Tendang, Terjang, Hadang

Minggu, 30 September 2012

Ratusan Gusdurian Peringati Harlah Gus Dur



Ratusan pecinta dan penerus cita-cita dan perjuangan Gus Dur (Gusdurian) menghadiri peringatan hari lahir (harlah) KH Abdurahman Wahid yang berlangsung di aula Wahid Institute, Matraman, Jakarta, Jumat (3/8).

Gusdurian tersebut umumnya tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Mereka berasal dari beragam organisasi, profesi, usia dan bahkan iman. Ada yang datang bermobil pribadi, motor, dan jalan kaki. Pakaian mereka mulai dari yang berjaket, koko, berkopiah, dan bersarung; hingga berkaos oblong; dari yang berambut gondrong hingga plontos. 

Acara dimulai pukul 16.00 dengan sambutan Koordinator Gusdurian Alissa Wahid. Ia mengatakan, kini kelompok yang menyatakan diri Gusdurian sudah tersebar di 30 kota. Mereka menyelenggarakan pertemuan-pertemuan yang cair dan membahas apa saja, sesuai dengan kebutahan daerah mereka. 

Didaulat sebagai pembicara pada acara bertajuk Gus Dur dan Kebudayaan tersebut dua budayawan yaitu Mohammad Sobari dan Jaya Suprana. Juga sastrawan gaek Martin Aleida. Dan moderator Dedik Priyanto, Gus Durian muda asal Ciputat. 

Dari diskusi tersebut mengemuka dua sifat Gus Dur, yaitu keteguhan dan keberanian. Keteguhan dalam menggenggam gagasan persaudaraan, persamaan, dalam keragaman dan keberanian dalam menjalankan gagasannya. Apapun risikonya.

Martin Aleida, sastrawan Lekra yang pernah dipenjara Orde Baru berpendapat, karya terbesar Gus Dur adalah meminta maaf.

“Setidaknya buat saya dan orang-orang yang menjadi korban seperti saya. Itu pencapaian yang luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya, PKI dan NU pernah berhadap-hadapan pada masa lalu. Tapi luar biasanya, Gus Dur dengan keberaniannya membuka hubungan kembali dengan minta maaf. Hal ini sangat berdampak positif terhadap masa depan anak bangsa. 

Sementara Jaya Suprana juga mempertebal tentang keberanian Gus Dur. Ia mengutip apa yang dikatakan Gus Mus pada sarasehan Kristalisasi Pemikiran Gus Dur beberapa waktu lalu. Menurut Gus Mus, satu hal yang jarang dimiliki tokoh sekarang adalah keberanian. 

“Berani mengatakan yang benar itu benar, yang tidak benar itu, tidak benar. Itulah Gus Dur!” tambah ahli kelirumologi ini.

Mohammad Sobari mengambil sudut pandang lain terhadap Ketua Umum PBNU 1984-2000 dan Presiden RI keempat tersebut. 

“Segala tindak-tanduk Gus Dur menegaskan ke-NU-annya. Dan tidak ada yang seperti itu. Dalam hal taat kepada tradisi aja, Gus Dur itu tidak ada yang menyaingi. Terutama tradisi sowan kepada kyai-kyai,” tegasnya. 

Diskusi kemudian dijeda dengan buka puasa dan shalat maghrib. Acara dilanjutkan kembali dengan tampilnya KH Husein Muhammad. Ia membacakan puisi Matsnawi karya Jalaludin Rumi dan syair Abu Nawas, yang diterjemahkannya. 

Hadir pada kesempatan itu Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Imdadun Rahmat, Direktur Eksekutif The WAHID Institute Ahmad Suaedy, aktor Alex Komang, dan aktivis HAM Usman Hamid, serta aktifis NU Amsar A. Dulmanan. 


Jakarta, 4 Agustus 2012 cek berita asli www.nu.or.id

Saya, #1000HariGD Dan Cerita-cerita Lainnya

Foto seusai acara #1000HrGD di TIM. Tampak dr Ki-ka: Ulin Yusron, Sobih Adnan
Mas Jay, Rosianan Silalahi, Saya, Tata, Inayah W, Anita W,  Alissa W, Hamzah S, Mbak Yun, Farha Cicik dll,

Sebuah tulisan biasanya dimulai dengan ungkapan yang menyentak, atau paling tidak menukil pernyataan seorang tokoh/filsuf untuk menyelematkan pendapatnya dari hantam caci. Ah, syukur-syukur tulisan itu tidak dimulai dengan sebuah kalimat tanya. Orang model begini biasanya hidupnya sengsara.  Kenapa?

Alih-alih membuat pembaca menyunggingkan senyum, lalu secepat kilat menjawab pertanyaan yang diajukan. Terkadang pertanyaan-pertanyaan itu malah menjadi bom Nagasaki yang tanpa sengaja diletakkan begitu saja di dada dan pikiran pembaca. Beruntung jika pembaca itu  orang yang kuat, tegar, dan tentu saja masih muda. Bayangkan jika pertanyaan yang merupa bom itu tidak sanggup ia pikirkan, lalu tiba-tiba pembaca itu memiliki penyakit jantung.

Maka anda tinggal menunggu polisi menggerebek kediaman anda, memborgol dan menangkap atas tuduhan; pembunuhan berancana. Lalu anda akan merutuki diri sendiri, sedangkan kawan-kawan anda hanya bisa tertawa nyinyir karena kesialan anda.  Bukan begitu, bukan?

Tapi tunggu dulu. Saya tidak ingin menakuti-nakuti, saya hanya ingin bercerita tentang sebuah malam, bercakap tentang sebuah pertemuan, dan berkisah tentang sebuah percakapan.

Percakapan yang dimulai dari sebuah ketidaksengajaan. Permulaan yang diawali dari sebuah malam, dan tentu saja berakhir dengan sebuah malam. Malam yang belum pekat, malam yang masih benderang. Malam yang masih menyisakan sebuah tanya;

Bukankah perpisahan selalu mulai dari sebuah pertemuan? Dan tidakkah terlalu sayang jika tidak ada penanda, tidak ada catatan akan pertemuan, dan perpisahan? 

Tiba-tiba saya teringat sebuah malam di Taman Amir Hamzah, selepas saya dan suhu Hamzah Sahal menjemput D Zawawi Imron dan Ahmad Tohari menghadiri sebuah acara kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, maka tugas saya selanjutnya adalah membantu Nyewu #1000HariGD.

Terdorong rasa bersalah yang tiada terkira melihat kawan-kawan Gusdurian berjibaku mempersiapkan pelbagai rangkaian acara, sedang saya terlalu lama bertapa di rumah. Entah apa yang dibantu, saya pun belum tahu. Minimal saya telah berniat membantu. Malam itu saya menghubungi Morenk Mauladi, dan turut ke Ciganjur menumpangi mobil BMW keluaran 1996 milik Savicali yang dikendarai oleh Imam. 

Dengan tekad membulat, dan niat ingin segera berbagi pundak dengan kawan-kawan, atau sekadar menyiapkan minum bagi mereka yang kehausan menyiapkan acara. Atau barangkali jikalau mereka lelah, saya bisa memijit kaki mereka, itu sudah cukup bagi saya. Sebagai penebus dosa kepada saya kepada kawan-kawan Gusdurian, sebagai pelipur lara dan duka. 

