Tendang, Terjang, Hadang

Kamis, 04 April 2013

Mimpi Sore Ini

 (Apakah kamu pernah bermimpi? gambar diambil di sini)
Semua orang terbiasa tidur dan bermimpi. Bedanya, biasanya mimpi mereka terjadi pada malam hari. Sedangkan saya, harus bermimpi kala sore tiba dan mimpi saya kali ini berbeda.

Di mimpi saya sore ini, lamat-lamat saya melihat sosok beberapa sastrawan dan penyair yang menghampiri.  Agak buram memang, tapi saya secara jelas saya menyaksikan Rendra berada di balik pintu. Ia berdiri dengan baju cokelat.

Rambutnya masih gondrong. Lingkar wajah yang masih serupa. Hidung yang jambu mete yang masih sama dan kerutan di sekitar kening yang tetap saja tak berubah.

Ia enggan menemui saya yang berada di dalam ruangan-entah itu ruangan apa saya juga tidak tahu. Atau barangkali bukan sebuah ruangan.

Berbeda dengan pengarang lain. Saya masih ingat, saya bersalaman dengan Sutardji. Rambut panjangnya digulung ke belakang dan topi berwarna buram. Presiden penyair itu memakai jaket dan tersenyum kepada saya.

Juga ada Seno Gumira Ajidama, bahkan kita sempat beberapa kali berbincang. Ia masih sama, setelan baju hitam, anting yang menempel di dua telinga dan rambut yang gondrong serta memutih. Entah apa juga yang diperlihatkan.

Saya berusaha untuk keluar ruangan, berusaha untuk menemui Rendra. Saya sempat meliriknya sebentar dan dia tersenyum. Tapi tampaknya ia tidak mau bersama saya yang waktu itu sedang bersama kerumunan.

Saya merasa langit saat itu cerah. Ada kopi dan beberapa gorengan. Lalu saya coba ingin mendekati dia.....

(saya tiba-tiba terbangun)

Saya mendengar azan isya’ berkumandang, langit tampak murung. Kemungkinan sebentar lagi hujan.

Tadi siang saya sedang membaca buku Kontrovesi Hadiah Magsaysay (1996) perihal polemik di media massa yang mencatut nama Pram dan beberapa jurnalis dan sastrawan. Khususnya mereka yang terlibat dalam prahara budaya antara Lekra dan Manikebu.

Tapi saya dengan posisi Rendra, ia tidak langsung menyalahkan pihak eks manikebu yang mendiskreditkan Pram perihal Magsaysay award yang diberikan kepadanya.

Menurut Rendra, mereka akan serupa dengan apa yang dilakukan Pram dan itu tidak baik bagi lokus kebudayaan kita. Tapi ia juga mengritik agar tidak jumawa dan melupakan masa ia berkuasa bersama Lentera. Biar generasi kita tidak satu arah saja, menurutnya.

Ah, apakah mimpi saya ini berkaitan dengan bacaan barusan? Ah.. sudahlah, saya ingin mandi saja.

@DedikPriyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar