, salah satunya adalah "Mereka Ada Di Jalan" sebuah lagu yang menunjukan status sosial, sebagaimana terdapat dalam liriknya
.................
.................
. ................
. ................
Tiang gawang puing-puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita di sini Di jalan ini
..............
...........
Satu hal lagi, gara-gara bola anak-anak hanya bisa bermain di dunia PS atau melihat pertandingan sepak bola, sebab tak ada tanah lapang untuk dijadikan tempat permainan bola.
*Penulis adalah penyuka kopi, rokok dan keduanya akan terasa lebih nikmat, jika dinikmatinya sambil nongkrong. Tambahan ditunggu kritikannya kembali.
NB: Dede Supriyatna adalah pemuda berbahaya, pemilik portal citizen jurnalisme angkringanwarta.com, mantan ketua UKM LPM Insititut UIN Syahid Jakarta, dan aktivis dan wartawann muda berbakat. Terima kasih udah nulis buat saya. link tulisan: http://www.angkringanwarta.com/2012/01/ternyata-ia-penggemar-bola.html
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)