Kami bertiga menyusuri jalanan Matraman-Ciganjur dengan pelbagai kicauan, dan tentu saja perdebatan-perdebatan. Terkadang inspiratif, tak jarang sarkastis. Dari hulu ke hilir, perbincangan kami laiknya anak-anak muda dengan gairah yang membara; mengumpat Jakarta lengkap dengan kemacetan yang kian menggurita, tentang Gus Dur, dan tentu saja cinta.

Kata ini, entah sejak kapan, kata ini selalu membuat saya linglung.

Kita bisa mendebat apapun tentang gerakan, atau berdiskusi berhari perihal buku-buku pemikiran dan sastra yang menggetarkan dunia, atau ihwal isu-isu yang kian hari kian memanas berikut dengan penjelasan teori-teori yang acapkali membingungkan. Tapi ketika berbicara soal cinta, saya memilih untuk menepikan diri. Mengedarkan pandangan ke jendela, menyaksikan malam yang kian semarak dengan lampu-lampu ibukota, atau bintang yang entah kapan saya melihatnya bersinar kembali di langit Jakarta.

“Elu udah pernah ciuman, Ded,” tukas Morenk tiba-tiba membuyarkan lamunan saya.

“!!!”

Saya hanya diam.  Sedangkan imam yang sedang mengemudi hanya bisa tertawa bengis. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, saya hanya menelan air liur, dan tersedak. 

“Elu itu kebanyakan baca buku sih. Nyari pacarlah.”

Saya hanya diam. Otak saya berputar, saya mencari referensi dari bacaan yang pernah saya baca. Tentu nukilan atau kata-kata ilmiah perihal cinta tidaklah menjadi sulit bagi saya untuk dipakai jurus melawan. Tinggal mengambilnya dari otak, seperti seorang lapar yang mengambil apa saja dalam kulkas.

Tapi entah kenapa tiba-tiba saya tidak bisa membuka cakrawala itu. Siapa pula yang menggembok, rutuk saya kala itu. Dan semakin saya diam, tawa mereka kian melengking. Kian nyinyir. 

“Belum, gua yakin,” tambah Imam menambah derita saya. 

"Pernah, tapi sekarang enggak," jawab saya datar. 

Tawa mereka kian menggema. Bahkan lebih keras dari suara mobil yang berjalan, lebih nyaring dibanding sirene motor kemacetan yang bersahut-sahutan. Hujan tiba-tiba turun membasahi jalanan ibukota. Tidak terlalu deras, tapi sudah cukup membasahi hati.

Obrolan perihal cinta berhenti ketika Savicali mengajak menjenguk seorang kawan yang sakit di Kalibata.

Setelah kongkow dan ngobrol ngalor ngidul di sana. Kami yang datang membawa banner dll untuk acara Nyewu Gus Dur melanjutkan kembali perjalanan ke Ciganjur. Perjalanan ini berasa begitu lama, begitu jauh. Mirip perjalanan ke barat yang dipimpin oleh Sun Go Kong. Lengkap dengan kuda dan Bhiksu Trivitaka, dan Ciganjur adalah tempat suci itu. Dan saya, ah, jangan-jangan menjadi Panglima Tian Feng yang selalu gagal bercinta 

Kami tiba di Ciganjur kira-kira tepat tengah malam.

Menyaksikan pagelaran wayang Ki Enthus Susmono dengan lakon Kumbakarna Gugur. Saya takjub. Begitu banyak manusia yang setia untuk menonton pagelaran ini. Bahkan hingga pagi hari, saya masih bisa merasakan aura kegembiraan di mata orang-orang ini. Perkiraan saya, masih ada  seribuan orang yang bertahan hingga wayang usai.

Lalu kami melangkahkan kaki ke kediaman Gus Dur, meletakkan banner dan melangkahkan kaki menuju belakang panggung. Ke kantor Puan Amal Hayati, tempat kawan-kawan berkumpul.

Di rumah yang dekat dengan asrama santri Ciganjur tersebut, kami bergabung dengan teman-teman gusdurian lain. Saya agak canggung, karena beberapa tidak saya kenal karena memang kebanyakan bukan dari Jakarta; ada mas jay, mbak yuni, dan Tata, dan lain-lain. 

Perkenalan di situ pun tampak begitu lucu. Bermula dari isu soal saya, pacar dan ciuman. Dan lagi-lagi Tengku Morenk Mauladi (Ah, kenapa saya lebih suka menyebut Mauladi dibanding Beladro. Maafkan..) membuat nalar tertawa kami bangkit.

Derita itu ditambah dengan ‘update’ twit dia di akun @MorenkBeladro yang bertutur ihwal tentang cinta dan kegalauan akan ciuman yang menerpa kawan-kawannya. Sudah pasti yang menjadi bahan sasaran adalah saya dan kegagapan menghadapi cinta.

 Ah, kau, kawan…

Waktu berlalu. Denting kian bertalu. Lengking tawa dari para hadirin yang menyaksikan pertunjukan wayang terus saja menggoda saya untuk keluar dari ruangan itu. Sekadar menikmati gaya postmodernitas perwayangan yang dianggit Ki Enthus, dan tentu saja Megan, sinden asal Amerika yang saat itu sedang tampil bersama Ki Enthus dkk. Namun, urung saya lakukan.

Saya pun berkenalan dengan kawan-kawan Gusdurian baru ini dengan candaan lama,  dengan ‘gojlokan yang lama’ dan dengan komodifikasi yang lama pula; Jomblo dengan segala penderitaannya.

Tiba-tiba.

“Akhirnya ketemu. Saya kira sudah tua, dan memang sudah tua. Saya yang biasa menghubungi teman-teman gusdurian. Heuheu,” paparnya seraya menjulurkan tangan.

Ternyata dia yang kerap menghubungi, dan percakapan bermula.

***

Pagelaran puncak #1000HariGusDur hampir dimulai. Panggung sudah berdiri dengan begitu megah. Tepat di depan Galeri Cipta TIM. Entah kapan dan siapa yang sudah memasang panggung itu.  Beberapa hari lalu saat saya menemani pak Ahmad Tohari masih belum ada apa-apa, hanya beberapa besi penyangga yang tidur manis di samping jalan. Namun sekarang panggung itu telah berdiri dengan gagahnya dan ada foto Gus Dur tertawa di sana. Ah, kita rindu sampean, Gus.

“Eh, katanya mau datang siang,” ujar seorang perempuan yang memakai baju putih lengan panjang bergambar #1000HrGusDur di depannya.

Saya menoleh ke belakang.

“Saya sudah dari tadi kok,” jawab saya singkat.

Saya yang datang agak sorean diminta Hamzah Sahal untuk menemani kiai D. Zawawi di Hotel memang agak telat, dan langsung menuju Hotel Alia yang berada tepat berada di depan TIM.

Namun lagi-lagi, rasa bersalah hadir tanpa diundang, melihat kawan-kawan Gusdurian yang sudah mempersiapkan acara yang tampak bakal begitu meriah. Dan saya pun kembali merutuki diri sendiri.

Acara Ziarah Budaya #1000HrGusDur pun berjalan dengan begitu hebatnya. Kawan-kawan dari lintas agama pun datang ke lokasi yang dibangun oleh Ali Sadikin itu. Tempat yang mula adalah kebun binatang pada jaman Belanda itu riuh oleh para penonton.

Dari hulu ke hilir, saya bisa melihat bahwa apa yang dilakukan Gus Dur telah melampui sekat apapun. Mulai dari  berkulit coklat, hingga berkulit putih. Mereka tumpah ruah di Taman Ismail Marzuki, Cikini (29/30).

Saya yang sudah menahbiskan diri membantu suksesnya acara ini pun begitu begitu gembira. Mata saya berkaca-kaca tatkala mendengarkan paduan suara kawan-kawan GKI Yasmin, serta bagaimana Glen Fredly memulai berbicara soal Gus Dur, soal perjuangan dan persaudaraan, serta lantunkan lagu-lagu perdamaian. Sesekali saya menoleh ke arah para penonton, yang dengan di depan panggung.

Ah, apa yang telah kau lakukan Gus hingga membuat orang-orang ini begitu gembira!  

Malam itu, saya berpindah-pindah tempat. Karena tugas saya adalah menemani kiai Zawawi Imron, maka saya pun mengikuti kemana penyair kelahiran Batang-batang 69 tahun silam itu melangkahkan kaki. Dan ketika kiai tampil ke panggung, tentu saja saya menemani di samping kanan panggung.  Di situ pula saya bercakap dengan teman-teman panitia gusdurian yang bertugas mempersiapkan performance acara ini. 

Di situ pula saya pertama kali bertemu dengan @fahrisalam, wartawan pantau, yang sebelumnya kita saling mengejek di twitter. Dan tentu ia pun berkomentar rambut saya sekarang yang sudah tidak gondrong lagi karena mengejar akademik.

“Yakin mau lulus,” tandasnya.

Saya pun berdiri di situ. Dengan baju lengan panjang berwarna putih, bermotif Gus Dur dengan tautan #1000HrGusDur hasil desain Morenk, mengenakan tas hitam kecil, dan ukuran XL yang agak kekecilan, saya menyaksikan konser dari samping. Berbincang dengan mbak yuni, mbak Alissa, Mbak Inay, Hamzah, jay, da Tata, dan lain-lain.

“Wah ternyata satu angkatan,” ujarnya dengan raut yang membeliak. Entah ketakjuban apa yang telah mendera perempuan itu, atau barangkali kekagetan.

Dia memandang saya, dan tak pelak mata saya pun tertuju padanya. Alunan musik kian bertalu. Tepuk tangan penonton kian riuh. Warna-warni lampu terus saja berganti seiring hentakkan suara dari panggung. 

“Capek ya.” 

Saya menganggukkan kepala. Barangkali ia iba melihat saya berdiri terus, atau ia kasihan pada dirinya sendiri. Entahlah.  

“Kemarin saya malah berdiri terus,” ujarnya.

Ia lalu duduk di bawah layar. Saya tetap berdiri. 

“ Kita 'kan masih  muda,” seloroh saya menyunggingkan bibir. 

Acara #1000HrGusDur yang begitu hebat itupun selesai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ah, entah kenapa saya selalu merindukan peristiwa ini, menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama dengan orang banyak. Berdiri bersama, membusungkan dada, dan bernyanyi bersama.

Sama rindunya ketika dada saya bergemuruh tatkala Indonesia Raya berkumandang di stadion Gelora Bung Karno dalam pertandingan timnas Indonesia. Tampaknya, hanya di kedua peristiwa ini saya merasa begitu bangga melantunkan lagu ciptaan WR Soepratman ini.

Seusai acara, dengan penat yang terus bertambah, dan bangga yang kian bertambah pula, keyakinan akan keindonesiaan menjadi begitu tinggi.

Bukankah kita hidup dengan harapan?

Dengan harapan pula kita percaya akan hari esok. Dan kita percaya bahwa masa depan bangsa ini begitu cerah, dengan senyum-senyum persaudaran, dengan binar-binar perdamaian yang diwariskan Gus Dur dan diteruskan banyak orang, seperti malam ini.

***

Malam sudah kian memburam. Kepala saya arahkan ke atas. Ah, saya sekali lagi tidak menemukan bintang di langit Jakarta. Tapi perasaan itu berbalas dengan bulan yang tampak begitu bulat, begitu purnama, begitu indah.

Saya yakin, purnama malam ini adalah penanda bahwa Gus Dur pun gembira di atas  sana, bahwa anak-anak ideologis beliau makin banyak, yang memperjuangkan keadilan dan perdamaian pun kian meruyak.

Saya pun mengucapkan selamat kepada kawan-kawan Gusdurian yang telah sukses membuat acara #1000HrGusDur, kepada Moreng Beladro dkk.

Seusai acara, sebagian dari kami menghabiskan obrolan di sebuah café, sembari melepas lelah dan membincang acara yang baru saja usai.  Obrolan itupun jadi ngalor ngidul, dan menjadi lingkaran-lingkaran.

Ada lingkaran serius yang menempati pojok café,  ada lingkaran ‘orang-orang tua’ yagn menempati dekat jendela, dan kami, lingkaran anak muda+sebagian jomblo yang menempati lingkaran paling dekat dengan pintu. Tentu isi obrolan berbeda pula, dari persoalan acara, tepuk tangan kesuksesan acara, hingga urusan cinta.

Obrolan itu selesai ketika café itu hendak tutup, menjelang pagi, dan kami berpisah. Saya dan Hamzah harus kembali ke hotel menemai si celurit emas, sedang yang lain ada yang ke Matraman, Ciganjur dll. Tentu mereka lelah, dan tentu saja mereka bangga bahwa acara berjalan sukses, dan fellowship ini akan terus terbangun. Selamat, kawan-kawan Gusdurian. 

***

Sebuah pertemuan akan terasa biasa saja jika tidak ada yang mengabadikannya, tentu saja proses menjadi abadi itu ada pelbagai macam cara. Mulai dari potret memotret, lukis melukis, patung mematung, hingga tulis menulis.

Tiba-tiba ingatan saya meluncur pada percakapan dalam sebuah film Alexandria, sebuah film pop yang entah kenapa saya begitu suka. Ketika Julie Estelle memergoki Fahri Albar sedang sakaw dalam mobil.

“Kamu tahu nggak sesuatu yang paling mahal itu apa?” tanya Julie. 

Fachri hanya diam.

“Detik yang sudah lewat, kita tidak pernah bisa membeli waktu itu lagi," tandasnya. 

Ah…

Saya memiliki ingatan yang begitu buruk. Maka saya pun membiasakan diri bergumul dengan catatan-catatan, dan saya pun tidak mau kehilangan detik yang barusan lewat itu.  Dengan catatan itu saya berusaha mengabadikan segala sesuatu. Termasuk saya pun menuliskan detik-detik ini sebagai pengingat, sebagai penanda bahwa tiap detik begitu berharga. 

Ketika menuliskan catatan ini tiba-tiba ponsel klasik saya berderit. Ada pesan masuk. Saya curiga, jangan-jangan ini pesan dari intel untuk menculik saya, dan hari ini adalah 30 September, atau jangan-jangan ada pesan suruhan dari rektorat yang jengah dengan seorang mahasiswanya yang saban hari membully sang rektor di jejaring sosial.

Mungkin pula kawan yang mengajak ngopi. Uh, saya hilangkan persaaan itu dan membuka isi pesan, ternyata;

”Hey Jomblo, gmana kabar skripshitnya? ”

Terpekur sejenak. Saya mendongakkan kepala ke atas. Sejenak kemudian mata saya  berpendar ke sekitar kamar. Lampu kamar tampak muram seketika.  Bunyi gemericik air yang sedari tadi biasa saja tiba-tiba menguar dengan suara yang begitu keras. 

Saya kenal nomor itu, begitu kenalnya karena saban hari saat acara gusdurian acapkali memakai nomor yang itupula.  Saya membalasnya singkat.

”Tata?”

Ia belum menjawab. 

Ciputat-30-09




Rabu, 19 September 2012

Media, Sastra, dan Kita


“Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang. Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,”Foulcher; Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, (1991)”

Apakah Anda tiap hari baca Koran cetak atau online? Saya kira jika pertanyaan itu diajukan oleh mereka yang terbiasa mengikuti alur informasi akan menjawab spontan, ”Pasti. Tiap waktu.”

Lalu saat ditanya, “Apakah Anda baca karya sastra, baik itu cerpen, esai atau puisi tiap hari?” Maka, saya berani bertaruh, jawaban serempaknya akan begini, ”Tidak. Saya hanya baca hari minggu.” Beruntung kalau tidak ditambah embel-embel kalimat “itupun kalau sempat.”

Realitas seperti itulah yang kerap saya temui, bahwa sastra diciutkan hanya minggu dan “kalau sempat”. Seolah sastra hanyalah sampingan dan sudah sepatutnya ditaruh di bagian paling tak terjamah manusia. Berdebu, kumuh, pinggiran dan hanya disentuh oleh mereka yang berperilaku aneh.

Saya kira Anda sepakat, jika saya berbisik lirih di telinga pacar saya, ”Ini karena media, Sayang. Media yang membuat kita tidak menikmati sastra sebagaimana para orang tua, dan nenek kita menikmati karya-karya besar dunia.” Dan dia sembari mengamit tangan saya berujar pelan, ”Jangankan dunia. Sastrawan Indonesia saja kita jarang bertemu. “

Media dan sastra adalah ibarat dua saudara kandung yang kerap tidak bertemu, atau jangan-jangan enggan bertemu karena yang terakhir tidak pernah mendapatkan uang saku yang berlebih untuk sekadar bertahan hidup.

Sedang yang pertama, media, acapkali dianggap sebagai tonggak keempat demokrasi, yang tentu saja bisa hidup jika mampu diolah dengan manajerial yang hebat. Laiknya pohon yang dirawat sang pemilik dan ditaburi prinsip jurnalisme yang begitu ketat.

Kalau toh mereka bertemu dalam satu rumah. Maka saudara pertama mendapatkan kamar yang begitu luas. Dan ia akan mendapatkan mainan yang begitu banyak. Mainan itu bisa berupa politik, hukum, kriminal, maupun ekonomi.

Sedangkan saudara kedua ibarat anak tiri yang hanya bisa  memandang sayu saudaranya bermain-main dari balik jendela.

Bagi saya, media dan sastra adalah tonggak peradaban. Kenapa?

Saya kira, ukurannya begitu jelas jelas; literasi. Literasi inilah yang menjadi akar. Bahwa corak literer bisa dilihat sebagai pijak dimana peradaban dapat menjelaskan dirinya lewat teks. Teks yang terus bergerak dan ditafsirkan oleh mereka yang hidup sekarang, ataupun anak cicit kita.

Maka laiknya kita naik motor. Sesekali kita harus melihat kedua spion agar kita tidak jatuh, terjungkal, dan tertabrak. Dan perjalanan imajinasi bernama Indonesia pun tidak terlepas dari corak dan sastra menandai dirinya dalam tangkup kebudayaan yang memaknakan diri dalam tradisi. Tradisi yang terus menerus membaurkan sekat etnisitas dan agama.

Saya tidak mau berpolemik oleh kategorisasi HB Jassin yang menisbahkan pada peristiwa politik sebagai penanda gerak kesusasteraan. Saya hanya ingin menandaskan bahwa sastra mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa pada imajinasi tentang peradaban, dan Indonesia sebagai, meminjam kata Sanusi Pane, Faust dan Arjuna yang selalu berada dalam pencarian dan bertabrakan dengan dinamisme baratnya Sutan Takdir Alisjahbana (Ulumul Quran, edisi masa depan sastra, 1998).

Medio 20-an para pemikir cum-sastrawan ini telah mengimajinasikan mau ke mana bangsa bernama Indonesia akan bergerak. Mereka gandrung pada Barat di satu sisi, dan Timur pada di lain sisi. Mereka tidak hanya menggunakan media-media konvensional untuk menabur apa yang dirasakan di balik tempurung mereka, namun juga mengimajinasikan dalam karya sastra sebagai bentuk pertaruhan literer seorang intelektual.

Seorang sastrawan, meminjam kelakar Mahbub Djunaidi, merupakan seorang futurolog. Ya, mirip-mirip dukun tapi berpendidikan. Mereka mengetahui apa yang tidak dipikirkan orang. Bahkan mampu menerawang apa yang bagi mereka orang biasa tidak dipedulikan. Capung yang bertengger di pohon tetangga rumah pun mereka mampu melihatnya.

Tentu, seorang sastrawan lahir tidak hanya sendiri di ruang hampa nan sunyi. Atau tiba-tiba turun dari langit Krypton dan diberi nama Clarke dalam narasi Superman. Bukan!

Mereka hadir pada saat suasana sastra dan pemikiran berkembang dengan kondusif. Bahkan riuh dengan pelbagai hal yang mendukung tempurung mereka berpikir banyak hal; tentang nyiur yang melambai bagai seorang gadis, tentang matahari yang selalu mengabarkan kesadaran baru, atau tentang perlawanan pada penguasa yang sengaja lupa.

Sebagai contoh, adanya majalah Pujangga Baru terbit sebagai mandegnya Balai Pustaka dan ketakutan kolonial terhadap bacaan. Mereka melahirkan STA, Arjmin dan Sanusie Pane, Hamka dst. Tentu kita masih berharap majalah sastra Horison mampu menjadi anak muda. Tidak lagi menjadi generasi tua yang seakan gagap menghadapi kebaruan, globalisasi, dan seterusnya.

Saya merindukan generasi ini. Generasi majalah sastra Kisah HB Jassin medio 50-an, yang pada akhirnya berkembang menjadi polemik yang begitu terkenal dalam sejarah kita; Lekra dan Manikebu.  Atau generasi Horison 80-an yang melahirkan sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, NH Dini, dan masih banyak lagi. Ada yang menyebutnya generasi Koran, tapi tidak spesifik.

Nah, saat ini saya kira kita menemukan jaman yang hampir serupa. Teknologi telah mengajak kita bergumul pada dunia. Di jejaring sosial twitter, misalnya, mata kita akan tertohok dengan ribuan puisi yang ditulis oleh pelbagai orang. Kadangkala hanya sebagai pemindah kegalauan, namun tak jarang pula yang bernas dan sublim. Belum lagi akses terhadap karya-karya sastra dunia yang begitu mudah.

Persoalannya adalah media-media kita tidak memberi ruang yang cukup untuk ‘suasana sastra’. Energi mereka terlalu terserap pada politik dengan segala manipulasinya. Kalau toh ada, mereka menempatkannya sebagai tempat peristirahat saja, dan itupun terus berkurang.

Maka yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan suasana itu. keberanian untuk keluar dari kotak rumah yang membuat saudara ‘tiri’ itu mampu berdiri sendiri, hidup sendiri. Karena anak tiri inilah yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada otak tempurung kita. Yang mengajarkan tentang hidup dan kebudayaan yang menjadi titik pijak peradaban.

Saya kira sudah saatnya kita memberikan warna baru pada geliat yang sudah terlalu dan selalu terkooptasi dengan politik. Kita butuh media yang khusus berbicara tentang sastra. Yang tidak hanya bermain-main dengan esai, cerpen, puisi. Tapi sastra dengan tiga aspeknya yang paling penting; manusia, alam dan tuhan.

Ketiga elemen itu laiknya ruh yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang yang mengerti akan hakikat dirinya, dan memahami sebagai kebudayaan sebagai penentu peradaban bangsanya.

Tentu kita tidak mau disindir oleh Subagio Sastrowordojo (1968) dalam bakat alam dan intelektualisme,” orang boleh tinggi tingkat kesardjanan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerdjaannja,  tetapi selama ia tidak punja minat ataupun peka kepada rangsang2 budaja, ia belum berhak dinamakan intelektuil.”


@DedikPriyanto

NB: esai di  NU Online kolom budaya


Sabtu, 02 Juni 2012

Tan Malaka: Rebut Kembali Kemerdekaan 100 %

wawancara imajiner dengan Tan Malaka
Oleh: Dedik Priyanto



Hati dan jiwa Datuk Ibrahim Tan Malaka  (114 tahun) tak pernah padam untuk Indonesia. Dalam pelariannya di hampir sepertiga dunia, ia masih terus menunjukan kecintaan kepada negara dan pengetahuan. Terlihat ia membawa sebuah buku dan pena.


Begitulah kegiatan sehari-hari lelaki yang dijuluki macan dari lembah Suliki ini. Mengapa ia terlihat gusar melihat kondisi saat ini? Sambil tertawa, sosok yang selalu berapi-api jika berbicara tentang nasionalisme itu bercerita tentang keadaan negara saat ini.


Bung, bagaimana anda melihat negara Indonesia?

Saya terenyuh dengan pertanyaan anda, Bung. Kenapa harus Indonesia. Bukankah kita belum merdeka. Di mana-mana masih saja merasa tertindas. Apa itu makna kemerdekaan.

Tapi bukankah Indonesia sudah 66 tahun merdeka?

Benar. Itu secara tertulis. Namun, bukan itu yang saya maksud. Kemerdekaan dapat terjadi tatkala kita mampu berdiri sendiri. Di atas kaki kita sendiri. Tidak ngikut ke asing. Dimana logikanya? Nah, itu tidak terjadi saat ini.

Termasuk juga soal kedaulatan NKRI?

Orang jaman sekarang itu harusnya berbahagia tidak mengalami pengejaran seperti yagn saya alami. Sipadan dan Ligitan sudah menjadi contoh nyata. Kadang saya berpikir, kenapa pemerintah sekarang ini begitu konsisten dalam kebodohan mereka? Apakah tidak berpikir bahwa untuk memperjuangkan dan menyejahterakan rakyat, tidaklah kepintaran saja. Bahkan nyawa harus siap dipertaruhkan.

Kasus kepulauan Camar Bulan menarik. Karena pemerintah menyatakan bahwa kita masih negara berdaulat. Bagaimana menurut bung sendiri?

Tidak ada bagaimana. Coba anda tengok lagi! Dalam segala sendi kita menjadi budak asing. Kita tidak bisa menggunakan apa yang seharusnya menjadi hak kita. Tanah ini milik kita. Tidak ada satu jengkal pun yang boleh diambil orang. Ini menjadi bukti landasan teoritik mereka dalam membangun mental bernegara tidak ada. Bahkan menjadi kecil di mata internasional. Kebanyakan hanya memaknai politik sebagai cara memperoleh kekuasaan, bukan kekuataan untuk memerangi ketertindasan dan ketidakadilan. 

Seperti yang anda tulis di Madilog dan Naar de Republic, bukan?

Bah, saya sudah menuliskan banyak hal kepada kau, anak muda. Termasuk dua itu. Coba tengok, bukankah negara ini sudah tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Kebudayaan sendiri. Banyak hal yang harusnya terjadi bagian dari kita. Benar. Kalau bung baca lagi. Maka akan menemukan bahwa kolonialisme telah berubah bentuk. Termasuk hegemoninya yang tidak lagi tertentu pada meterialisme semata. Untuk itu perlu ditelaah secara dialektik, dan menggunakan logika yang tidak semata rasional, melainkan harus teoritik. Karena lawan kita menggunakan tiga pisau itu untuk mencengkeram Indonesia.  

Lalu, sebagai generasi hari ini, apakah harus berdiam diri?

Itulah yang sering dikatan orang hari  ini, ia merasa inlander. Tidak. Harus berani bercakap dan tanggap. Banyak baca buku, sering berjalan untuk melihat realita, dan jangan lupa selalu berpikir kritis yang dialektis. Tujuannya cuma satu, rebut kembali kemerdekaan kita. Kemerdekaan 100 % milik, dan untuk rakyat. Tidak ada kata lain. Sudah terlalu lama rakyat menderita. Berikan darahmu untuk tanah air. Usir orang asing yang merusak negara ini. Revolusi, hanya itu.
            
Dilema Sang Revolusioner

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Jawa Timur, 21 Februari 1949. Seorang pemimpin pergerakan, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Jauh sebelum tokoh-tokoh yang lain membincang kemerdekaan, ia sudah menabuh genderang menyuarakan kemerdekaan, dan mempublikasikan pemikirannya yang membincang soal negara dan relasinya dengan kolonialisme. Madilog adalah bukunya yang paling terkenal, dan menjadi pegangan para aktivis gerakan pada masa itu. Namun, kematiannya begitu tragis, karena dibunuh oleh bangsanya sendiri di Kediri, dan misterius sampai sekarang.  


(2011)

Kamis, 24 Mei 2012

Syahrir, Si Ahli Diplomasi




Bung kecil, begitulah sosok itu biasa disapa. Namanya Sutan Syahrir. Beliau adalah lelaki yang yang cukup berpengaruh dalam pergerakan, dan memiliki peran sentral pada masa kemerdekaan.

Pendidikan mula lelaki berdarah Minang ini adalah mengenyam pengajaran di ELS (Europe Lagere School), yakni sekolah dagang milik orang kulit putih. Kemudian melanjutkan ke MULO di Medan, sekolah setingkat SMP. Di sana beliau sudah mengakrabkan diri  dengan pelbagai  buku-buku asing, khususnya dari Belanda. Mulai dari sejarah, sosial dan novel-novel.

Bandung, kota itu kemudian dipilih guna melanjutkan studi. Setelah tiga tahun di sana, beliau terpilih untuk melanjutkan pendidikan ke negeri Belanda, dan masuk ke Fakultas Hukum Universitas Amsterdam. Sempat juga kuliah di Leiden Universitie. Namun tidak selesai karena hobinya yang suka bergelut dengan organisasi luar. Di tempat itu pula beliau berteman dengan Bung Hatta, yang sedang membangun pergumulan indiscjhe partij (persatuan Indonesia).

Tak lama, dia kembali ke tanah air  pada penghujung tahun 1931. Laiknya burung yang baru keluar dari sarang, melihat realitas negara yagn ternyata tidak semaki membaik, hati lelaki asal Minangkabau ini gelisah. Masih sama, tidak ada perubahan pada masa penjajahan. Untuk itulah, ia bergabung dengan PNI yang dipimpin oleh Bung Karno, dan terpilih jadi ketua PNI pada kongres 1932, dalam usia yang relatif muda 32 tahun.

Maka, bersama para pejuang lainnya, mereka pun melakukan perlawanan yang tidak hanya pada level perjuangan fisik. Melainkan juga pada ranah intelektual, dan diplomasi yang mampu mengobarkan semangat anti imperialisme. Anti Belanda. Hingga organisasi ini dibubarkan karena dianggap mengganggu stabilitas nasional. Tapi, berkat kelihaiannya, ia mampu mendirikan PNI baru yang rebih radikal dari PNI yang lama.

Malang tak dapat ditolak, kekuasaan Belanda begitu kuatnya hingga ia pun ditangkap dan dijebloskan ke penjara, serta dibuang ke Boven Digul bersama Bung Hatta, dan dilepaskan tatkala Jepang masuk ke Indonesia.

Rekontekstualisasi kekinian

Sutan Syahrir merupakan seorang pribadi yang unggul yang pernah dimiliki ibu pertiwi. Baik dalam masalah intelejensia maupun kehidupan bersosial. Keberanianya yang tinggi patut kita jadikan sebagai acuan kita dalam bertindak. Hal itu dibuktikan oleh beliau dengan tindakanya yang cukup frontal dalam menghadapi Belanda dan Jepang. Tatkala para pemimpin nasional mau bekerjasama dengan pihak pendudukan, Syahrir tidak mau dan malah membuat gerakan bawah tanah. Karena menurutnya Jepang sama saja dengan pejajah yang lain,  sama-sama penjajah yang hanya menginginkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari bangsa Indonesia.

Beliaulah yang menghimpun para intelektual, mahasiswa, dan orang-orang yang pro-revolusi untuk membuat sebuah gerakan perlawanan pada saat pendudukan Jepang. Beliau menjadi seorang motivator ulung yang memberi semangat, serta mampu menyalakan api keberanian dalam diri para pemuda untuk tidak hanya tinggal diam dalam menghadapi para penjajah.

Saat masih menempuh pendidikan di Belanda, keberanianya itulah yang membawanya mengenal orang-orang “kiri dan sosialis”  dan menceburkan diri dengan orang-orang sosialis. Pengalaman-pengalaman itulah yang mengantarkan Syahrir menjadi seorang yang sangat disegani walaupun usianya relatif muda. Serta menjadi pemimpin kaum muda yang paling diperhitungkan Selain bung Karno dan Bung Hatta. Bahkan ketiga orang ini disebut sebagai tiga serangkai pengantar revolusi.

Ada sebuah kisah menarik saat Syahrir menjadi perwakilan Indonesia dalam PBB. Saat itu tangggal 14 Agustus 1947. Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Beliau berani berhadapan dengan para pemimipin negara-negara sedunia.

Beliau menjelaskan tentang negara Indonesia dulunya merupakan bangsa yang besar yang secara berabad-berabad telah hidup da nmempunyai kebudayaan yang tinggi, dengan beraneka ragam penduduk dan kekayaan alam yang melimpah, lantas semua itu dieksploitasi oleh para kolonial.  Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens.

Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.

Van Kleffens dianggap gagal membawa kepentingan Belanda dalam sidang Dewan Keamanan PBB. Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB menjadi duta besar Belanda di Turki.

Syahrir pun populer di kalangan para wartawan yang meliput sidang Dewan Keamanan PBB, terutama wartawan-wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi. Beberapa surat kabar menamakan Syahrir sebagai The Smiling Diplomat. Beliau juga orang yang tidak suka kekerasan. Ada satu cerita menarik perihal sikap konsekuen pribadi Syahrir yang anti-kekerasan. Di akhir Desember 1946, Perdana Menteri Syahrir dicegat dan ditodong pistol oleh serdadu NICA. Ketika di todongkan itu pistolnya tiba-tiba macet dan tidak bisa ditembakan, karena kesal, akhirnya gagang pistol tersebut dipukulkan ke wajahnya hingga mukanya memar dan lebam.

Berita itu kemudian tersebar lewat Radio Republik Indonesia (RRI). Mendengar itu, Syahrir dengan mata sembab membiru memberi peringatan keras agar siaran itu dihentikan, sebab bisa berdampak fatal dibunuhnya orang-orang Belanda di kamp-kamp tawanan oleh para pejuang republik, ketika tahu pemimpinnya dipukuli.

Salah satu sifatnya yang paling menonjol adalah sikap empati dan kepekaannya melihat keadaan sosial yang ada di masyarakat. Beliau menjadi orang yang sangat prihatin dengan keadaan rakyat yang terus terhimpit dalam kesusahan, kelaparan, kesejahteraan, dan kesulitan dalam akses penddikan. Pendirian sekolah Tjahja Volksuniversiteit (Cahaya Universitas Rakyat) untuk membantu para rakyat kecil, merupakan sebuah bukti yang nyata akan kepedulianya terhadap bangsa. Bahkan sekolah itu pun dibuat saat beliau masih sekolah, dan dengan uang hasil pementasanya dalam teater ketika masih di Belanda.

Kecintaanya akan ilmu pengetahuan sangat besar sekali, itulah yang mendorongnya untuk terus menerus dalam belajar, bahkan dengan kecerdasanya itu beliau dapat meneruskan pendidikan ke luar negeri. Tapi, beliau bukanlah seorang akademisi yang selalu bergulat dengan buku dan pelajaran dalam kuliah saja, lebih dari itu, beliau belajar dari kehidupan dari pergaulan dan organisasi. Walaupun seperti itu beliau bukanlah orang yang menyombongkan diri, hal itu terlihat dalam keseharinya yang sangat dekat dengan kaum kecil, itu juga merupakan penerapan dari asas sosialisme yang ia anut, yang selau mengayomi kaum proletar.

 Begitulah, Bung Kecil menjadi salah satu sosok yang percik pemikirannya masih terus diperbincangkan sampai saat ini. Maka, sudah sepatutnya, sosoknya tidak lagi menjadi perca maupun patung yang hanya dibaca, ditelaah. Melainkan harus diimplementasi dalam bentuknya yang kongkret. Yakni perjuangan dalam membela bangsa, serta kepekaan dalam menera realitas.


NB: saya menemukan tulisan ini tidak sengaja di  laptop kawan. Kira-kira 2008. Sengaja saya tidak ubah tulisan di atas, walaupun perspektif saya tentang Syahrir saat ini begitu berbeda dengan apa yang saya tulis.  Sembari mengupload ini, saya ketawa-ketiwi sendiri 

Kamis, 17 Mei 2012

Sastra, Addisatva, dan Sepotong Sajak Cinta


orang-orang Senjakala


Wajahnya biasa saja. Perawakannya biasa saja. Apalagi cakepnya, juga biasa saja. Praktis, dia adalah lelaki yang biasa saja. Mungkin yang membedakan adalah cara dia bertutur. Cak Nun, begitulah mereka menyebutnya, dan nama yang nyeleneh, dan cenderung senewen untuk ukuran orang-orang Ciputat: Kenyot Addisatva!

Laiknya Perburuan Sebilah Pisau yang ditulis Arief Mahmudi, sebuah cerpen yang dipuji-puji oleh lelaki yang biasa itu. Maka saya akan menyisir siapa lelaki biasa ini, dan patutkah ia ditulis sebagai yang biasa saja. Maka dengan biasa saja pula saya mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Kira-kira, ceritanya begini:

Ketika baru memasuki Ciputat, tatkala orang-orang memasuki dunia kampus dengan harapan besar, dan kata sukses menjadi harga mati. Maka adagium itu tidak ada dalam kamus hidupnya. Ia mengalirkannya seperti air yang turun dari langit melalui bedeng rumah.

Bukan. Ia tidak seperti motivator yang selalu yang selalu menghembuskan manis di telinga, maupun ustad teve yang tiap hari menyeru untuk menangis, mengiba kepada kehidupan.  Lelaki itu berlelaku seperti apa yang ingin ia cecap sendiri. Termasuk untuk ukuran kesuksesan.

Saya yakin dia lupa, bahwa saya pernah menanyakan perihal itu, disela melipat buletin Teh Hangat di Barkah. Enteng sekali dia menjawab, “Nanti juga sukses.”
Saya diam sembari sesekali melirik rambutnya yang ikal, tak terurus. Persis seperti para sastrawan yang berlicentia poetica. Jika anda bertanya siapakah tokoh mirip dengan lelaki biasa ini? Seketika itu pula saya akan menjawab; Chairil Anwar.

Bedanya, Chairil berperawakan kurus dan sesekali mempermainkan perempuan-perempuan. Sedangkan ia bertubuh agak tambun dan begitu mencintai kekasih yang dikenalnya sejak SMA. Sekali lagi, sejak lama. Sumpah, saya belum menemukan lelaki yang begitu setia seperti dirinya. Atau jangan-jangan sejak di peraduan ibunya, ia sudah mencintai kekasihnya?
***
Kebanyakan orang menulis karena banyak alasan. Bagi saya, menulis tidak hanya melulu tentang karya,  pertarungan ide, maupun aktualisasi. Jujur lebih dari itu, saya ingin mendapatkan sedikit tambahan untuk menyambung hidup. Dan kemampuan yang saya miliki adalah menulis di koran maupun majalah. Tapi, tidak dengan lelaki biasa itu.

Di tangan pencipta cerita Hari Ketujuh itu, tulisan ibarat anak, yang harus dengan sungguh dipelihara, dibina. Barangkali tidak pernah terlesat dari benaknya, terpatri dalam jemarinya, bahwa menulis adalah seperti saya,  yang kalau tidak menulis akan kebingungan untuk makan esok hari. Dialah yang akan memberi makan buat si anak, hingga tulisan itulah yang nanti akan meruap bersama tumbuh penciptanya.

Barangkali itupula yang melatarbelakanginya untuk meretas Sastra Merdeka, sebagai jalur estetis yang diusung Tongkrongan Sastra Senjakala. Komunitas yang ia dirikan bersama pemuda berbahaya Zakky Zulhazmi, sebagai reaksi mandegnya sastra di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.



Sastra baginya adalah ruang pembebas dan medium pembersih segala yang kotor. Sastra tidak harus berkubu pada satu pihak. Melainkan ia harus merayakan banyaknya kubu yang kian menaburkan diri di jagad. Bukan pula menjatuhkan, bahkan hegemoni seperti yang ada kebanyakan. Begitulah ia menamakan jalur estetisnya dengan nama Sastra Merdeka.

Itulah kemerdekaan bersastra yang diusungnya di tengah pluralitas kebangsaan, dan kesenian yang tidak menentu. Maka ia menempatkan diri sebagai pihak yang tidak berkelompok. Melainkan mengarahkan diri, merangkul pelbagai kubu yang acapkali saling bertikai dan berselisih.

Di situlah posisi mimbar terbuka menjumpai tempatnya di tangan lelaki biasa ini, dan menyatu sebagai bagian dari komunitas yang ia dirikan di kampus.

Suatu tempo, dengan Abraham Zakky, kita pernah pergi ke  tadarus Cak Nun, Kenduri Cinta di bilangan Taman Ismail Marzuki (TIM), dan barangkali dia sudah lupa bahwa saya diminta nyetir motor bergigi 2 milik temannya.

Bisa dibayangkan, saya yang sudah lama tidak membawa motor yang demikian, harus menyetir sekaligus membonceng lelaki biasa ini menuju tengah kota, Cikini, dan ternyata ia pun tidak bisa—dalam hal ini saya unggul daripada dia.

Setelah bersusah payah, rintangan menerjang, serta berkali-kali motor ngadat sampai jualah di tempat tujuan. Oh, saya baru ingat, kala itu lelaki biasa itu memakai kaos dan celana pendek untuk pergi ke sebuah pertemuan, atau lebih tepatnya pengajian. Baru kali ini saya menemukan orang dengan lelaku  aneh, bahkan cenderung destruktif jika menengok kacamata barat positivis.

Namun, lamat-lamat saya menemukan sisi perlawanan, dan keteguhan untuk menjadi diri sendiri. Tanpa tedeng apa dan siapa, si lelaki biasa itu nanti akan bertemu. Inipula yang jarang dimiliki oleh orang lain, yang cenderung mengiyakan perkataan yang bukan dari diri.

Singkat cerita, di sana ia duduk paling depan. Mendengar ceramah dari Cak Nun, dan beberapa pesaji yang siap bercerita tentang banyak hal yang tiada mungkin didapat pengajian, maupun majlis taklim yang ada di Jakarta, yang hanya bertutur pada ritualistik ibadah, dan metode berakhlak ria. Pengajian itu, sudah melampaui hal itu semua.

Saya memandang lelaki itu, tampaknya ia terus bergeming dan memanggut-manggut pada perkataan pesaji. Bahkan sampai dini hari ia tetap demikian, sembari sesekali menyeruput kopi, dan berpindah posisi duduk karena karpetnya agak basah bekas gerimis tadi sore. Hingga lamunan kami buyar karena dia mengajak pulang, dengan alasan motor mau dipakai.

Lelaki itu menulis apa yang ingin ia tulis.

Bukan pula tentang uang yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa perantauan. Pun anasir lain sebagai pemantik dalam menulis. Termasuk juga puisi, saya pernah menuliskan analisis tentang salah satu puisi dia tentang “Adhinanggar” yang saya juga dimuat di koran Solo Pos. Agak panjang pula saya meraba apa yang ingin disampaikan pada khalayak.



Pisau analisis saya pun masih rendah, karena bacaan saya masih sangat sedikit, kala itu.  Itu pun dimuat di Teh Hangat, dan ketika mendiskusikannya seperti biasa di Rabo Sore, ia hanya berlirih sinis,”Terserah itu tafsir. Sah,”ringkasnya,”tapi sebenarnya salah.”

Sontak, hal demikian membuat saya agak ciut kepada lelaki asal Wonosobo ini, bahwa apresiasi saya tidaklah berarti dalam menyusup terhadap anaknya. Hal ini, semakin menguatkan saya bahwa anaknya yang berupa puii adalah apa yang ia pikirkan, dan tetap dibebaskan seperti halnya seorang dewasa yang mencoba melindungi anaknya yang imut dari dunia luar.

Kita bisa berdebat soal definisi, tapi sastra yang ia percayai inilah  yang menjadikannya orang yang sangat berbeda, karena dengan ini juga ia mampu menelisik hal substansial dalam hidup. Termasuk juga dalam menera bangku kuliah. Kebanyakan menilai, menjadi aktivis akan kuliah lama, dan bertahan lama dalam menyoal sistem yang tidak berpihak bagi mahasiswa yang aktif di luar lingkar kampus.

Pisau itu tidaklah berlaku bagi lelaki biasa itu. Toh, ia mampu lulus dengan sempurna. Tepat empat tahun, toga yang dihargai Rp. 40.0000/kepala oleh Rektor itu akhirnya mampu ia kenakan. Kontras dengan banyak orang yang ada di sana, bahwa tatkala banyak orang yang menilai kampus UIN sangat mendiskreditkan mahasiswa yang di luar bendera mereka, ia mampu menjadi contoh yang agaknya cukup baik dalam hal akademik. Dan sayangnya, saya sendiri tidak bisa menghadiri acara sakral itu, dan hanya mampu melagukan Iwan Fals, Sarjana Muda.

Begitu halnya dengan keikhlasannya dalam membiayai segala publikasi senjakala. Hingga mampu menjadi satu-satunya media di kampus Ciputat yang masih eksis yang, semoga sampai detik kini, dan esok. Maka, jika saya ditanya orang tentang siapa orang yang paling bertanggung jawab atas perkembangan sastra alternatif dan independen di UIN Ciputat saat ini, maka jawaban saya adalah dua orang; Zakky Zulhazmi dan lelaki biasa itu, Kenyot Addisatva.

Ternyata lelaki biasa itu memang seorang yang biasa saja. Yang biasa saja dalam memengaruhi kehidupan sastra di Ciputat menjadi semarak. Bahkan mampu hidup, dan memunculkan banyak pegiat baru akibat ulah Senjakala yang terus mengeluarkan publikasi tiap bulan. Mungkin kuping merah panas, bahkan dengan bantuan dana dari rektorat pun mereka tidak mampu menyemarakkan kampus yang mulai hedonistis, katanya.

Maka, ia tetaplah lelaki biasa, yang mampu menginspirasi banyak orang dengan sepotong sajak cinta yang disimbolkan dengan hadirnya Tongkrongan Sastra Senjakala di kampus, yang katanya, pembaharu dan peletak dasar filosofis perjuangan sastra merdeka yang tidak hegemonik. Bahkan cenderung apresiatif, adaptif, dan kritis terhdapa apapun.

Saya mendengar lelaki biasa itu menikah. Berarti, lelaki biasa itu juga telah menyeleksi dirinya sendiri untuk tetap di jalur kehidupan. Bahwa ia pernah menukil perkataan Rendra, ‘dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata’.

Benar. Ia membuktikan kelakar di sebuah diskusi hari Rebo.

”Selepas lulus, aku nikah!”

Mungkin juga ia lupa apa yang dikatakannya itu.

Barangkali ini hanyalah kado kecil, dari seorang sahabat, yang mungkin tidak dimasukkannya dalam daftar pertemanan di buku kecil yang ia miliki. Tentu, karena lelaki biasa itu memiliki banyak teman luar biasa di luar sana, dan karena lelaki itu hanyalah biasa saja.



Dan saya begitu merindukan lelaki ini menulis lagi seduhan penutup yang menemani kami berbincang saat senja tiba.


Jakarta, 2011

Rabu, 16 Mei 2012

Menguak Dosa Nurdin Halid



Judul              : Dosa-Dosa Nurdin Halid
Penulis           : Erwiyantoro
Tahun            : I, Februari 2011
Penerbit         : Galang Press, Jogjakarta.
Tebal             : 274 Halaman





Kisruh persepakbolaan nasional begitu menyita banyak perhatian. Tidak hanya para praktisi, rakyat jelata pun tak luput membicarakannya. Sosok yang acapkali dianggap sebagai otak keruwetan itu adalah Nurdin Halid. Lalu, mengapa ia begitu dibenci khalayak?

Pada titik ini, buku yang bertajuk “Dosa-Dosa Nurdin Halid” agaknya menjadi jawaban di tengah memanasnya konflik, serta pelbagai perang tafsir atas statuta FIFA antara pemerintah di satu sisi, dan PSSI di sudut yang lain.  Pun ditulis oleh seorang jurnalis senior, Erwiyantoro, yang telah malang melintang  hampir 40 tahun di jagad sepakbola tanah air, dan menjadi saksi sejarah perjalanan PSSI dari masa lampau sampai detik sekarang.

Maka berawal dari catatan dan obrolan imajiner di situs jejaring sosial. Mas toro, begitu ia kerap disapa, menghadirkan narasi dengan fakta yang cukup menggelitik. Juga seakan menjadi bukti paling sahih kedigdayaan Nurdin  dalam jagad persepakbolaan nasional. Salah satu realita yang tak terbantahkan  adalah kemampuan dia menyetir organisasi di balik jeruji besi. Bahkan, dalam sejarah dunia, hal demikian cuma ada di negeri ini, Indonesia.

Induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) sudah memberi peringatan  keras. Bahkan mewanti-wanti akan memberi sanksi tegas jika teguran itu diindahkan. Namun, semua terpental. Menurut penulis buku ini, kepiawaian Nurdin ada pada kekuatan lobi dan ramuan jejaring yang dimiliki. Hingga sanggup membungkam pelbagai kontroversi dan polemik yang menginginkan beliau lengser dari tampuk kepemimpinan yang sudah digenggamnya selama delapan tahun.

Lelaki yang juga seorang pebisnis itu dianggap telah mencampuradukkan antara kepentingan politik dan sepabola demi keuntungan, dan hasrat pribadi. Di dunia persepakbolaan modern, kedua hal tersebut harus dihindari. Bahkan FIFA secara tegas melarang adanya politisasi dan intervensi dalam bentuk apapun. Termasuk juga penyalahgunaan hak interogatif.

Di sinilah salah satu titik pijak kesalahannya. Sebagai ketua, ia kerapkali mengintervensi keputusan Komisi Disiplin (Komdis) guna melegalkan posisinya sebagai pemangku kebijakan. Termasuk mengelabui FIFA pada Munaslub Makassar pada tahun 2008. Buntutnya, ia terpiilih kembali  secara aklamasi. Tanpa ada pemungutan suara yang jelas dan transparan laiknya sistem demokratisasi yang ada pada tiap organisasi.

Begitu juga soal keuangan. PSSI dianggap sebagai salah satu lumbung tambun untuk korupsi. Tidak adanya kejelasan soal pendanaan di tubuh organisasi,  menyebabkan opini publik semakin tidak percaya. Bahkan merasa pesimistis persepakbolaan Indonesia bisa menjadi mandiri dan professional jika pengurusnya masih orang yang sama.

Puncaknya adalah pada jebloknya prestasi tim nasional. Hampir tidak ada yang bisa dibanggakan selama periode kepemimpinan dia. Tim nasional kita seakan hanya mampu menjadi penonton pada tiap pesta sepakbola dunia.  Padahal, negeri tetangga semacam Malaysia dan Singapura sudah mempu merengkuh juara AFF. Sedangkan kita, harus cukup puas melanggengkan tradisi sebagai runner up kejuaran tingkat Asia Tenggara tersebut.

Meskipun ada, itupun hanya sebatas Piala Kemerdekaan yang  kontroversial. Karena demi gelar, pengurus PSSI disinyalir telah melakukan kecurangan. Hingga membuat tim lawan mogok bertanding, dan memudahkan merengkuh juara tanpa mengeluarkan setetes pun keringat. Namun, semua itu seolah belum mampu untuk menggulingkan Nurdin dari kursi panas senayan.

Sebagai seorang jurnalis, tentu penulisnya punya pandangan yang cukup objektif melihat permasalahan yang menjangkiti PSSI. Di buku ini, pembaca seakan diajak untuk berkaca dalam pemetaan konflik yang tengah terjadi. Bukan serampangan dengan menyudutkan satu pihak bersalah atas yang lain. Walau kovernya sendiri sangat menantang untuk dibaca.


NB: resensi ini pernah dimuat di KoJak dg judul Menguak Kedigdayaan Nurdin, sekadar pengingat tulisan. sayang saya tidak sempat mengkliping koran tersebut. link gambar--> https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiyM7Kzyr6pzZP883untBkEeL53YjZESLqrRVIcWKPT_eB8dXCVDBJpqCrRg6lGX_I2TvwgLudOWl8LCWhDgzQ7By1KvKZXBmSoXF61voOHuoADv2brOqgja3dHw_89km6yOmCCkZF2e8Qb/s1600/Buku-Dosa-Nurdin-Halid.jpg